Empat Ulama Besar yang Menguasai Bahasa Semit

Kholili Kholil

Bahasa Arab adalah rumpun bahasa Semit bersama dengan Bahasa Ibrani, Suryani, Aramaic, Amhar Ethiopia, dan lain-lain. Ketika Arabic Conquest dimulai pada sekitar abad ketujuh, tentunya bangsa Arab mengalami persentuhan budaya dengan daerah sekitarnya.

Banyak para pemeluk agama saat itu berpindah menuju agama Islam. Hal ini pada akhirnya memperkuat hegemoni Bahasa Arab. Saat itu, siapa pun yang berpendidikan akan berucap dengan Bahasa Arab. Namun, hegemoni ini tidak lantas membuat bahasa lain punah. Banyak di antara mereka masih bertutur dalam bahasa regional yang ada ketika itu.

Berikut beberapa ulama Islam yang memiliki indikasi menguasai bahasa Semit. Kajian ini tidak dimaksudkan sebagai hal yang pasti, namun kajian ini hanya mencoba menunjukkan penguasaan pengetahuan para ulama dengan bahasa Semit. Yang kami maksud dengan ‘ulama’ di sini adalah ahli agama Islam, maka Hunain bin Ishaq dan mutarjim (translator) lain yang non-Muslim serta tokoh lain yang bukan ulama tidak kami masukkan.

 

1. Ibnu Qutaibah

Beliau bernama lengkap Abu Muhammad Abdullah bin Abdul Majid Ibnu Qutaibah. Ia lahir pada 828 M. Beliau adalah muhaddits, ahli fikih, sejarawan, serta satrawan besar. Ia berasal dari Dinawar yang saat ini termasuk Iran bagian Barat.

Mengenai penguasaannya terhadap Bahasa Semit, dalam Tafsir Gharibul Qur’an ketika sampai pada Al-Baqarah ayat 104, “Wahai orang-orang beriman! Janganlah kalian berkata ra’ina tapi katakan ‘unzhurna’” beliau berkata, “Orang mukmin dilarang mengatakan ra’ina karena kata ini bermakna umpatan dalam bahasa orang-orang Yahudi.” (Tafsir Gharibul Qur’an; h. 69; Darul Kutub Ilmiyyah; 1398 H).

Hal ini bisa jadi hanya menunjukkan bahwa Ibnu Qutaibah mengerti sedikit tentang Bahasa Ibrani (Hebrew, bahasa orang Yahudi), tetapi ucapan beliau dalam Ta’wil Musykilil Qur’an berikut akan menguatkan penguasaan beliau akan Bahasa Ibrani. Beliau berkata:

وقـرأتُ في التوراة بَعْدَ ذِكْرِ أَنْسابِ نوح صلى الله عليه أنهم تَفَرَّقُوا في كل أرضٍ وكَانتْ الأرضُ لسانًا واحدًا

“Saya membaca dalam Taurat ketika menjelaskan silsilah Nuh (semoga Tuhan merahmatinya) bahwa mereka menyebar ke seluruh bumi. Dulunya bumi hanya memiliki satu bahasa.” (Ta’wil Musykilil Qur’an; h. 81; Darut Turats; 1393 H).

Baca Juga:  Majalah Arena dan Pesantren

Dalam dua tempat yang berbeda di kitab yang sama beliau juga mengatakan membaca Taurat (h. 103-104). Bahkan dalam ‘Uyunul Akhbar ia juga berkata bahwa dirinya membaca Injil (‘Uyunul Akhbar, jilid 2, h. 281).

Seseorang boleh saja menganggap bahwa Ibnu Qutaibah hanya membaca terjemah Arabnya. Hal ini pun ia akui sendiri bahwa masa itu sudah ada terjemah Taurat dalam Bahasa Arab. Dalam Ta’wil Musykilil Qur’an halaman 21 ia berkata,

“Oleh karena itu tidak akan ada yang mampu menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa lain sebagaimana Injil diterjemahkan dari Suryani ke dalam Bahasa Ethiopia (Bahasa Amhar salah satu rumpun Bahasa Semit, pen) dan Romawi, dan juga Taurat dan kitab Allah lain ke dalam Bahasa Arab.”

