Sedang Membaca
Falsafah Khudi Muhammad Iqbal
Penulis Kolom

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Aqidah dan Filsafat Islam .

Falsafah Khudi Muhammad Iqbal

Membaca Kembali Pemikiran Si Kumis dari Pakistan

Tahun 1905-1908 M menjadi tahun-tahun yang penting bagi Muhammad Iqbal. Pasalnya, dalam tahun-tahun ini menjadi masa-masa yang sangat sulit bagi ia mengenai pembelajarannya terkait filsafat pada dua gurunya di Inggris yakni M.C Taggart dan James Ward di Cambrige. Selama masa ini juga Iqbal dipengaruhi oleh Jallaluddin Rumi melalui syair-syairnya yang kelak menjadi thesis Iqbal sendiri.

Selama di Inggris, Iqbal tetap menjadi mistikus yang phanteistik, ini terlihat jelas dalam desertasinya yang berjudul The Development of Metaphysics in Persia. Iqbal menemukan filsafatnya sendiri sesudah masa ini. Kita tau mula-mula Jallaluddin Rumi dijadikan sebagai pemimpin ruhaniyahnya, dengan diikuti pola penelaahannya yang dalam terhadap kepribadiaan Nietzche dan Bergson. Rumi seperti Nietzche, percaya kepada evolusi, kemerdekaan, kemungkinan-kemungkinan, dan keabadian pribadi.

Khudi atau pribadi adalah bagian terpenting dalam filsafat Iqbal. Filsafat khudinya menjadi pondasi yang kuat atas segala gagasan-gagasan dan menjadi lansadan segala konstruk pemikirannya. Bagi Iqbal, Khudi, atau ego merupakan satu kesatuan yang riil atau nyata yang menjadi pusat dan landasan dari segala aspek kehidupan dan menjadi iradah kreatif yang terarah secara rasional. Ego atau khudi menjadi pusat atas segala landasan kehidupan. Ini tercermin dalam kitab Masnawinya Iqbal yang berjudul Asrar-i Khudi.

“The Ego attains to freedom by removal of allabsturction in its way, Its party free approaching the individual who is most free God, In one word, life is an endavour for freedom” (Muhammad Iqbal, 1920:14-15).

Baca juga:  Pelopor Modernisasi Pendidikan Islam (5): Syekh Abdullah Ahmad

Khudi merupakan unsur terpenting dalam masyarakat Islam, karena khudi pusat kehidupan dunia. Maju atau mundurnya suatu bangsa tergantung bagaimana mereka memandang tentang khudi ini. Iqbal selalu menegaskan pentingnya penegasan khudi ini. Namun demikian khudi bukanlah anugerah alam yang bersifat statis, tetapi selalu bersifat dinamis. Oleh sebab itu manusia diharapkan bisa mengembangkan khudinya sendiri dengan usaha dan tenaga yang berkesinambungan, disiplin yang kuat dan yang terpenting penegasan karakter.

Iqbal juga menerangkan bahwa khudi adalah suatu pusat dan landasan dari segala kehidupan. Hal ini ditegaskan dalam bait-bait syairnya dalam masnawi Asra-I Khudi:

The Form of exsitance is an effect of the self

                         What so ever thou seest is a secreet of the self

                         When the self awoke to consiousness

                         It reveleard the universe of Thought

                         A hundred words are hidden in its essence”(Muhammad Iqbal, 1920:16)

Bagi Iqbal kehidupan ialah proses yang terus maju ke depan sambil mengasimilasi segala sesuatu dijalan geraknya dan esesnsinya adalah penciptaan terus menerus dari gairah dan cita-cita. Penciptaan gairah yang baru dan cita-cita yang baru tentulah selamanya mewujudkan ketegangan yang konstan.

Kepribadian adalah keadaan yang bergairah dan akan selalau bergairah ketika terus dipelihara. Jika gairah itu tidak dipelihara maka akan mucnullah suatu kekendoran yang akan menghilangkan semangat pribadi manusia. Maka oleh karena itu manusia tidak boleh kendor semangat khudinya untuk menjaga kita menuju keabadian. Seperti yang disyairkan oleh Iqbal:

Baca juga:  Magnet Guru Sekumpul dan Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Ghairah ialah gerak abadi

                        Ghairah ialah ombak gelisah dari samudra khudi

                        Ghairah ialah jerat untuk memburiu cita demi cita

                        Penjilid buku amal perbuatan

                        Menghilangkan gairah berati mematikan bagi yang hidup sejati

                        Seperti habisnya nyala mematikan api (Muhammad Iqbal, 1976:121)

Bagi Iqbal ghairah ini yang menjaga kehidupan manusia, ketika manusia sudah tidak memiliki ghairah untuk hidup, ghairah untuk melawan, ghairah untuk keabadian, dan ghairah untuk merdeka, mereka akan binasa. Jiwa manusia akan terus hidup ketika ghairah itu selalu membara bak api yang selalu berkobar menyala merah panas yang tak bisa padam. Khudi akan kuat ketika ghairah terus mengkantar-kantar di dalam jiwa setiap insan.

Kemudian, dari pada itu disamping kemerdekaan, keabadian, manusia dituntut untuk membantu sesamanya naik memuncaknya ummat manusia menuju insan yang mulia atau insanul kamil atau manusia sempurna yang menjadi tujuan seluruh kehidupan manusia. Inilah yang menjadi puncak falsafah ego atau khudinya Muhammad Iqbal. Iman menjadi basis utama dalam perkembangan umat manusia mencapai khudi yang kuat. Dalam memperkuat khudi manusia mestilah melakukan segala usaha yang memperkuat pribadinya bukan memperlemah pribadimya.

Bagi Iqbal, cita tentang pribadi memberikan kepada kita ukuran yang sebenarnya, diselesaikannya soal baik dan buruk. Apa yang memperkuat pribadi baik sifatnya, dan apa yang melemahkan pribadi sudah pasti bersifat buruk. Walaupun demikian ada hal-hal yang bisa memperkuat pribadi antara lain: cinta kasih, faqr, keberanian, toleransi, Kasb-i halal, dan melakukan kinerja yang keratif dan asli. Kesemuanya itu bisa kita kita hadirkan dalam setiap hembusan nafas, setiap waktu, di manapun dan bisa kapanpun.

Baca juga:  Kisah Mengaji kepada Mbah Moen: Ditipu Calo Kitab pun Gembira

Membahas khudi atau Ego dalam falsafah Iqbal tidak sampai hanya melalui sekelumit tulisan ini. Para pemaca Iqbal harus lebih keras dalam membaca, menganalisa, bahkan mengkritisi gagasan khudi yang disampaikan oleh Iqbal melalui literatur-literatur yang sekarang sudah berlimpah ruah baik dalam bahasa aslinya ataupun penerjemahan versi Inggris maupun Indonesia.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top