Sedang Membaca
Ahmad Tohari dan Wasilah Semut
Abdullah Alawi
Penulis Kolom

Wartawan, tinggal di Jakarta

Ahmad Tohari dan Wasilah Semut

Saya beberapa kali bertemu dengan sastrawan Ahmad Tohari. Di Gedung PBNU dan di rumahnya saat saya diajak sowan oleh Hamzah Sahal sekitar tahun 2013. Tak banyak yang saya ingat pada pertemuan itu. Yang paling membekas adalah saat makan bersama.

Waktu itu ia bercerita bahwa di meja makan pernah menerima dua orang tokoh NU yang kemudian menjadi rais aam. Pertama KH Sahal Mahfudh. Kedua, KH Ilyas Ruhiat.

Pada pertemuan saya di PBNU, ia meminta agar sesering mungkin membaca shalawat kepada Nabi Muhammad. Selain itu, ia pernah bercerita tentang sebuah wasilah. Istilah ini sangat populer di kalangan santri NU. Wasilah bisa diartikan perantara untuk maksud tertentu. Namun, namanya sastrawan, dapat saja ide untuk sesuatu yang baru. Ia menambah wasilah dengan menyebutnya wasilah riil.

Karena Ahmad Tohari juga seorang santri, ia melakukan dan bahkan sering berwasilah. Namun, karena santri yang juga sastrawan, ia melakukan wasilah dengan cara kreatif. Setidaknya dari sisi istilah.

Ia menyebutnya wasilah riil. Tujuannya sama untuk memperkuat maksudnya. Maka wasilah riil adalah sugesti dengan benda atau perbuatan yang riil.

Suatu ketika, Ahmad Tohari ditelepon salah seorang anaknya tentang usahanya melamar menjadi dosen di sebuah universitas terkenal di Yogyakarta. Ahmad Tohari merestui dan mendoakannya.

Baca juga:  Ahlam Mustaghanami, di antara Cinta dan Revolusi

Setelah itu, Ahmad Tohari merasa belum puas untuk sugesti anaknya. Ia ingin mendorongnya dengan wasilah riil. Ia termenung. Tapi bukan untuk menulis cerpen, bahan novel atau esai. Ia mengingat apa yang telah dilakukannya hari itu yang bisa dijadikannya untuk wasilah riil.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Setelah termenung berlama-lama, ia mengingat peristiwa di pagi hari. Saat itu ia sedang mengangsurkan kayu bakar pada sebuah tungku. Namun, refleks ia menarik kembali sebuah kayu bakar. Ia mendapati banyak semut yang merayap ke sana ke mari.

“Saya sebetulnya waktu itu bisa membunuh semut-semut itu dengan memasukkannya ke tungku,” kata Ahmad Tohari.

“Tapi saya tak melakukannya,” katanya.

Kemudian Ahmad Tohari membersihkan kayu bakar itu dari semut. Mereka selamat. Mereka hidup bebas mencari makan dan beranak pinak dan bersilaturahim dan melanjutkan kehidupan dengan cara mereka.

Peristiwa itu, oleh Ahmad Tohari, dijadikan wasilah untuk mendorong upaya anaknya.

“Ya Allah, tadi pagi saya bisa saja membunuh semut-semut itu. Tapi saya tidak melakukannya. Peristiwa itu, saya jadikan wasilah untuk anak niat saya,” begitu kira-kira wasilah Ahmad Tohari untuk anaknya.

Entah kebetulan atau bukan, beberapa bulan kemudian ditelpon anaknya yang melaporkan bahwa dirinya berhasil diterima sebagai dosen PNS.

Selamat ulang tahun ke-72 Pak Tohari, semoga sehat selalu.

Baca juga:  Soekarno di Sukamiskin, dari Rajin Baca Alquran hingga Tahajud
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top