Siswa MANPK MAN 4 Jombang, Santri Asrama Hasbullah Sa'id PP. Mambaul Ma'arif Denanyar, dan Pegiat di Komunitas Pena PeKa Denanyar.

Mengenal Kitab Pesantren (31): Durratun Nasihin dan Kontroversi di Balik Kepopulerannya

4b3ed4944b30c0d8c784329ca118ebb1

Penyampaian dakwah Islam tidak hanya melulu menggunakan keilmuan-keilmuan yang padat. Lebih dari itu, masyarakat juga memerlukan pencerahan berupa hal-hal yang bersifat lentur. Dengan kisah-kisah teladan misalnya. Bagi beberapa ulama, kisah-kisah teladan adalah salah satu kunci kesuksesan dakwah mereka di tanah Jawa.

Sama halnya dengan masyarakat pada permulaan masuknya Islam di Jawa, di lingkungan hidup sosok ulama yang tidak banyak menjelaskan biografi tentangnya ini memiliki ciri khas yang serupa; menyukai kisah-kisah. Sayangnya, kisah-kisah yang mereka terima banyak berseberangan dengan syariat. Padahal mayoritas dari mereka adalah seorang muslim.

Dari situlah, Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khubawi memiliki inisiatif untuk mengumpulkan kisah-kisah berbau rohani dalam rangka memberikan media bagi masyarakat sekitarnya, secara khusus dan masyarakat luas secara umum untuk lebih condong kepada ajaran islam. Syekh Usman sendiri adalah seorang ulama abad 18 asal Konstantinopel (sekarang Kota Istanbul), Turki. Beliau wafat tahun 1224 H, tidak lama setelah mengarang kitab yang akan penulis bahas; Durratun Nasihin fi Al-Wa’dz wa Al-Irsyad (Mutiara Para Penasihat: Nasihat dan Petunjuk).

Kitab Durratun Nasihin terdiri atas 75 pasal yang memuat kisah-kisah akan keutamaan suatu amal dan penjelasan berbagai hal dalam agama islam, seperti tentang keutamaan puasa, ilmu, sahabat, keutamaan bulan rajab, syaban, ramadan, penjelasan tentang hari kiamat, surga, neraka, dan lain sebagainya.

Baca juga:  Perpustakaan Pribadi Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari

Pada setiap pasal, pengarang memberikan sedikit ayat terkait pasal yang akan dibahas dari suatu surat dalam Kitab Anwar At-Tanzir wa Asrar at-Ta’wil atau masyhur bernama Tafsir Baidhawi (karya  Al-Imam al-Qadhi al-Mufassir Nashiruddin Abu Sa`id Abu al-Khair Abdullah bin Abi al-Qasim Umar bin Muhammad bin Abi al-Hasan Ali al-Baidlawi asy-Syirazi asy-Syafi`i. Lahir di al-Baidha’, Persia pada awal abad ke-7 H, wafat di Tabriz, Iran pada tahun 685 H/1292 M).

Selanjutnya, pangarang memaparkan hadis, atsar, ataupun qaul ulama yang isinya terkait dengan pasal yang akan dibahas. Dalam pemaparannya ini, pengarang menukil dari beberapa kitab, seperti Bidayat Al-Hidayah, Tanbit Al-Ghafilin, Daqaiq Al-Akhbar, juga beberapa kitab tafsir; Tafsir Al-Khazin, Tafsir Ma’alimut At-Tanzil (Tafsir Al-Baghawi), Tafsir Ruh Al-Bayan, Tafsir An-Nasafi, dan kitab lainnya.

