Sedang Membaca
Inilah Ajaran Nabi Muhammad Saw agar Kita Kuat Menghadapi Krisis
Muhammad Syamsudin
Penulis Kolom

Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center, PWNU Jawa Timur

Inilah Ajaran Nabi Muhammad Saw agar Kita Kuat Menghadapi Krisis

Ada sebuah maqalah yang kadang sering dinisbatkan kepada Sayidina Umar radliyallahu ‘anhu. Meski maqalah ini tidak shahih di dalam kedudukannya, akan tetapi cukup relevan untuk menghadapi kondisi krisis di masa Pandemi Covid-19 ini. Maqalah itu, adalah: 

اخشوشنوا فإن النعم لا تدوم

“Prihatinlah! Karena sesungguhnya nikmat itu tiada yang bersifat kekal.” 

Menikmati anugerah yang telah diberikan oleh Allah Swt berupa kenikmatan duniawi memang merupakan hal yang diperbolehkan oleh syara’. Akan tetapi, meninggalkan bersenang-senang dengannya, semata karena niat tawaduk kepada Allah Swt dan zuhud di dunia, serta niat meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pastilah hal semacam ini akan beroleh pahala, apalagi di tengah kondisi ekonomi bangsa yang tidak menentu seperti sekarang ini, saat banyak saudara kita yang tengah kesusahan mendapatkan sumber mata pencaharian bagi kehidupannya. 

Banyak dari mereka yang tengah mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau setidaknya terhambat dari mengais rejeki yang halal untuk keluarganya. Itulah sebabnya, sikap menahan diri dari berlebih-lebihan dalam menikmati anugerah, adalah sebuah sikap kesombongan (al-kibr) yang sangat dibenci oleh Allah Swt. 

Setidaknya ada dua kiat sikap zuhud yang penting dilakukan oleh seorang muslim sebagai kiat hidup bertahan dalam krisis seperti sekarang. Kiat ini sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam untaian dua hadis yang termaktub dalam kitab Riyadlu al-Shalihin.  

Pertama, hendaknya seorang muslim berusaha menahan dirinya dari hidup berpoya-poya, dan bermegah-megahan dalam sandang, pangan dan papan mereka semata mengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiada pernah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  tidur di atas tilam permadani selama masa hidup beliau. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu ketika pernah selama dua bulan, tidak pernah sedetik pun menyala api tungku di rumah beliau. Dalam kesehariannya, beliau bahkan hanya mencukupkan diri dengan memakan kurma dan air, dan tiada pernah merasakan kenyang melainkan oleh sepotong roti gandum putih, hingga akhir hayat beliau. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di dalam Kitab Riyadlu al-Shalihin, dengan Nomor Hadits 515, disampaikan:

وعن أبي أمامة إياس بن ثعلبة الأنصاري الحارثي رضي الله عنه قال ذكر أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما عنده الدنيا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ألا تسمعون ألا تسمعون إن البذاذة من الإيمان إن البذاذة من الإيمان يعني التقحل رواه أبو داود البذاذة بالباء الموحدة والذالين المعجمتين وهي رثاثة الهيئة وترك فاخر اللباس وأما التقحل فبالقاف والحاء قال أهل اللغة المتقحل هو الرجل اليابس الجلد من خشونة العيش وترك الترفه

“Dari Abu Umamah, yaitu Iyas bin Tsa’laba al-Anshari al-Harits radhiyallahu ‘anhu, katanya: “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari menyebut-nyebutkan di sisi beliau itu tentang hal dunia -yakni perihal kesenangan, kekayaan dan lain-lain. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidakkah engkau semua mendengar, tidakkah engkau semua mendengar bahwa badzadzah itu termasuk keimanan, bahwa badzadzah itu termasuk keimanan.” Yakni taqahhul. (HR. Abu Dawud dalam Riyadlu al-Shalihin li al-Nawawy)

Al-badzadzah artinya ialah keadaan yang serba kusut dan meninggalkan pakaian yang indah-indah. Adapun taqahhul, menurut pengertian para ahli bahasa, merupakan orang yang kering kulitnya karena keadaan hidupnya yang serba kasar dan meninggalkan kemewahan dalam segala hal. Kondisi demikian ini, oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan sebagai bagian dari perilaku keimanan. Mengapa? 

