Penulis Kolom

Penulis buku "Ada Apa dengan China?" (Mojok, Septemper 2019), menulis esai-esai sejarah, agama, dan politik China di beberapa media. Alumni Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Saat ini sedang menyelesaikan pendidikan jenjang S3 bidang politik internasional di Sun Yat-sen University, Guangdong, RRC.

Bagaimana Sebaiknya Muslim Kita Membaca Corona, Uighur, dan Xinjiang

Screenshot 20200225 1218242.png

Kelakuan netizen Indonesia memang menggemaskan. Selain demen teori konspirasi, mereka kayaknya juga sangat suka mengait-ngaitkan fenomena apa saja dan di mana saja dengan agama. Mungkin begitulah “masyarakat +62”, cukup “agamis”.

Tak heran kalau virus Corona (nama resmi: Covid-19) yang mewabah di China pun tak luput dari telaah “agamis” mereka. Maklum, Corona melanda China saat negara itu tengah menjadi sorotan masyarakat global lantaran isu Uighur –yang notabene saudara seiman mayoritas warga Indonesia. Dari situ pengguna internet negara kita kemudian berhasil menciptakan setidaknya tiga versi teori terkait Uighur dan Corona.

Pertama, Corona sengaja dibikin oleh pemerintah Komunis China untuk melakukan pembunuhan massal secara sembunyi-sembunyi terhadap muslim yang merupakan penduduk dengan populasi terbesar di Wuhan. Ini awalnya ramai sekali persebarannya di group-group Whatsapp yang saya ikuti. Belakangan, karena ada yang membantah, reduplah ini teori. Jelas, penduduk muslim di Wuhan bukan yang terbesar di China. 

Kedua, Corona adalah azab Allah lantaran pemerintah Komunis China telah berbuat zalim terhadap muslim, wabil khusus terhadap suku Uighur yang bermastautin di Xinjiang, dengan semena-mena menjebloskan mereka ke dalam apa yang oleh media-media Barat sebut sebagai “kamp konsentrasi”. Ini masih banyak yang mengamini sekalipun baru-baru ini Korea yang tak ada sangkut pautnya dengan “penindasan” Uighur juga menjadi negara yang warganya paling banyak terjangkit Corona.

Ketiga, ini teori terbaru, Corona adalah “tentara Allah”. Penemu teori ini adalah Ustaz Abdul Somad. Oleh sebab Corona adalah “tentara Allah”, kata Ustaz Somad, di Xinjiang “tidak ada yang kena” Corona. Kendati bejibun jemaahnya yang percaya, sayangnya teori ciptaan Ustaz Somad ini akan terbantah oleh data yang ada.

Komite Kesehatan Xinjiang (Xinjiang Weisheng Jiankang Weiyuanhui) mendata, sampai tanggal 23 Februari pukul 12 malam, total warga Xinjiang yang terjangkit Corona adalah sebanyak 76 orang. Di antara mereka, ada 2 orang yang meninggal dan 28 orang yang berhasil disembuhkan. Ini dihitung sejak otoritas setempat pertama kali memastikan ada 2 orang Xinjiang yang pulang kampung dari belajar dan bekerja di Wuhan positif terjangkit corona, pada 23 Januari lalu. Di samping itu, masih ada 4.526 penduduk Xinjiang yang tengah dikarantina untuk menjalani observasi medis.

Walakin, jika dibandingkan dengan wilayah lain yang penduduknya tidak didominasi muslim, daerah yang masyarakatnya banyak menganut Islam (seperti Qinghai, Gansu, dan Ningxia) memang relatif lebih sedikit yang terkena Corona. Namun, penyebabnya sepertinya bukanlah melulu karena faktor keislamannya, melainkan juga kondisi geografis daerahnya. Sebab, di Tibet yang mayoritas masyarakatnya adalah penganut Buddha dan wilayahnya berada di dataran tinggi, malah hanya ada 1 penduduknya yang terkena Corona dan itu pun sudah dinyatakan sembuh. Hingga tulisan ini dibuat, belum ada orang Tibet yang terkena Corona lagi.

Karena corona sudah menembus Xinjiang, diaspora Uighur di luar negeri banyak yang khawatir terhadap kondisi kesehatan Uighur yang berada dalam “kamp konsentrasi” –pemerintah China menyebutnya ‘zhiye jineng jiaoyu peixun zhongxin‘, pusat pelatihan pendidikan vokasi.

“Warga [Uighur di Xinjiang] sudah mulai panik. Keluarga kami ada di sana, harus berurusan dengan kamp dan virus, dan kami tidak mengetahui apakah mereka punya cukup makanan dan masker,” kata Dilnur Reyhan, sosiolog bersuku Uighur yang bermukim di Prancis, kepada Channel News Asia (13/2/2020).

