Sedang Membaca
Humor 5 Profesor Muhammadiyah yang “Sebetulnya” NU: Prof. Abdul Mu’ti (4)
Hamzah Sahal
Penulis Kolom

Founder alif.id. Belajar di sejumlah pesantren serta aktif di Rabithah Ma'ahid Islamiyah PBNU.

Humor 5 Profesor Muhammadiyah yang “Sebetulnya” NU: Prof. Abdul Mu’ti (4)

H Abdul Muti E

Bagi banyak orang, membicarakan “mantan” secara terbuka adalah tabu. Tapi rumus ini rupanya tidak berlaku di kalangan aktivis Muhammadiyah, yang mantan NU. 

Profesor Din Syamsuddin bukanlah satu-satunya tokoh Muhammadiyah yang terang-terangan mengungkapkan bahwa dirinya, “cinta pertamanya”, adalah NU. Pak Din santai-santainya membuka kenuannya di Muhammadiyah. Sikap santai pun dilakukan website resmi Muhammadiyah saat menulis profil mantan ketua umumnya itu. Jangankan nada stereotip, sikap ragu-ragu pun tak tampak dalam profil pendek tersebut. Hal ini juga berlaku untuk junior Pak Din di Muhammaiyah, yaitu Abdul Mu’ti.

“Sebelumnya saya itu lebih dulu belajar NU. Jadi saya lebih mengerti bagaimana cara keberagamaan NU dibanding Muhammadiyah,” ungkap Abdul Mu’ti di acara Mata Najwa di Metro TV, bertajuk “Belajar dari KH Ahmad Dahlan & KH Hasyim Asy’ari”, lima tahun silam.

Dia mengatakan itu tanpa nada ragu sedikit pun. Mendengar itu, Kiai Said Aqil yang ada di depannya tertawa tipis-tipis. Abdul Mu’ti mengaku bahwa baru belajar Kiai Ahmad Dahlan saat mahasiswa di UIN Walisongo, Semarang. Pengakuan ini secara implisit mengabarkan bahwa dirinya baru menjadi Muhammadiyah saat mahasiswa. Meski Muhammadiyah “anyaran”, karir Mu’ti melesat. Posisi-posisi penting seperti menjadi Ketuap Umum Pemuda Muhammadiyah pernah diembannya. Sekarang dia menjadi Sekretaris Umum PP Muhammadiyah.

Baca juga:  Dakwah dan Pers-delicht: Kisah Haji Abdul Mu’thi dari Muhammadiyah Kudus

Tanggal 2 September 2020, tepat pada ulang tahunnya yang ke-52, Abdul Mu’ti dikukuhkan sebagai guru besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam bidang Pendidikan Agama Islam.

Di akhir pidato pengukuhan guru besar dia mengaku alumni NU. Saya kira dia paham betul, dalam tradisi pesantren yang namanya “alumni” itu tidak pernah lepas. Bahkan, di akhir pidato, Profesor Mu’ti “mengakulturasi” (atau mengsingkretiskan..hahaha…) dua tradisi ikhtitam dalam berpidato di Muhammadiyah dan NU. Dia seperti ingin mengatakan tidak ada yang “asli” 100% dalam kebudayaan, tidak ada itu Islam puritan, yang namanya kebudayaan itu dialog, saling memengaruhi. Di acara dan upacara resmi tersebut, dia mengakhiri dengan kelakar:

“Demikian pidato Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, pidato sederhana yang saya sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat. Mohon maaf jika ada kekurangan, kekhilafan, dan tutur kata yang kurang berkenan. Walaupun alumni NU, karena saya sudah di PP Muhammadiyah, izinkan saya menutup dengan nashrum minaLLah wa fathun qoriib wa basysyiril mu`minin, waLLahul muaffiq ali aqwamith thariiq, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarokatuh…”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top