Sedang Membaca
Abu al-Darda Mencintai Pendosa
Penulis Kolom

Menyelesaikan studi di Sastra Arab UGM (S1), di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta (S2), dan program doktoral di UIN Pekanbaru. Kini mengajar di IAIN Jember, Jawa Timur. Menyenangi buku sastra dan bahasa Arab

Abu al-Darda Mencintai Pendosa

Seorang sahabat Nabi, Sayidina Abu al-Darda radliyallahu ‘anhu, suatu hari melihat kerumunan orang yang tengah mempersekusi seorang laki-laki, bahkan beramai-ramai hendak memukulinya.

Melihat itu, sahabat perawi hadis dari kalangan Anshar itu bertanya kepada mereka, “Apa yang telah terjadi?”

“Orang ini telah berbuat dosa yang sangat besar,” jawab sebagian dari mereka.

“Tunggu dulu”, kata sahabat mulia itu.

“Bukankah jika ia jatuh ke dalam sumur, kalian akan menolong dan mengeluarkannya?” jawab Abu Darda.

Serempak mereka menjawab, “Tentu saja, Wahai Sahabat Nabi.”

“Kalau begitu”, lanjut Sayidina Abu Darda’, “Hentikan perbuatan kalian, jangan mempersekusinya apalagi memukulinya. Nasehati dia dan buka wawasannya. Kalian bahkan harus bersyukur kepada Allah yang telah menjaga kalian dari berbuat dosa seperti yang telah dilakukannya.”

Mereka yang hendak memukuli laki-laki itu heran dengan sikap Abu Darda’ ini. “Apa Engkau tidak membenci laki-laki ini, Wahai Sahabat Nabi?” tanya mereka.

“Tidak. Aku hanya membenci perbuatannya. Jika dia meninggalkan perbuatan buruknya, dia saudaraku,” jawab Sayidina Abu al-Darda’ dengan yakin.

Mendengar jawaban Sahabat Nabi itu, laki-laki yang hendak dipukuli beramai-ramai itu berlinang air matanya dan menyatakan kesungguhan taubatnya.

Mengasihi orang yang kita anggap sebagai pendosa dapat kita lakukan bukan dengan cara-cara kekerasan. Menggunakan cara yang lembut seringkali sangat efektif. Dan yang terpenting: mendoakannya. (Sumber: Mausu’atul Akhlaq wa al-Zuhd wa al-Raqaiq, 1: 386)

Baca juga:  Ketika Mbah Arwani Kudus Kecopetan
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top