Sedang Membaca
Menjadi Seorang Nahdliyyah
Penulis Kolom

Dosen Pascasarjana Konsentrasi Ilmu Tafsir Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur'an (Institut PTIQ) Jakarta. Aktif sebagai narasumber di berbagai kajian keislaman dan perempuan.

Menjadi Seorang Nahdliyyah

Autad

“Bu, kok rumahnya gak ada tanda-tanda NU? “, tanya seorang mahasiswa saat berkunjung ke rumah. “Kalender, hiasan dinding, atau apa gitu,” lanjutnya. Mataku spontan menyapu seluruh pemandangan yang terjangkau dari ruang tamu. “Ah siapa bilang. Tuh dindingnya sudah ijo,” ngeles deh kayak supir bajaj!

Aku lahir di keluarga NU, entah generasi ke berapa. Emakku NU bahkan pernah jadi ketua Muslimat di kampung. Bapakku juga tapi sepertinya tidak pernah masuk struktur. Menurut cerita, beliau bahkan pernah “dikurung” gara-gara menjadi Kiai kampung yang NU pada suatu masa. Side (mbah) kakung dan putri dari keduanya NU. Buyut kami juga.

Konon kelahiran seorang bayi manusia tidaklah hanya kelahiran anak kandung biologis, tapi juga anak kandung ideologis. Jadi, menjadi Nahdliyyah adalah gawan lahir.

Gak cuma numpang lahir, TK-ku juga Raudlatul Athfal (RA), SD-ku SD Salafiyah Randudongkal. Sorenya Sekolah Diniyah di tempat yang sama. Kami menyebutnya Sekolah Arab. Mungkin karena hanya mempelajari ilmu2 keislaman yang rata-rata sumbernya berasal dari literatur berbahasa Arab. Ustadz/ustadzahnya santri2 alumni dari berbagai pondok pesantren.

MTs dan MA-ku di Madrasah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Seblak Jombang yang didirikan oleh mbahnyai Hajjah Khoiriyah Hasyim. Beliau adalah putri mbahyai haji Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Saat kuliah di IAIN Yogya, mondok lagi di Yayasan Ali Ma’shum Krapyak.

Baca juga:  Tersesat dalam Agama

Pertanyaan mahasiswa di atas cukup menarik untuk kurenungkan karena jebul rumah kami memang tidak hanya ga ada tanda-tanda NU tapi juga minim tanda-tanda Islam! Waddduh….. Piye iki? tapi opo aku bukan Muslimah dan Nahdliyyah yg baik?

Mungkin terdengar ngeles lagi ya! Tapi Insya Allah terus berusaha menjadi yg terbaik sebab menjadi Muslimah dan Nahdliyyah yang baik adalah sebuah proses terus menerus sepanjang hidup. Caranya dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dan NU yang sama-sama menghendaki agar hidup bisa manfaat pd sesama makhluk sbg bukti komitmen Tauhid pd sang Khalik.

Simbol-simbol apapun jelas penting ya, sebab ia bisa mengingatkan kita atas substansi yang ada di baliknya. Tapi sepenting-pentingnya simbol, dia tidak akan dan tidak boleh mengalahkan pentingnya substansi yang disimbolkannya.

Simbol-simbol keislaman jelas penting. Tujuannya sebagai pengingat (reminder) bahwa hidup sebagai Muslim, apapun apapunnya, mesti ikhtiyar maksimal agar bisa menjadi rahmat bagi semesta (rahmatan lil alamin) termasuk bagi perempuan, dan berakhlak mulia (makarimal akhlak), termasuk akhlak pada perempuan!

Simbol-simbol ke-NU-an jelas penting juga. Tujuannya untuk mengingatkan bahwa kerahmatan semesta dan kemuliaan akhlak itu antara lain hanya bisa dibuktikan dg trilogi ukhuwah sekaligus, yaitu:

  1. Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim) yang tidak bertentangan dengan Maqashidusy Syari’ah.
  2. Ukhuwah Wathoniyah (persaudaraan sebagai sesama bangsa Indonesia) yang tidak bertentangan dengan konstitusi negara,
  3. Ukhuwah Insaniyah/Basyariyah (persaudaraan sesama manusia) yang tidak bertentangan dengan prinsip dan nilai dasar HAM termasuk HAM Perempuan!
Baca juga:  Apa Pendidikan Kita Makin Rapuh?

Simbol ke-NU-an sebagaimana simbol-simbol keislaman lainnya punya sisi lain yang mesti diwaspadai. Ia bisa menyatukan orang-orang dengan identitas yang sama, tapi juga sekaligus menegasikan orang-orang dengan identitas yang berbeda.

Semoga identitas dan simbol keislaman dan ke-NU-an yang kita punya/pakai bisa memudahkan kita dalam berpegang teguh pd misi kerahmatan semesta dan kemuliaan akhlak manusia, dan kita terhindar dari jebakan untuk hanya mau maslahat secara eksklusif pada mereka yang beridentitas sama, apalagi untuk menjadi pembenaran atas sikap mafsadat pada pihak atau kelompok yang berbeda.

Semogaaaaa jugaaaa pakai simbol atau tidak, kita tetap bisa ikhtiyar maksimal untuk menjadi Muslim/Muslimah dan Nahdliyyin/Nahdliyyah yang berakhlak mulia pada siapapun, kapanpun, di manapun, dan sebagai apapun. Aamin yra.

Btw, sudah lama ingin majang kaligrafi surat at-Taubah ayat 71 tapi yg bernuansa feminin, kayak lukisan Norhayati Kaprawi. Sayangnya dia sedang super sibok! Iso mesen nang ndi yo gais?

Selamat Ultah NU yang ke 95! Semoga terus menjadi penjaga NKRI sebab cinta tanah air dengan menjaganya dari aneka kerusakan dan konflik adalah salah satu pembuktian iman pada Allah Swt. Hubbul Wathan minal Iman!

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top