Sedang Membaca
Dibalik Kisah Romansa Omar Khayyam
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Dibalik Kisah Romansa Omar Khayyam

Moch. Royyan Habibi

Menurutku,

Cinta adalah kekuatan

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Yang mampu

Mengubah duri jadi mawar,

Mengubah cuka jadi anggur,

Mengubah malang jadi untung,

Mengubah sedih jadi riang,

Mengubah setan jadi nabi,

Mengubah iblis jadi malaikat,

Mengubah sakit jadi sehat,

Mengubah kikir jadi dermawan

Mengubah kandang jadi taman

Mengubah penjara jadi istana

Mengubah amarah jadi ramah

Mengubah musibah jadi muhibah

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Itulah cinta!

Petikan puisi Rumi dalam Diwan Syamsi At-Tabrizi menabalkan bahwa cinta barangkali bisa dikatakan sebagai apa yang disebut dengan alienasi. Seperti dikemukakan oleh Hegel, Feurbach atau Marx, alienasi adalah sikap yang takluk, tak berdaya pada ciptaan sendiri. Cinta bisa timbul pada hati seseorang, kemudian ia menjadi bebas dan keluar dari dirinya, lebih perkasa ketimbang dirinya, sehingga membuat seorang takluk, bertekuk lutut padanya dan merubah apa saja yang ‘dikehendakinya’.

Sadar akan hal itu, Harold Lamb, dengan apik melukiskan kehidupan romansa Omar Khayyam, salah seorang tokoh besar Islam, seorang multi-talenta; penyair; filsuf; astronom dengan melalui bentuk novel. Ia menyoroti kehidupan Omar Khayyam melalui sisi yang mungkin bagi sebagian orang disebut sebagai kehidupan picisan, yaitu cerita percintaannya dengan seorang gadis jelita, putri dari penjual buku yang nyaris buta lantaran gila baca pada buku-buku kuno yang aksaranya terlalu kecil, dan pula menceritakan tentang jatuh hatinya pada Aisya, seorang budak sahaya.

Omar Khayyam, sang tokoh utama yang digambarkan dalam novel Harold Lamb ini, memang tidak saja dikenal sebagai ilmuwan yang menguasai satu bidang semata, akan tetapi ia juga dikenal sebagai penyair kwatrin (ruba’iyyah), filsuf dan juga mistikus Islam sekaligus.

Baca juga:  Sabilus Salikin (78): Ajaran Tarekat Rifa'iyah

Lantaran beberapa bidang yang dimiliki Omar itulah, pada akhirnya banyak yang mengkritik Harold Lamb yang dianggap semata hanya menyoroti satu sisi saja dari kehidupan Omar dalam novel yang ditulisnya, terlebih yang disorot semata kehidupan hedonis sang tokoh yang cenderung banal.

Padahal, justru sisi yang ditonjolkan oleh Harold Lamb itu yang kemudian secara tidak langsung banyak mempengaruhi kehidupan Omar Khayyam selanjutnya. Alih-alih Harold Lamb menyuguhkan cinta picisan sang tokoh, namun dibalik itu ia meneguhkan sang tokoh sebagai orang yang berada di garis persiapan menuju kematangannya sebagai tokoh Islam yang memiliki berbagai keahlian.

Novel Omar Khayyam ini diawali dengan pertemuan Omar dengan Yasmi di sebuah toko buku, yang tak lain milik ayah dari Yasmi. Sebagai pemuda yang masih remaja Omar mengawali perkenalannya dengan Yasmi yang mulanya hanya basa-basi, namun berangkat dari itu kemudian menjadikan ia terjerembap dalam kobaran api asmara. Hanya saja, jalinan asmara itu tak berjalan mulus. Yasmi dipaksa oleh orang tua dan kerabatnya untuk menikah dengan seorang saudagar.

