Sedang Membaca
Haji Misbach, Tokoh Muhammadiyah di Jalur Kiri
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Haji Misbach, Tokoh Muhammadiyah di Jalur Kiri

Mu'arif

Tokoh kita kali ini adalah adalah Haji Misbach, yang dikenal dengan julukan “Haji Merah” atau “Haji Marxis”. Nama Misbach ketika dihubungkan dengan Muhammadiyah memang masih menjadi perdebatan. Apakah Haji Merah adalah aktivis Muhammadiyah atau justru sebaliknya, musuh besar gerakan Muhammadiyah?

Beberapa sumber lisan menegaskan bahwa Misbach adalah salah satu pendiri Muhammadiyah Solo. Tetapi dalam notulen Kongres Muhammadiyah 1923, justru disebutkan bahwa Haji Merah ini bukan anggota Muhammadiyah. Sedangkan dalam penelitian Nor Hiqmah (2008), nama Misbach memang erat dihubungkan dengan Muhammadiyah, tetapi ia berseberangan haluan politik sehingga memutuskan untuk keluar dari Muhammadiyah.

Dalam tulisan ini, saya hendak meletakkan Haji Merah ini sebagai orang Muhammadiyah secara kultural, karena secara struktural ia memang tidak tercatat dalam buku induk anggota.

Misbach lahir dari keluarga pedagang batik di Kauman, Solo. Tahun kelahirannya tidak atau belum diketahui. Tetapi jejak keluarganya diketahui karena tergolong pejabat muslim di Kraton Solo. Misbach kecil yang bernama Achmad, mendapat pendidikan agama di

pesantren. Ia juga sempat mengenyam Sekolah Bumiputra kelas II, tetapi hanya berlangsung selama delapan bulan. Rupanya, ia lebih tertarik pada permasalahan sosial politik, sehingga memilih terjun di medan pergerakan.

Setelah memasuki usia dewasa, Achmad menikah dan berganti nama menjadi Darmodiprono. Awal abad ke-20, industri batik memang sedang menggeliat di beberapa kota besar, seperti Solo dan Yogyakarta. Sukses berbisnis kain batik, Darmodiprono menunaikan ibadah haji.

Sepulang dari tanah suci, ia telah mengganti namanya menjadi Misbach. Pada tahun 1914, Misbach adalah pelanggan setia surat kabar Doenia-Bergerak—orgaan Indische Journaist Bond (IJB) yang didirikan oleh Mas Marco Kartodikromo. Bahkan, ia menyatakan bergabung dalam IJB dan mantap menempuh jalur pergerakan sebagai medan perjuangan. Mas Marco Kartodikromo (1924) mengisahkan pertama kali Haji Misbach bergabung di IJB menempuh “jalur kiri” pergerakan:

Waktoe kami mengeloearkan soerat chabar minggoean Doenia-Bergerak di Solo (1914), djalan officieel orgaan dari Inlandsche Journalisten Bond, kami kenal dengan H.M. Misbach, karna dia anggota dan langganan dari persarekatan dan soerat chabar terseboet…

Lewat IJB ini, Haji Misbach berkenalan dengan Haji Fachrodin dari Kauman, Yogyakarta. Kebetulan, keduanya sama-sama pedagang batik. Keduanya juga sama-sama berasal dari keluarga pejabat Kraton. Sama-sama berasal dari Kauman, tetapi beda tempat. Kedua putra Kauman (beda tempat) ini kemudian bersama-sama menerbitkan surat kabar Medan-Moeslimin (1915) dan Islam Bergerak (1917) sebagai corong perlawanan atas penindasan kolonial Belanda.

Baca juga:  Jelang Munas Alim Ulama (1): Lima Riwayat Sunan Kalijaga di Pulau Lombok

Tidak tanggung-tanggung, kedua putra Kauman tersebut menempatkan sosok Khatib Amin Yogyakarta sebagai salah satu kontributor Medan-Moeslimin yang namanya terpampang jelas di sudut kiri atas cover majalah ini. Khatib Amin Yogyakarta yang dimaksud adalah Kiai Haji Ahmad Dahlan, President Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah.

Di Solo, Misbach mengajak beberapa juragan batik untuk bergabung dalam ‘organisasi’ Sidik Amanah Tableg Vathonah (SATV)—ejaan asli—yang bertujuan memajukan umat Islam dan membela kaum tertindas. Rupanya, Misbach tidak bisa tinggal diam melihat umat Islam selalu terbelakang, kalah bersaing dengan para cukong Belanda dan pengusaha China yang sewenang-wenang. Ia juga muak melihat sepak terjang para pejabat kraton yang justru menjadi “tukang palak” rakyat jelata.

Berawal dari forum pengajian agama di rumahnya, muncul gagasan membentuk semacam perkumpulan sekalipun belum bisa dikatakan sebagai sebuah organisasi. Akan tetapi, program-program SATV sistematis dan nyata. Misalnya, menerbitkan surat kabar, menyelenggarakan pengajian, bahkan mendirikan sekolah Islam.

