Sedang Membaca
Pondok Pesantren Pabelan: Pesantren Ramah Lingkungan
Muhammad Aswar
Penulis Kolom

Penulis lepas. Mukim di Yogyakarta.

Pondok Pesantren Pabelan: Pesantren Ramah Lingkungan

Terletak di desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, sekitar 6 kilometer dari Candi Borobudur. Pesantren Pabelan tampak begitu miskin. Berbeda dengan pesantren-pesantren lain yang mengejar kemegahan lewat bangunan yang tinggi menjulang. Kompleks asrama dan pendidikannya beratap seng, beralas pasir putih, dinding yang setengah tembok atau setengah kayu. Berpusatkan sebuah masjid bersahaja yang telah berumur lebih dari satu setengah abad. Rumah-rumah bilik yang ditata rapi masih terlihat. Sebuah makam di bagian barat dan bangunan tempat tinggal santri berdiri apik.

Persis sebuah pemukiman terpencil di sebuah desa kecil, menyebar di tanah seluas 5 ha. Bedanya, asrama-asrama yang berbentuk joglo itu sedikit lebih bersih dan tertata dibanding perkampungan biasanya. Bahkan, jika suatu waktu bisa berkunjung ke sana, memandang Pabelan dari luar tidak ubahnya sebuah perguruan silat yang hanya mempelajari ilmu-ilmu kebatinan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tapi dari situlah pemikir-pemikir Islam progresif pernah menempa diri. Semisal Bachtiar Effendi dan Komaruddin Hidayat. Pada tahun 1970-an sebuah rombongan dari Frederich Nauman Stiftung (FNS), sebuah lembaga terkemuka dari Jerman, mendatangi tempat itu. Begitu pula tokoh-tokoh yang pernah bernaung di bawah Asian Cultural Forum on Development (ACFOD) seperti Sulak Sivaraksa, tokoh kritis yang cukup terkenal dari Thailand, atau Rita Bawa dari Filipina, serta Kamla Bahsin dari India. Pun Ivan Illich, seorang pemikir dan pelaku pendidikan alternatif Amerika Latin: “Deschooling society”, pernah pula menengok Pesantren Pabelan.

Tidak banyak pesantren yang bisa bertahan dengan kompleks-kompleks sederhana seperti itu. Dan kompleks itulah yang pada 23 Oktober 1980, dalam sebuah seremoni di Lahore, Pakistan, mendapat penghargaan dari The Agha Khan Award for Architecture, sebuah lembaga sosial dunia milik imam sekte Syiah Ismailiyah yang berkantor di Jenewa.

Baca juga:  Islam Kultural ala Gus Dur Melawan Politik Islamisasi ala Soeharto

Dalam sebuah rilis 9 juri yang terdiri dari para arsitek dan sarjana dari banyak negara di dunia, termasuk Soedjatmoko, pada waktu itu masih menjabat sebagai Rektor Universitas PBB di Tokyo, mengatakan, para juri umumnya kagum dengan bentuk pendidikan yang tidak hanya mendidik santri, tetapi juga melatih masyarakat.

Walaupun tidak ada penemuan arsitektural luar biasa, namun struktur kompleks Pesantren Pabelan sejatinya bisa menjadi jawaban dari tuntutan pedesaan di zaman modern ini. Murah dan terjangkau bagi masyarakat pedesaan. Rumah-rumah joglo yang menghiasi keindahan lingkungan, bangunan fisik yang asri menyatu dengan alam dan masyarakat sekitar. Arsitektur yang bisa menjawab tantangan ratusan juta rakyat miskin, sesuai dengan lingkungan asal, dan terkesan bukan bertendensi monumental.

 

Sejarah

Pesantren Pabelan sesungguhnya telah lama berdiri. Namun tahun 1965 Jafar Hamam yang kala itu masih berusia 25 tahun tergelitik melihat situasi sekitar, baik ekonomi maupun lingkungan dia tinggal. Ia adalah pria yang berprinsip bahwa pendidikan merupakan modal awal untuk hidup lebih baik.