Ibn Qutaibah mengakui bahwa Taurat diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, namun ia tampaknya tidak tahu penerjememahan Injil ke dalam Bahasa Arab.

Dengan berdasarkan ucapannya dalam ‘Uyunul Akhbar yang berkata bahwa dirinya membaca Injil (dengan asumsinya tidak tahu terjemahan Injil ke dalam Bahasa Arab), maka ada kemungkinan beliau juga menguasai Bahasa Suryani. Dan dengan demikian, tidak menutup kemungkinan beliau juga membaca Taurat dalam Bahasa Ibrani. Wallahu a’lam.

 

2. Ibnu Hazm

Ia merupakan ulama besar yang berasal dari Spanyol. Hampir tidak ada satu fan ilmu kecuali ia ahli di bidangnya. Ibnu Hazm hidup di abad sembilan Masehi. Dengan pengetahuannya yang luas ini, sangat tidak mustahil jika ia  menguasai beberapa Bahasa Semit. Apalagi Muslim Andalusia di masa beliau berhubungan sangat harmonis dengan orang-orang Yahudi.

Dalam Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam jilid satu halaman 31 ia berkata:

“Namun yang saya yakni adalah bahwa Bahasa Ibrani, Suryani, dan Arab—yang mana bahasa ini adalah bahasa Mudlar dan Rabiah bukan bahasa Humair—adalah bahasa yang satu rumpun. Bahasa ini berubah karena penuturnya berpindah tempat dan mulai muncul perubahan pengucapan. Sama seperti orang Andalus yang ingin mencoba logat Kairouan dan orang Kairouan yang ingin mencoba logat Andalus.”

Baca Juga:  Mengenal Alifuru

Di halaman selanjutnya ia berkata:

“Barangsiapa yang mengangan-angan Bahasa Arab, Ibrani, dan Suryani, maka dia akan tahu bahwa perbedaan di antara bahasa itu hanya karena perbedaan geografis. Pada hakikatnya bahasa ini adalah satu logat.”

Ia juga mencontohkan perbedaan-perbedaan antarbahasa ini seperti tsalatsah dinar yang dalam Bahasa Semit pengucapannya menjadi tsalatsda; kata ‘inab menjadi ‘ainab; dan lain-lain.

Penuturannya ini—menurut hemat penulis—menunjukkan bahwa Ibnu Hazm memiliki penguasaan tentang Bahasa Semit. Apalagi jika melihat kedalaman ilmu beliau tentang agama-agama kuna dalam Al-Milal-nya, maka tidak mustahil bahwaia menguasai Bahasa Semit. Ditambah lagi iklim Andalusia yang berdampingan secara harmonis dengan orang Yahudi yang notabene penutur Bahasa Ibrani.

 

3. Al-Ghazali

Ya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Hujjatul Islam, pelestari Mazhab Syafi’i, dan seorang sufi hebat. Awalnya penulis sedikit ragu ketika hendak mencari tema ini dalam karyanya. Karena selama ini, Al-Ghazali tidak masyhur sebagai ulama yang bisa berbahasa Semit. Selama ini beliau hanya masyhur menguasai Bahasa Persia. Namun ternyata fakta menunjukkan hal sebaliknya.

Bukti ini bisa didapat dalam karya beliau berjudul Ar-Raddul Jamil. Kitab ini tidak diragukan lagi adalah karya Al-Ghazali, ujar muhaqqiq-nya, karena kitab ini tercantum sebagai karangan Al-Ghazali dalam Ittihaf, Kasyfuz Zhunun, dan lain-lain.

