Sedang Membaca
Ketika Imam Nawawi Belajar Nahwu pada Imam Ibnu Malik
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ketika Imam Nawawi Belajar Nahwu pada Imam Ibnu Malik

Muhammad Faisol

Di kalangan para pakar, ulama ini digelari al-imam, al-hafiz, al-faqih, dan al-muhaddis. Ia juga bergelar pembela sunnah, penghancur bid’ah, dan yang menghidupkan agama. Gelar-gelar prestisius berderet itu menunjukkan kapasitas dan kedalaman ilmunya. Siapakah orang hebat ini?

Adalah Muhyiddin Abu Zakaria jawabnya. Lengkapanya bernama Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Mari bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hazm.

Ia lahir di Nawa, Syiria pada tahun 631 H dan w. 676 H (umurnya hanya 45 tahun). Karena berasal dari Nawa itulah, ulama original ini dikenal dengan nama Imam Nawawi (jangan keliru dengan Syekh Nawawi dari Banten). Karyanya sangat banyak dan dalam beragam, semuanya menjadi rujukan penting dalam setiap disiplin ilmu.

Namun, keluasan ilmu yang dimilikinya tidak menghalangi Imam Nawawi untuk berdiskusi dan bertanya kepada para guru dan ulama lain. Salah satunya adalah Imam Ibnu Malik. Bahkan sering kali Imam Nawawi bertanya kepada Imam Ibnu Malik khususnya terkait tata bahasa Arab.

Imam Ibnu Malik, yang bernama lengkap Muhammad bin Abdullah bin Abdullah bin Malik ini memang masyhur sebagai pakar tata bahasa Arab, meski orang bukan orang Arab. Karyanya yang berjudul “al-Khulashah” merupakan masterpiece di bidang Nahwu (membahasa tata bahasa) dan Sharf (membahas kata). Kitab yang berisi seribu bait lebih itu kemudian lebih masyhur dengan nama Alfiyah Ibnu Malik, sangat terkenal di pesantren kita.

Baca juga:  Moses bin Maimoen, Rabbi Yahudi di Tengah Peradaban Islam

Di samping itu ulama dari Andalusia (Spanyol) ini terkenal juga ulama yang tekun beribadah. Bahkan orang-orang di sekitarnya melukiskan bahwa Imam Ibnu Malik tidak terlihat kecuali sedang salat, membaca Alquran, membaca buku, atau tengah mengarang kitab.

Suatu ketika Imam Nawawi bertanya kepada Imam Ibnu Malik perihal suatu hadis, yaitu:

قَالَ إِنَّ لَنَا الْعُزَّى وَلَا عُزَّى لَكُمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا تُجِيبُوا لَهُ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا نَقُولُ قَالَ قُولُوا اللَّهُ مَوْلَانَا وَلَا مَوْلَى لَكُمْ

Abu Sufyan berkata: “Kami punya tuhan Hubal sedangkan kalian tidak punya”.

Nabi kemudian bersabda, “Mengapa kalian tidak membalasnya?”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulallah, apa yang harus kami katakan?”

Nabi lalu bersabda lagi, “Ucapkanlah: Allah Pelindung kami sedangkan kalian tidak punya pelindung.”

Imam Nawawi bertanya kepada Imam Ibnu Malik, kenapa dalam lafaz ‘ala tujibu’ dalam hadis tersebut “nun”-nya tidak ada, karena mestinya, sesuai dengan kaidah, af’alul khamsah ketika rafa’ tandanya adalah “nun” itu (tsubutun nun).

Imam Ibnu Malik kemudian menjawab:

“Nun yang menjadi tanda i’rab rafa bagi af’alul khamsah itu merupakan pengganti dari tanda asli rafa’, yaitu dlammah. Dan dlammah terkadang diringankan bacaannya (takhfif) dengan cara diganti dengan harakat sukun.

Baca juga:  Mengenal Etnis Berber, Nenek Moyang Zinedine Zidane

Misalnya dalam surah al-An’am ayat 109:

وَمَا يُشۡعِرُكُمۡ أَنَّهَآ إِذَا جَآءَتۡ لَا يُؤۡمِنُونَ

Baca Juga

“Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman.”

Abi ‘Amr membaca yusy’irukum pada ayat itu dengan yusy’irkum. Huruf Ra’ nya disukun.

“Begitu juga dalam Surah al-Zukhruf ayat 80 :

بَلَىٰ وَرُسُلُنَا لَدَيۡهِمۡ يَكۡتُبُونَ

“Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka”

“Sebagian ulama terdahulu membaca ‘rusuluna’ dengan ‘rusulna’, dimana huruf ‘lam’-nya di-sukun.”

“Nah, af’alul khamsah itu juga dapat di-takhfif dengan cara dibuang ‘nun’-nya, sebagaimana contoh-contoh di atas yang dibuang harakatnya dan diganti dengan sukun.

Coba lihat kedua ulama itu, mereka memberikan teladan yang sungguh indah: saling belajar. (Dikutip dari: Ajwibah ‘Ala Masa‘il Sa‘alaha al-Nawawi Fi Alfaz Min al-Hadits)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top