Kepergian kekasihnya itu membuat Omar menjadi sangat sedih dan kemudian ia memilih untuk bertualang mencarinya. Hingar bingar dunia intelektualnya yang selama ini dengan susah payah dibangunnya ditinggalkan begitu saja. Menara observatorium dibiarkannya lumpuh dari aktivitas hingga membuat Nizami marah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  70 Tahun Ahmad Tohari: Menimba Semangat dari Iven Sastra

Pada titik ini, cerita yang diangkat dalam Novel Omar Khayyam mengingatkan pada Novel lawas karya Iwan Simatupang dengan judul Ziarah yang diterbitkan kali pertama oleh penerbit Djambatan tahun 1969. Ziarah merupakan Novel yang mengisahkan kehidupan seorang pelukis berbakat yang kemudian ditinggal mati oleh istrinya. Kematian istrinya membuat dunianya kacau. Lukisan-lukisan yang dipuja-puji oleh kritikus seni dan diperebutkan oleh jutawan-jutawan yang mengaku mengerti seni tiba-tiba dibuangnya begitu saja ke dasar laut beserta alat-alatnya. Ia menempuh cara hidup bagai seekor burung camar di langit dan laut lepas, tak tentu arah.

Apakah yang tengah dilakukan oleh tokoh pada novel Ziarah dan Omar Khayyam merupakan sebuah keterpurukan dan bentuk dari sebuah kegagalan? S sama sekali bukan merupakan kegagalan.  Mereka hanya seolah tengah melemparkan kesuksesannya ke dasar laut, seperti orang yang tengah bosan dengan makan steak setiap hari lalu minta mencicipi asinnya garam dari ikan asin. Mereka berhasil menemukan rasa pada garam itu, sebagaimana juga menemukan, bahwa steak yang bagaimanapun enaknya tidaklah dapat mewakili lebih dari satu jenis perasaan semata. Begitu setidaknya Iwan Simatupang menggambarkan keterpurukan sang tokoh dalam novelnya, Ziarah.

Kesuksesan yang dilemparkan dan dibuang bukanlah keterpurukan dan sebuah kegagalan, namun ia adalah semacam tangga proses untuk menapaki jalan kreatifitas lain.

Baca juga:  Ta’liq ‘ala Risalah fi ‘Ilmil Isti’arat: Kitab Retorika Karya Syaikh Ahmad Nahrawi Banyumas (1911)

Omar Khayyam di tengah keterpurukannya justru bisa menggali proses kreatifitasnya mencipta syair-syair Khamriyyat; anggur (wine poem), yang di mata para sufi merupakan simbol kelezatan spiritual. Daripada menjerumuskan diri pada kenikmatan duniawi yang sementara, Omar Khayyam mengobati luka hatinya dengan ‘anggur-anggur’ itu, ia mabuk dalam kenikmatan Ilahi.

Dikutip dalam buku The Rubaiyat of Omar Khayyam Explained: bahwa kata-kata dalam puisi Omar Khayyam adalah perumpamaan dalam tradisi sufisme. Kata ‘anggur’ dalam banyak puisi Omar melambangkan kebahagiaan jiwa dan lambang cinta sejati kepada Tuhan.

Bertahun-tahun larut dalam kesedihan, Omar kemudian kian bergairah saat ia jatuh hati kepada Aisya, seorang budak perempuan yang jelita. Aisya membuatnya kembali pada aktifitas lamanya; bergelut dalam dunia keilmuan. Hingga puncaknya, Omar berhasil membuat sistem almanak yang memantik rasa kagum semua orang pada masanya. Itu semua berkat atas bimbingan kehidupan picisannya, yang bagi sebagian orang katanya tidak penting itu.

Oleh sebab-sebab itu pula barangkali mengapa Harold Lamb mengangkat sisi kehidupan picisan Omar. Tak lain, karena ia sadar bahwa cinta yang menghantar sang tokoh menjadi orang yang berada di garis persiapan menuju kematangannya sebagai tokoh Islam yang memiliki berbagai keahlian. WallahuA’lam. (RM)

Judul Buku: Omar Khayyam

Penulis: Harold Lamb

Penerjemah: Sushela M. Nur

Penerbit: Diva Press

TahunTerbit: Cetakan Pertama, Juli 2018

Tebal: 480 Halaman

ISBN: 978-602-391-549-1

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top