Baca Juga

Dalam kitab ini, Al-Ghazali sering sekali mengutip Taurat serta Injil. Di halaman 29 ia berkomentar tentang Surat Thaha ayat 22. Berikut kami kutip:

ولفظ التوراة وهنا يا ذو مصورا عث كالشولغ وتفسير هذا اللفظ العبراني بالعربية: وهذه يدك برصاء كالثلج

“Kalimat Taurat (dari Surat Thaha ayat 22) adalah sebagai berikut: (Al-Ghazali menulis transliterasi fonetis Bahasa Ibrani ke dalam Bahasa Arab, pen). Arti kalimat Ibrani ini dalam Bahasa Arab adalah ‘Inilah tanganmu yang terkena kusta seperti salju.” (Ar-Raddul Jamil li Ilahiyyati Isa bi Sharihil Injil; hlm 29; cet Maktabah Ashriyyah; 1420 H).

Barangkali untuk memastikan bahwa Al-Ghazali fasih berbicara Ibrani diperlukan penelitian akademis lebih lanjut. Namun menurut penulis pribadi, hal ini sudah cukup untuk membuat penulis yakin bahwa Al-Ghazali menguasai Bahasa Ibrani meskipun tidak sangat fasih.

Baca Juga:  Pangeran Diponegoro sebagai Santri Muda dan Santri Lelana

 

4. Abu Hayyan

Ia bernama lengkap Muhammad bin Yusuf, lahir di Granada dan kemudian berhijrah ke Kairo karena berkonflik dengan gurunya. Mazhabnya  Zhahiriyyah. Ia juga seorang pengarang tafsir masyhur, Bahrul Muhith.

Dalam Bahrul Muhith, ketika menafsiri kata kaukab (bintang), Abu Hayyan mengutip perkataan Al-Shaghani yang berkata bahwa kata itu berasal dari derivasi kata ‘w-k-b’. Huruf kaf yang pertama adalah huruf tambahan. “Betapa mengejutkannya,” Abu Hayyan mengomentari pendapat Al-Shaghani, “Perkataan seperti ini muncul dari ahli gramatika yang cerdas!” Menurutnya Al-Shaghani salah. Karena kata kaukab berasal dari ‘k-w-b’ dan kaf kedua adalah huruf tambahan, bukan kaf pertama.

Ia berkata bahwa bentuk (isytiqaq) ini berasal dari Bahasa Habasyah (Bahasa Amhar, salah satu rumpun Bahasa Semit). Menurutnya, orang Ethiopia sering menambahkan tambahan kaf pada kata tertentu seperti farsi menjadi farsaki. Lebih lanjut ia berkata:

“Saya telah menjelaskan hal ini dalam kitab saya yang menjelaskan tentang Bahasa Amhar berjudul Jala’ul Ghabsyi ‘an Lisanil Habsyi. Kedua bahasa ini memang memiliki banyak kesamaan dalam kata, kaedah, dan susunan gramatikal seperti huruf mudhara’ah, ta’ ta’nits, dan hamzah ta’diyyah.” (Bahrul Muhith; jilid 4; h. 167; cet Darul Kutub Ilmiyyah; 1413 H).

Dari sini tampak jelas bahwa Abu Hayyan fasih berbahasa Amhar, yaitu rumpun Bahasa Semit yang cukup dekat dengan Bahasa Arab. Hal ini bukan tidak mungkin bagi Abu Hayyan, karena dalam Nafhut Thib (2/552-553) Al-Maqarri menyebutkan bahwa Abu Hayyan juga fasih berbahasa Turki dan Persia.

Bahkan ia mengarang dua kitab tentang gramatika dua bahasa ini: Zahwul Mulki fi Nahwi Turki (nahwu-nya orang Turki), dan Manthiqul Kharsi fi Lisanil Farsi. Sedangkan untuk penguasaannya akan Bahasa Ibrani atau Suryani, penulis tidak bisa memastikan hal ini—meskipun ada beberapa serpihan bukti akan hal ini dalam tafsirnya.

Demikian empat ulama yang menurut penulis memiliki penguasaan akan Bahasa Semit non-Arab.

Lihat Komentar (0)

Komentari