Karena itu, “Kita tidak boleh menunggu sampai adanya berita tentang kematian ratusan orang di dalam kamp karena virus Corona,” tulis petisi di change.org yang menuntut penutupan kamp konsentrasi. Pasalnya, kalau Corona bisa dengan mudah mewabah di seluruh China, “kita bisa dengan gampang mengasumsikan bahwa virus ini akan menyebar dengan cepat di seluruh kamp,” lanjut petisi yang ditandatangani tiga ribuan orang itu.

Kekhawatiran ini mungkin bisa diterima akal. Sebab, “kamp-kamp itu kotor, infrastrukturnya jelek, dan penuh sesak dengan tahanan,” kata seorang yang, dikutip Business Insider (24/1/2020), disebut-sebut berhasil kabur dari ‘kamp konsentrasi’ namun tak disebutkan siapa namanya.

Business Insider lanjut mengutip kesaksian Sayragul Sauytbal yang pada 17 Oktober 2019 silam mengungkap kepada portal berita Israel Haaretz bahwa “makanan [di dalam kamp] buruk, tidak ada waktu yang cukup untuk istirahat, dan sanitasinya jelek sekali.” 

Sayragul adalah orang Xinjiang bersuku Kazakhs yang mengaku berhasil kabur dari kamp konsentrasi pada Maret 2018 lalu. Tetapi, kalau menurut harian Global Times (3/12/2019) yang mengutip juru bicara pemerintah Xinjiang, Sayragul sebenarnya tidak pernah dimasukkan ke ‘kamp konsentrasi’. Sebelum lari ke luar negeri, ia adalah tersangka penipuan uang sebesar 249 ribu yuan (atau sekitar 35.361 dolar Amerika). Dulunya, pekerjaanya adalah kepala TK tapi dipecat lantaran tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan lantas dipindahtugaskan menjadi guru SD.

Bila ‘kesaksian’ Sayragul menyingkap sisi gelap dalam ‘kamp konsentrasi’, dokumen rahasia yang dibocorkan Konsorsium Jurnalis Investigatif Internasional (ICIJ) pada 23 November 2019 lalu justru menceritakan sebaliknya.

Sejak poin pertamanya, dokumen rahasia yang salah satunya berupa telegram kiriman Zhu Hailun (sekjen Komite Politik dan Hukum Partai Komunis China di Xinjiang) itu langsung memerintahkan pelarangan terjadinya insiden keamanan pangan dan wabah endemik di dalam ‘kamp kosentrasi’.

Caranya, ditulis dalam poin keenam, ‘tahanan’ yang ada di sana harus diperiksa kesehatannya secara berkala; klinik kesehatan beserta tenaga medis dan alat-alat sekaligus obat-obatannya harus tersedia dengan memadai; bagi yang terkena penyakit menular harus dikarantina; makanan yang disediakan sehari-hari harus terjamin kehigienisannya mulai dari saat pembelian, pemasakan, penyimpanan, hingga pendistribusiaan. 

Jika komitmen pemerintah itu diejawantahkan sungguh-sungguh, kekhawatiran akan kesehatan dan ketersediaan makanan untuk orang-orang yang berada dalam ‘kamp konsentrasi’ jelas bisa diminimalisir. Itu kalau kita masih tidak percaya kepada Gubernur Xinjiang Shohrat Zakir yang dalam jumpa persnya pada 9 Desember 2019 menegaskan  bahwa murid-murid yang ‘disekolahkan’ di pusat pelatihan pendidikan vokasi sudah lulus semua –dalam artian sudah dipulangkan ke keluarga masing-masing.

Mungkin karena sudah tidak sibuk mengurus murid-murid pusat pelatihan pendidikan vokasi dan sedikit warganya yang terpapar Corona, makanya pemerintah Xinjiang bisa dengan sigap mengirimkan bantuan makanan dan dokter-dokternya ke Hubei sebagai provinsi yang paling terdampak pandemik Corona ini.

Seorang pria Uighur bernama Ba Baintolle dari Kabupaten Wenquan, Xinjiang, juga dikabarkan menjual 11 kudanya yang laku seharga 88.000 yuan (kira-kira 12,570 dolar Amerika) untuk disumbangkan ke Hubei. Katanya, itu sebagai balas budi sebab Kabupaten Tongcheng di Hubei tiap tahunnya menyumbangkan 300.000 yuan (sekira Rp600 juta) untuk pembangunan kampungnya Ba Baintolle. Pemerintah pusat China memang sudah lama punya kebijakan ‘dui kou yuan jiang‘ yang meminta provinsi-provinsi maju di negaranya untuk menyisihkan sekian persen pendapatannya buat disumbangkan ke Xinjiang. 

Ada kalimat berbunyi “pin jian zhi jiao bu ke wang” dalam Kitab Han Akhir (Hou Hanshu) yang ditulis Fan Ye (398-445). Artinya, “jangan sekali-kali melupakan kawan yang bersama kita kala kesusahan”. 

Kita doakan semoga badai ini segera berlalu.

Baca juga:  Kisah Unik Peranakan Tionghoa Naik Haji
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Scroll To Top