Sedang Membaca
Virus, Kolera, dan Orang Jawa
Penulis Kolom

Ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula dalam Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), Ikatan Cendekiawan Falak Indonesia (ICFI), Jogja Astro Club dan International Crescent Observations Project (ICOP). Juga sebagai pembimbing dan pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, keduanya di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Virus, Kolera, dan Orang Jawa

Walter Otto Pt70ct6matq Unsplash

Coronavirus Wuhan sedang merebak, menyebabkan wabah radang paru-paru tak biasa yang telah menjalar ke 16 negara. Per 29 Januari 2020 TU pukul 06:00 WIB telah dilaporkan 5.578 orang yang terkonfirmasi terjangkiti penyakit ini. 131 orang diantaranya meninggal, seluruhnya merupakan warga China. Sebaliknya 106 orang diantaranya berhasil sembuh kembali, semuanya juga warga China.

Dari angka itu nampak bahwa coronavirus Wuhan tingkat fatalitasnya rendah (2,4 %). Atau jauh di bawah tingkat fatalitas serangan coronavirus SARS (10 %), penyebab wabah SARS 2003-2004 yang juga bermula dari China. Angka itu juga jauh di bawah tingkat fatalitas coronavirus MERS (34 %), penyebab wabah MERS 2012 – 2018 yang bermula dari Saudi Arabia.

Organisasi kesehatan sedunia WHO belum menjadikan serangan coronavirus Wuhan sebagai PHEIC (public health emergency of international concern). Emergency hanya berlaku di wilayah Republik Rakyat Tiongkok. Sedangkan kasus-kasus orang yang terjangkiti di luar Tiongkok terbukti terkait dengan riwayat perjalanan mereka ke propinsi Hebei (kota Wuhan adalah ibukota propinsi ini).

Ada argumen konspiratif yang berkembang bahwa coronavirus Wuhan merupakan agen senjata biologi, salah satu jenis senjata pemusnah massal. Ia terlepas ke lingkungan, entah disengaja ataupun tidak. Ada banyak hal untuk membantah argumen ini, namun tak saya tuliskan di sini saat ini.

Baca juga:  Sejarah Arafah, Mudzdalifah, dan Mina

IMHO, coronavirus Wuhan lebih mungkin muncul secara alamiah dipicu beragam faktor yang saling berkoalisi. Dalam perspektif mitigasi bencana, tak pernah ada penyebab tunggal untuk sebuah bencana. Selalu ada banyak faktor yang saling berkait berkelindan yang secara bersama-sama berkontribusi hingga berujung pada tingkat keparahan bencana tersebut. Faktor-faktor bagi merebaknya coronavirus Wuhan, mungkin, berhubungan kepadatan penduduk yang sangat tinggi di Tiongkok tengah – selatan, evolusi virus yang bersangkutan melalui mutasi genetik dan perubahan iklim.

Perubahan iklim? Ada contoh terkait itu, yang terjadi tepat dua abad silam. Dan wabah itu turut melanda Indonesia, mengubah jalannya sejarah. Itulah wabah kolera. Wabah ini disebabkan oleh bakteri kolera, yang normalnya hanya endemis di lembah Sungai Gangga (India). Namun Letusan Tambora 1815 mengubah jalan cerita. Dampak dari letusan yang sangat dahsyat itu menurunkan suhu udara rata-rata permukaan Bumi hingga 0,7º Celcius di bawah normal. Dalam kejadian seperti ini tingkat penurunan suhu udara permukaan di kawasan subtropik dan lingkar kutub selalu lebih besar ketimbang kawasan tropik. Demikian halnya di titik-titik yang terletak di dataran tinggi / pegunungan ketimbang di pantai.

Lembah sungai Gangga terletak di kawasan subtropis sehingga mengalami pendinginan lebih besar. Siapa nyana anomali suhu ini mengubah perilaku bakteri kolera. Di tahun 1817 TU, penyakit yang semula hanya ada di lembah sungai Gangga mulai menjalar keluar. Setahun berikutnya praktis seluruh India sudah terjangkiti. Tiga tahun kemudian, kolera sudah mulai menjangkiti daerah-daerah di Thailand. Dan hanya dalam empat tahun kemudian, wabah kolera sudah melanda kawasan yang sangat luas yang dibatasi pulau Jawa di sisi timur, Oman di sisi barat dan China di titik paling utara.

Baca juga:  Dari Mana Aku Terpapar Wabah Covid-19?

Amukan wabah kolera di pulau Jawa menerjang tanpa ampun. Ia mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan 1236 H (Mei – Juni 1821 TU). Mulai ‘mendarat’ di Semarang, wabah kolera akhirnya bergentayangan ke segenap penjuru. Mulai dari Batavia (Jakarta) di sebelah barat hingga Surabaya di sebelah timur. Korban jiwa yang direnggutnya sungguh tak terperi. Di kota Surabaya dan kawasan tapal kuda JawaTimur saja tercatat 110.000 orang meninggal. Itu setara dengan 7 % dari populasi penduduk, atau dengan kata lain 1 dari 14 orang Surabaya dan tapalkuda Jawa Timur meregang nyawa dalam amukan wabah kolera.

Orang Jawa mengenang masa-masa itu sebagai tahun-tahun penuh nestapa. Wabah kolera di bulan suci Ramadhan, gagal panen padi, gangguan berat di perkebunan tebu dan industri gula, beratnya beban hidup seiring praktik penjajahan gaya batu a-la Belanda dengan aneka pajaknya, semakin mendalamnya campurtangan asing ke poros kekuasaan Jawa serta rusaknya tatanan sosial membuat orang-orang semakin muak. Ditambah dengan ramalan Joyoboyo, meletusnya Gunung Merapi dan kerinduan akan datangnya ratu adil membuat Faktor-faktor akumulatif itu melandasi munculnya perlawanan terbesar orang Jawa terhadap kekuasaan kolonial. Perang Dipanegara. (RM)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
2
Terhibur
1
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Scroll To Top