Akhirnya, Haji Misbach, Haji Hisjam Zaijni, Koesen, Harsoloemekso, dan Darsosasmito berhasil membentuk perkumpulan SATV dengan program monumentalnya menerbitkan surat kabar Medan-Moeslimin pada tahun itu juga.

Selang dua tahun berikutnya, perkumpulan ini menerbitkan surat kabar Islam Bergerak. Misbach makin lengket dengan Fachrodin ketika menerbitkan kedua majalah ini. Bahkan, sosok Kiai Dahlan ditempatkan sebagai kontributor resmi Medan-Moeslimin untuk wilayah Yogyakarta. Kontributor wilayah Solo diisi oleh Haroen Rasid. Seorang redaktur muda bernama Moechtar Boechari juga terpampang namanya di halaman cover majalah ini. Terdapat pula sosok H.A. Hamid BKN (ayah Dasron Hamid) yang membantu administrasi perusahaan. Sejak tahun 1915-1919, hubungan antara Muhammadiyah dengan SATV sangat harmonis, saling mengisi. Kiai Dahlan sering diundang ke Solo, di rumah Kiai Mochtar Boechari, mengisi pengajian forum SATV.

Retak hubungan harmonis SATV dengan Muhammadiyah dimulai ketika Haji Misbach masuk bui pada tahun 1920. Misbach ditangkap tentara kolonial karena ia menjadi provokator kerusuhan dan pemogokan buruh tebu di Klaten (desa Nglungge).

Mendekam di penjara Klaten lalu dipindah ke Pekalongan, Misbach banyak bertemu dan berdialog dengan para tahanan yang kebanyakan adalah aktivis dan propaganda Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV)—yang kemudian berubah menjadi Indische Social Democratische Partij (ISDP), embrio Partai Komunis Indonesia (PKI). Di situlah semangat dan haluan politik Misbach mengalami perubahan drastis. Semangat revolusionernya bertegur sapa dengan jalan Sosialisme-Marxis.

Setelah keluar dari penjara, Misbach mengambil alih kepemimpinan Medan-Moeslimin dan Islam Bergerak yang sebelumnya di bawah kendali Fachrodin. Telah terjadi perdebatan sengit antara dua kawan akrab ini. Debat sengit kawan lawan kawan, tetapi tak ada yang keluar sebagai pemenang. Perdebatan itu berakhir dengan pilihan bahwa masing-masing akan menempuh prinsip dan jalan hidup sendiri-sendiri.

Sampai tahun 1922, jajaran redaksi Medan-Moeslimin dan Islam Bergerak telah didominasi oleh orang-orang yang sehaluan dengan politik Misbach. Orang-orang Muhammadiyah dan simpatisannya tersingkir dari kedua majalah ini.

Perdebatan sengit antara Misbach dengan orang-orang Muhammadiyah tampaknya berlanjut sampai mimbar. Di panggung pengajian SATV, Misbach menyerang Muhammadiyah dan tokoh-tokohnya yang dianggap tidak berani berpolitik praktis, membela rakyat dengan perlawanan fisik.

Baca juga:  Kitab Tafsir Terbitan Muhammadiyah di Kantor NU

Tak cukup dengan pidato, ia pun menggunakan Medan-Moselimin dan Islam Bergerak untuk menyerang Muhammadiyah. Dengan lantang, Haji Merah menuduh Muhammadiyah membiarkan penindasan kolonial Belanda terhadap kaum pribumi. Itu karena Muhammadiyah tidak menempuh jalur politik untuk membela rakyat tertindas, seperti halnya gerakan Sarekat Islam (SI) yang kemudian menjadi partai politik (PSI).

Dalam artikel “Moekmin dan Moenafik” (Islam Bergerak, 10 Desember 1922), Misbach mengritik orang-orang yang tidak memilih jalur politik sebagai munafik (ditujukan kepada pimpinan Muhammadiyah) dan mereka yang memilih jalur politik sebagai Islam sejati (SI).

Misbach juga menyerang Muhammadiyah karena dianggap tidak memerangi fitnah terhadap umat Islam, justru organisasi yang didirikan oleh ‘kaum modal putih’ (kapitalis muslim) ini dianggap hanya menyiarkan agama Islam tanpa membela kaum tertindas, bahkan terlibat dalam kasus renten (Medan-Moeslimin, 20 November 1922).

Baca Juga
Nasihat Politik Kiai Wahab di Zaman Jepang

Satu per satu tokoh-tokoh Muhammadiyah menjadi objek sasaran kritik tajam dari Haji Misbach dan kubu SI-Merah. Kiai Ahmad Dahlan dituduh sebagai rentenir, karena terlibat dalam skandal hutang Perserikatan Pegawai Pegadaian Bumiputra (PPPB) pada tahun 1922. Haji Fachrodin dituduh sebagai tokoh munafik dan penipu. HB Muhammadiyah dianggap telah menjadi agen kapitalis. Konon, pada saat itulah Misbach keluar dari Muhammadiyah (Nor Hiqmah, 2008: 5).