Kondisi papa mereka tidak membuat dirinya rela untuk melakukan sesuatu yang dilarang oleh Syara’. Mereka justru berani untuk bekerja keras, bekerja, berani susah dulu, dan tidak hanya sekedar menunggu terhadap apa yang diberikan oleh negara kepada mereka. 

Kedua, seorang muslim harus berani untuk berlaku prihatin. Di dalam sebuah hadits yang disandarkan kepada sahabat Anas radliyallahu ‘anhu, disampaikan:

وفي رواية عن أنس قال جئت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فوجدته جالسا مع أصحابه وقد عصب بطنه بعصابة فقلت لبعض أصحابه لم عصب رسول الله صلى الله عليه وسلم بطنه فقالوا من الجوع فذهبت إلى أبي طلحة وهو زوج أم سليم بنت ملحان فقلت يا أبتاه قد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم عصب بطنه بعصابة فسألت بعض أصحابه فقالوا من الجوع فدخل أبو طلحة على أمي فقال هل من شيء قالت نعم عندي كسر من خبز وتمرات فإن جاءنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وحده أشبعناه وإن جاء آخر معه قل عنهم وذكر تمام الحديث

“Dalam riwayat yang lain disebutkan, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Suatu hari, saya datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian saya mendapati beliau sedang duduk dengan para sahabatnya dan di perutnya terikat sebuah ikatan – seperti batu dan lain-lain untuk menahan lapar. Lalu saya bertanya kepada salah seorang sahabatnya: “Mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengikat perutnya.” Para sahabat, berkata: “Karena lapar.” Oleh sebab itu saya lalu pergi kepada Abu Thalhah, suami Ummu Sulaim binti Milhan, kemudian saya berkata: “Aduh bapak, saya sungguh-sungguh telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengikat perutnya dengan suatu ikatan, lalu saya bertanya kepada sebagian sahabat-sahabatnya dan mereka mengatakan bahwa hal itu karena beliau lapar.” Abu Thalhah lalu masuk menemui ibuku – yakni Ummu Sulaim, kemudian bertanya: “Adakah sesuatu yang dapat dimakan?” Ummu Sulaim menjawab: “Ya, ada. Saya mempunyai beberapa potong roti dan beberapa buah kurma. Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke tempat kita sendirian, tentu dapatlah kita mengenyangkan beliau itu, tetapi jikalau beliau datang dengan disertai orang lain, maka makanan kita terlampau sedikit untuk dimakan orang-orang itu.” Seterusnya Anas menyebutkan kelengkapan hadits ini. (Riyadlu al-Shalihin li al-Nawawi, Nomor Hadits: 519)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai pucuk pimpinan kaum muslimin, tidak pernah menggunakan jabatannya sedikit pun untuk mendapatkan sesuap makanan. Bahkan, beliau lebih memilih mengikat perutnya dengan sabuk yang diberi batu, karena niat menahan lapar. 

Beliau lebih suka prihatin dibanding memanfaatkan jabatan beliau. Beliau lebih suka berlaku prihatin, dibanding menjatuhkan muru’ah (kehormatan beliau) hanya untuk mendapatkan sebutir korma guna mengisi perutnya. Sungguh hal semacam ini merupakan teladan yang sangat mulia. 

Alhasil, kiat menghadapi krisis seperti yang tengah berlangsung seperti sekarang ini, terfokus pada dua hal, dan keduanya bisa dirangkum dalam satu maqalah yang dinisbatkan kepada Sayyidina Umar di atas, yaitu “seorang muslim harus berani hidup susah.” 

Seorang muslim tidak boleh menjatuhkan kewibawaannya karena susah yang dialaminya. Karena susah yang dimilikinya, justru ia hendaknya bekerja lebih keras untuk mendapatkan rezeki. 

Dan bila sudah mendapatkan rezeki, ia tidak menjadi pribadi yang sombong, melainkan harus ingat dengan sesamanya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H! Semoga Allah Swt menerima amal ibadah puasa kita sekalian dan menerima taubat kita! Wallahu a’lam bi al-shawab.

Baca juga:  Tanda-tanda Lailatul Qadr Menurut Buya Hamka
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top