Maka dengan hanya 35 santri, ia memulai langkahnya. Setiap habis shalat Subuh, kata KH Najib Hamam santri Pabelan yang kala itu masih mandi di kali diharuskan membawa sebuah batu ke lingkungan pesantren. Lalu saat mereka kembali ke sungai harus membawa pulang pasir. Batu dan pasir tersebut tidak otomatis dijadikan bangunan melainkan dijual untuk dibelikan alat pertukangan. Dengan alat-alat tersebut KH Jafar mengajar anak didiknya membuat meja kursi untuk belajar. Ia juga mengerjakan sawah penduduk dengan sistem bagi hasil. Dari cara ini ia mampu mendirikan bangunan tempat anak-anak Pabelan belajar mengaji.

Baca juga:  Nasionalisme Islam Nusantara

Pabelan tak berkembang sendiri. Kiai muda itu bukan saja peduli pada anak remaja usia sekolah, tapi juga seluruh masyarakat. Meski bukan artistek, ia meihat ada yang salah dengan desain rumah penduduk. Rumah-rumah tak berjendela bagi penduduk Jawa mengandung filosofi menyimpan rejeki. Namun tak demikian dengan kyai Hamam. Ia melihat rumah itu tak sehat karena sirkulasi udara yang buruk.

Secara perlahan, ia berhasil mengubah sikap penduduk tentang sebuah rumah. Maka rumah-rumah di sekitar pesantren kini adalah bilik yang dianyam rapi dengan banyak jendela dan kebersihan yang terjaga. Melihat jerih payahnya, ia menyimak kiprah Romo Mangun Wijaya yang merehabilitasi perkampungan Kukum di pinggir Kali Code Yogyakarta.

“Pesantren ini juga dibangun dengan filosofi hidup manusia,” kata Najib Hamam. Berada pada sisi timur adalah perpustakaan yang melambangkan pencerahan. Timur adalah tempat matahari terbit. Sedang ayat al-Qur’an yang pertama kali turun berisi perintah tentang mencari ilmu atau membaca. Banggunan sekolah dan masjid tua yang dibangun pada 1820 dan lantas ditambahkan bangunan baru berada di tengah. Itu melambangkan usia manusia yang harus diisi dengan belajar mengenal Sang Pencipta dan tunduk ibadah kepada-Nya. Berada di ujung barat, tempat Matahari terbenam, adalah pemakaman yang berarti akhir hidup di dunia. “Semua mehyimpulkan arah kiblat,” kata Najib.

Baca juga:  Membaca Kembali Sejarah Islam di Spanyol

 

Ramah Lingkungan

Pabelan adalah pesantren terbuka bukan saja bagi dunai luar tapi juga di dalam. Faislitas pesantren, masjid dan balai kesehatan, terbuka luas untuk masyarakat sekitar. Pelajar asal Pabelan boleh jadi santri tanpa membayar sepeserpun. Mereka juga mengikuti kegiatan penuh layaknya santri dari tempat lain. Hanya saja mereka tidak menginap. Pesantren ini juga terbuka, dalam artian tak terlalu ketat menyekat santri lelaki dan perempuan. Mereka belajar di sekolah yang sama. Masjidnya pun serupa. Hanya sepotong jalan memisahkan temapt tinggal mereka.

Kemajuan program pendidikan itulah yang membuat Pabelan kerap mendapat penghargaan di tingkat nasional maupun internasional. Di antaranya pada 1980, pondok ini mendapatkan penghargaan dari Pakistan karena arsitektur bangunannya. Pada 1982, Pabelan mendapatkan Kalpataru karena berhasil mengajak santri menanam pohon. Tahun 2007 mendapatkan penghargaan dari pemerintah pusat terkait pengelolaan kesehatan santri dan masyarakat. Selain itu hampir tiap tahunnya, santri Pabelana dikirim dalam ajang International Award for Young People.

Selain keberhasilan di dunia pendidikan itu, Pabelan memiliki keunggulan lain di sektor pembangunan fisik pesantren. Sejumlah masjid dengan arsitektur Jawa-Arab yang dibangun 1820 silam, masih terlihat gagah. Masjid yang didirikan saat Pabelan dipimpin KH Muhammad Ali tersebut merupakan cikal bakal Ponpes Pabelan.

Keunikan sejumlah bangunan di Pabelan itu juga menarik hati sejumlah insan perfilman Tanah Air. Misalnya, film Ketika Cinta Bertasbih sutradara Chaerul Umam dan film 3 Doa 3 Cinta yang disutradarai Nurman Hakim melakukan pengambilan gambar di pesantren ini.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top