Dari sini, penulis menyimpulkan bahwa kebanyakan dari isi Kitab Durratun Nasihin merupakan penukilan, bukan penjelasan dari pengarang itu sendiri. Namun, menurut penulis, justru banyaknya penukilan inilah yang menjadi kelebihan dari kitab Durratun Nasihin. Sepintas kitab ini kaya akan sumber refrensi pembahasan. Kelebihan lainnya adalah, dalam setiap pasalnya, pengarang hanya berkonsentrasi pada suatu ayat sekaligus tafsirannya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Adapun kekurangan dari kitab ini adalah tidak adanya komentar akan satu hadis, sanad hadis, dan penyebutan rowi ataupun derajat hadis yang dinukil, apakah sahih, hasan, atau daif. Bahkan salah seorang Doktor alumnus Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Malaysia Fakultas Pengajian Islam bidang studi ilmu hadis, Dr. Ahmad Lutfi Fathullah, MA. menjadikan Kitab Durratun Nasihin sebagai objek dalam disertasinya yang berjudul “Kajian Hadis Kitab Durratun Nasihin”. Dalam penelitiannya itu, beliau menyimpulkan bahwa 30% dari total 389 hadis yang ada dalam Kitab Durrot An-Nasihin adalah hadis maudhu’ atau palsu. Sedangkan sisanya diperinci, ada yang sahih, hasan, dan daif.

Baca juga:  Sabilus Salikin (102): Tata Cara Zikir Tarekat Histiyah (4)

Memang dari segi keahlian, pengarang Kitab Durratun Nasihin ini bukanlah seorang muhadis (ahli hadis) atau mufasir (ahli tafsir), melainkan wa’idz (pemberi nasihat). Wajarlah, jika beliau tidak sampai menelisik lebih jauh terkait kualitas hadis-hadis yang dinukilnya. Konsentrasi beliau dalam mengarang hanyalah redaksi yang mengandung nasihat.

Di samping melalui disertasi, lebih lanjut lagi, Dr. Lutfi juga membuat satu buku yang mengkritisi tentang Kitab Durratun Nasihin ini, berjudul Hadis-hadis Lemah & Palsu Dalam Kitab Durrotun Nasihin (Keutamaan Bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan) (2018).

Adapun contoh hadis maudu’ dalam Kitab Durratun Nasihin adalah pada pasal keutamaan Bulan Ramadan, hadis tentang keutamaan 30 hari dalam Bulan Ramadan dan pada pasal keutamaan Bulan Rajab, hadis tentang Rasul saat Mikraj melihat sungai yang lebih manis daripada madu, lebih segar daripada es, dan lebih harum daripada minyak wangi yang diperuntukkan untuk orang yang berselawat kepada Rasul di Bulan Rajab

Menurut penulis, terlepas dari hadis-hadis maudhu’ yang ada, kitab ini tidaklah membahas terkait pokok-pokok akidah dan sumber hukum halal-haram. Melainkan sekedar upaya pembuat ‘hadis’ untuk memotivasi, menasihati, ataupun anjuran kebaikan kepada masyarakat.

Hanya saja, kita harus berpendirian tegas bahwa sekalipun suatu redaksi berisikan tentang kebaikan, namun bukan termasuk hadis, sekalipun daif, tidak sepatutnya redaksi tersebut disandarkan kepada Nabi. Karena jika dibandingkan, hadis daif secara konsensus ulama memperbolehkannya untuk dijadikan fadhail a’mal (amalan) bahkan bisa menjadi hadis hasan lighairih jika terdapat hadis semakna yang menguatkan. Sedangkan hadis maudhu’ tidaklah diakui sebagai hadis.

Baca juga:  Menelusuri Karya Ulama Nusantara di Perpustakaan IRCICA Istanbul

Tentu kenyataan ini menimbulkan simpang siur akan penyebaran isi dalam Kitab Durratun Nasihin ini. Mengingat hadis palsu sangatlah tidak dibenarkan dalam agama islam. Namun, kenyataan lainnya terjadi akan populernya kitab ini di kalangan akademisi, pesantren khususnya. Tidak hanya di Indonesia, kitab ini juga cukup kondang di Turki, Malaysia, Lebanon, dan India.

Secara umum, judul Kitab Durratun Nasihin; Al-Wa’dz wa Al-Irsyad (nasihat dan petunjuk) telah mempresentasikan kandungannya. Catatan dari penulis, hendaknya pembaca lebih berhati-hati dalam menyampaikan isi kitab ini mengingat tidak semua hadisnya belum tentu dapat diamalkan secara keseluruhan.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top