Dengan semangat berapi-api, Misbach mendatangi Rapat Tahunan Muhammadiyah 1923 di Yogyakarta untuk menyampaikan usulan (vorstel) agar Muhammadiyah mengubah haluan organisasi menjadi partai politik pergerakan layaknya SI (Soewara Moehammadijah, no 5 & 6, Mei & Juni 1923).

Dengan terang-terangan ia mengusulkan agar nama Muhammadiyah diganti menjadi Serikat Rakyat. Akan tetapi, Djojosoegito (sekretaris HB Muhammadiyah) dalam catatan notulen Rapat Tahunan Muhammadiyah 1923 menyebutkan bahwa “Haji Misbach itu bukan sekutu Muhammadiyah”, sehingga usulannya tidak perlu ditanggapi secara serius. Konon, karena tidak sehaluan lagi dengan Muhammadiyah, ia memilih keluar dari keanggotaan organisasi ini.

Baca juga:  Anak Kiai itu Bernama Surin Pitsuwan

Tak lama setelah menyerang Muhammadiyah, Haji Misbach ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dan dibuang ke Manokwari (1923). Pada waktu itu, surat kabar MedanMoeslimin dan Islam Bergerak sudah sulit terbit.

Dalam Medan Moeslimin edisi 15 Juli 1924, keterangan di box redaksi, selaku pengarang yang bertanggungjawab di muka hakim: Haroen Rasid. Selaku pengurus: Sjarif. Selaku pembantu yang khas: Nasurdin (guru bahasa Melayu di Penang). Haji Misbach sebagai ketua, dalam keterangan, masih dalam bui (Manokwari).

Sebuah sumber menyebutkan, ketika di Manokwari, Haji Misbach menjalin komunikasi dengan Firma Abdullah Lie, sebuah perusahaan jasa yang melayani pengiriman barang-barang dari Ambon ke Manokwari. Sumber ini berasal dari kesaksian Haji Ismail Abu Kasim, alumni MULO dan HIK Muhammadiyah (Solo).

Menurut Ismail Abu Kasim, perintis Muhammadiyah di Ambon adalah Haji Misbach dari Solo. Misbach menggunakan jasa Firma Abdullah Lie milik Haji Muhammad Abu Kasim, ayah kandung Haji Ismail Abu Kasim, untuk memesan berbagai kebutuhan hidupnya. Menariknya, selama di pembuangan, Misbach justru berusaha memesan beberapa buku bacaan dan majalah.

Sekalipun Misbach telah keluar dari Muhammadiyah, ternyata ia tetap menjadi pelanggan majalah Suara Muhammadiyah. Firma Abdullah Lie inilah yang menyuplai kebutuhan Misbach selama di Manokwari (baca M. Amin Eli, “Muhammadiyah Maluku: Hasil Penyemaian Kyai Misbach”, Suara Muhammadiyah no. 20 Th. Ke-61/1981).

Dari hasil korespondensi antara Haji Misbach dengan Haji Muhammad Abu Kasim muncul gagasan mendirikan Muhammadiyah di Ambon. Haji Abu Kasim sendiri seorang Muslim keturunan Tionghoa. Ia berhasil meyakinkan kawannya yang bernama Auw Yong Koan, seorang Muslim keturunan Tionghoa pula. Kemudian ada Abdurrahman Didin, seorang perawat di rumah sakit militer di Ambon.

Akhirnya, pada sekitar tahun 1930-an, gagasan untuk mendirikan Muhammadiyah di Ambon berhasil terwujud. Haji Muhammad Abu Kasim, Auw Yong Koan, dan Abdurrahman Didin adalah tokoh-tokoh perintis yang sekaligus menjadi pengurus pertama Muhammadiyah di Ambon.

Sampai akhir hayat, Misbach konsisten sebagai seorang muslim-marxis. Namun, kiprahnya di Manokwari yang menginspirasi beberapa tokoh di Ambon untuk mendirikan Muhammadiyah menjadi catatan tersendiri. Sekalipun telah keluar dari Muhammadiyah, di akhir hayatnya masih tetap berdakwah dengan caranya sendiri, mengenalkan paham keagamaan modernis ala Muhammadiyah di Ambon.

Lihat Komentar (2)
  • Judulnya provokatif, tidak konsistent. di satu pihak mengatakan Misbach tak pernah duduk dalam kepengurusan Muhammadiyah , tak pernah tercatat sebagai anggota, paling hanya simpatisan bin Muhammadiayh kultural, tetapi penulis berani menyebutnya sbg Tokoh Muhammadiyah? Misbah memang tokoh NIP dan PKI. Tapi jelas bukan Tokoh Muhammadiyah. Malah memfitnah dan menyerang Muhammadiyah(Baca Ahmad Mansur Suryanegara,”Haji Misbach Terbelenggu Palu Arit”, dalam “Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonsia”, Penerbit Mizan, yg jauh lebih ilmiyah dan obyektip.

Komentari