Sedang Membaca
Peristiwa Zunburiyah dan Fleksibelnya Mazhab Kufah
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Peristiwa Zunburiyah dan Fleksibelnya Mazhab Kufah

Mukhammad Lutfi

Disadari atau tidak, Islam menjadi faktor penyemangat lahirnya berbagai disiplin ilmu-ilmu Arab-Islam. Kesadaran untuk mentaati aturan-aturan (hukum) mendorong para ulama untuk merumuskan fikih dan kodifikasi Hadis. Dari situ kemudian perlahan muncul berbagai kitab fikih, mazhab-mazhabnya serta prinsip perumusannya (usul fiqh) dan ilmu mustalah al-hadis.

Demikian pula perhatian akan Alquran telah mendorong para ulama untuk merumuskan berbagai cakrawala pengetahuan terkait dengan Alquran, mulai dari ilmu bacaannya (ilm al-qira’ah) hingga tafsir-tafsirnya dan lain-lainnya, sehingga bermunculanlah berbagai buku ihwal kajian Alquran.

Begitu pula lahirnya ilmu kalam, tasawuf, sastra  dan pusparagam keilmuan Islam yang lain seolah menunjukkan bahwa kala itu Islam begitu dinamis dan minim sekali dari kejumudan. Penulis tidak sedang menyoal kejumudan Islam kiwari ini, namun akan sedikit menceritakan ihwal ilmu bahasa (nahwu) dan sentimen ulama nahwu kala itu.

Nahwu lahir dan berkembang di Basrah, kemudian meluas hingga ke Kufah, Baghdad, Mesir hingga Andalusia (Spanyol), yang mana kota-kota tadi selanjutnya menjadi ikon mazhab-mazhab nahwu yang kita kenal hingga masa kini.

Bermula dari mazhab-mazhab nahwu di atas, jamak kita ketahui bahwa mazhab Basrah dan Kufah memiliki sentimen tajam sehingga melahirkan teori-teori dan metode-metodenya sendiri. Tak ayal persaingan di antara kedua mazhab tersebut saling ingin menjatuhkan dan menunjukkan kehebatan teori masing-masing.

Contoh konkrit dan paling populer yang menggambarkan sentimen kala itu adalah perselisihan antara Sibawaih (w.180 H) tokoh utama mazhab Basrah, dengan al-Kisa’i (w.189 H) tokoh utama mazhab Kufah. Peristiwa perselisihan antara kedua tokoh mazhab nahwu tersebut dikenal dengan peristiwa “zunburiyah”, oleh karena terkait dengan struktur kalimat yang di dalamnya terdapat kata “zunbur”. Kira-kira kisahnya begini;

Suatu hari, Khalifah Yahya bin Khalid al-Barmaki mempertemukan Sibawaih dan al-Kisa’i dalam sebuah forum ilmiah di istana. Hingga tiba pada satu kesempatan al-Kisa’i mengajukan pertanyaan kepada Sibawaih “Menurut Anda, mana susunan kalimat berikut ini yang tepat,

   قَدْ كُنْتُ أظنُّ العقربَ أشدَّ لسعةً من الزنبور، فإذا هو “هي”، أو فإذا هو “إياها”  

“dulu saya mengira bahwa sengatan kalajengking lebih tajam dari pada sengatan zunbur, tetapi ternyata sengatan zunbur yang lebih tajam”

Sebagai catatan, dalam Al-Munjid (Louis Ma’luf, 1975), zunbur merupakan nama seekor binatang kecil dan bersayap, memiliki sengatan yang sangat menyakitkan.

Fokus pertanyan al-Kisa’i adalah pada opsi kata “هي” (keadaan rafa’) atau  “إياها”(keadaan nasab). Mendengar pertanyaan tersebut, lantas Sibawaih menjawab, “Menurut saya, yang paling tepat ialah فإذا هو هي, yakni merafa’kan kata setelah kata ganti (damir) yang pertama, dan tidak boleh menasabkannya.”

Mendengarkan penjabaran Sibawaih, al-Kisa’i lantas menyalahkannya seraya mengatakan “لَحَنْتَ!” (Anda salah!). Sekedar informasi, sebenarnya orang Arab biasa mengucapkan keduanya (rafa’ dan nasab). Mendengar perdebatan antara kedua nuhat tersebut, lantas khalifah al-Barmaki berusaha menengahi dengan berkata, “Kalian berdua adalah tokoh di kota kalian, kalau begitu siapa yang menjadi penilai di antara kalian berdua?”

Al-Kisa’i lantas menjawab, “Wahai khalifah, di depan sana banyak orang Arab, banyak di antara mereka yang mengerti bahasa kedua kota (Basrah dan Kufah), biarkan mereka yang menjadi penilai.” Tanpa terduga, ternyata mayoritas orang Arab dalam forum itu lebih menyetujui pendapat al-Kisa’i, yaitu pada opsi kata “إياها”(keadaan nasab). 

Sibawaih lantas terdiam dan merasa dipermalukan. Dalam catatan al-Mukrim, konon, peristiwa “zunburiyah” inilah yang menyebabkan kematian Sibawaih karena hati dan jiwanya sangat terpukul (al-Mukrim, 1978:139). Penulis heran, kenapa Sibawaih sebaper itu. Padahal jika ditelusuri di dalam Alquran banyak sekali ayat yang bisa dijadikan argumen Sibawaih untuk memperkuat pandangannya.

Baca Juga

Misalnya saja ayat-ayat berikut;

فَإذَا هِيَ بَيْضَاءُ (الأعراف: 108)، فَإذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (طه:20)، فَإذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبصَارُ الَّذِيْنَ كَفَرُوا (الأنبياء: 108).

Pertanyaannya, mengapa justru al-Kisa’i yang mendapat mayoritas dukungan para peserta dalam forum tersebut? Usut punya usut perbedaan dua nuhat ini merepresentasikan perbedaan episteme nahwu mazhab Basrah dan Kufah. Pertama, terkait sumber bahasa acuan mazhab Basrah hanya mengacu pada bahasa suku-suku yang masih asli dan belum terkontaminasi oleh bahasa asing seperti suku Qais, Tamim, Asad, Quraisy dan sebagian suku Kinan dan Tha’i.

Sementara itu mazhab Kufah mengakomodir suku yang masih tinggal di pedalaman (asli bahasanya) maupun yang sudah ditinggal di perkotaan, kelompok maupun individu sebagai sumber bahasa acuan.

Kedua, terkait dengan analogi atau qiyas, menurut mazhab Basrah hanya bahasa yang benar-benar digunakan sehari-hari atau sering digunakan oleh orang Arab yang boleh menjadi acuan analogi. Sedangkan mazhab Kufah terkait analogi mereka juga mengakomodir prosa maupun puisi kaum pedesaan dan perkotaan, tidak saja berhenti pada bahasa sehari-hari saja sebagaimana mazhab Basrah.   

Sampai disini menjadi jelas, bahwa mazhab Kufah lebih fleksibel, lentur dalam mengadopsi bahasa-bahasa kelompok maupun individu sebagai acuan teori mereka. Sementara mazhab Basrah tidak begitu lentur atau tidak sefleksibel mazhab Kufah.

Peristiwa “zunburiyah” tadi menjadi salah satu bukti fleksibilitas dan ketoleranan mazhab Kufah ketika mengambil acuan sumber bahasa. Tidak sebatas suku-suku yang dianggap memiliki keaslian dan kefasihan, atau bahasa-bahasa yang memiliki level kefasihan tertinggi seperti bahasa Alquran. Sekian.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top