Sedang Membaca
Mengabadikan Pendekar Pena Bernama Mahbub Djunaidi
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mengabadikan Pendekar Pena Bernama Mahbub Djunaidi

Abraham Zakky Zulhazmi

Para santri sebuah pesantren di Surakarta berkumpul di aula. Mereka duduk lesehan beralas karpet hijau. Santri putra dipisah dengan santri putri. Pagi itu mereka bersiap mengikuti bedah novel Dari Hari ke Hari karya Mahbub Djunaidi. Tiga pembicara dihadirkan: seorang cerpenis asal Solo, editor buku indie Yogyakarta dan perwakilan dari pesantren.

Salah seorang pembicara melempar pertanyaan kepada para santri, kenalkah mereka dengan Mahbub Djunaidi?

Sebagian besar geleng kepala sambil senyum malu-malu. Sang penanya maklum. Ia lalu melempar pertanyaan berikutnya, apakah santri-santri di sini suka membaca?

Banyak yang menjawab suka membaca. Mereka lalu diminta menyebutkan penulis favorit. Awalnya tak ada yang menjawab. Malu-malu kucing. Hingga seorang santriwati memberanikan diri, ia sebutkan nama penulis favoritnya: Tere Liye. Santri lain menimpali: Habiburrahman El Shirazy. Andrea Hirata. Dan seterusnya.

Baca juga:

Saya berada di sana, mewakili Surah yang menerbitkan ulang novel Dari Hari ke Hari. Mendengar jawaban para santri saya tidak gumun. Mahbub bukan penulis yang populer hari ini. Maklum jika banyak yang belum tahu, bahkan nyaris tak ada. Tak aneh pula jika mereka menyebut Tere Liye dan Habiburrahman El Shirazy. Karya dua penulis itu memang sedang laris-larisnya. Jika saya adalah salah satu dari mereka, mungkin saya juga akan membaca buku-buku yang sama.

Dari Hari ke Hari juga dibedah di sejumlah kampus di Jakarta. Rupanya banyak yang belum kenal Mahbub Djunaidi, terutama karya-karyanya, bahkan aktivis-aktivis PMII sekalipun. Mereka sebatas mengetahui bahwa PMII didirikan oleh Mahbub Djunaidi. Sudah. Bahwa sang pendiri juga seorang penulis cemerlang, masih merupakan pengetahun baru bagi sebagian mereka. Mengkhawatirkan memang. Tapi mau bagaimana lagi, hari ini akses terhadap buku-buku Mahbub memang relatif sulit. Kalaupun ada, buku Mahbub dijual cukup mahal karena tergolong buku langka.

Baca juga:  Mu'minah binti Bahlul dari Damaskus

Terkait ‘tidak populernya’ Mahbub, saya teringat sebuah cerita jenaka yang kerap dikisahkan teman saya saban membahas Mahbub. Suatu kali digelar diskusi mengenai hayat dan karya Mahbub Djunaidi di sebuah kampus. Banyak mahasiswa datang. Teman saya berdiri di belakang bersama peserta lain yang tidak kebagian kursi. Tiba-tiba seorang mahasiswa di samping teman saya bertanya pada temannya: “eh, Mahbub Djunaidi yang mana sih? Datang nggak dia?”

Mendengar pertanyaan itu teman saya tertawa dalam hati. Almarhum Mahbub mungkin juga senyum-senyum di alam sana. Ia yang melahirkan banyak karya bagus dan penting, pernah mendirikan organisasi besar, nyatanya tidak terkenal-terkenal amat. Untunglah belakangan beberapa orang berupaya membuat karya-karya Mahbub moncer kembali. Dengan cara menerbitkan ulang dan menggelar diskusi.

Saya mungkin akan sama dengan mahasiswa yang bertanya Mahbub-Djunaidi-yang-mana andai tidak berkenalan dengan teman-teman Surah. Nama Mahbub hanya terdengar samar-sama belaka di telinga saya. Hingga pada suatu hari saya menemukan novel Dari Hari ke Hari terbitan Pustaka Jaya seharga Rp 10.000 dijual di bazar buku di kampus.

Saya membelinya tapi tak segera saya baca. Dorongan membaca muncul ketika teman-teman di Ciputat menemukan ‘hebatnya Mahbub’. Mereka menulis ulang esai-esai Mahbub yang renyah dan jenaka lalu memuatnya di pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com. Kerap pula mereka mengadakan diskusi-diskusi kecil mengulik karya Mahbub.

Khatam Dari Hari ke Hari saya tahu bahwa Mahbub bukan penulis sembarangan. Ia bertutur dengan sangat baik dan lancar. Beda Mahbub dengan penulis Indonesia lain adalah kepiawaiannya menyisipkan humor. Di beberapa bagian kita akan dibuat tersenyum dan terbahak oleh Mahbub. Selain itu, saya rasa Dari Hari ke Hari juga merupakan ‘dokumen penting’ karena momotret Indonesia di masa revolusi. Kota Solo sebagai latar cerita digambarkan sangat apik. Menjadi istimewa bagi saya karena selama enam tahun saya pernah mondok di Solo.

Baca juga:  Negara Islam Menurut Husain Haikal

Terpesona novel Dari Hari ke Hari, saya mencari karya-karya Mahbub yang lain. Untungnya, saat kuliah dulu, saya ‘bertemu’ Mahbub Djunadi di “Rumah Surah”. Saya bertemu dengan orang-orang yang juga menggilai Mahbub. Seorang teman di komunitas tersebut menemukan novel Animal Farm (George Orwell) terjemahan Mahbub di sebuah toko buku bekas.

Tak berpikir lama, kami langsung meminta novel itu di foto kopi banyak-banyak lalu dibagikan ke anggota Surah. Begitu juga ketika saya secara tak sengaja bertemu novel tipis Cakar-Cakar Irving yang juga hasil terjemahan Mahbub di Blok M. Hari itu juga langsung digandakan karena teman-teman amat penasaran ingin membaca. Surah —dengan dukungan dana Yayasan Saifuddin Zuhri– berhasil menerbitkan ulang novel Dari Hari ke Hari, yang sebelumnya diterbitkan Pustaka Jaya. Sekarang novel tersebut cetak ulang oleh penerbit di Jogja.

Kami sepakat bahwa Mahbub adalah seorang penerjemah yang mantap. Ada sisipan suara Mahbub sendiri dalam terjemahan, yang tentu saja jenaka. Rasanya seperti membaca ‘novel baru’ anggitan Mahbub. Bayangkan saja, di novel Cakar-Cakar Irving karya Art Buchwald terjemahan Mahbub ada tokoh yang berseru “Astagfirullah!”, “Ya Allah!”. Jika bukan Mahbub mungkin tidak ada yang ‘berani’ melakukan penerjemahan serupa itu.

Baca Juga

Saya selanjutnya berburu esai-esai Mahbub. Teman-teman di Surah (yang sebelumnya telah membuat blog Pojok Mahbub Djunaidi) gandrung betul dengan esai-esai Mahbub. Mereka sepakat: hari ini rasanya sulit sekali menemukan seorang esais atau kolumnis yang mampu menulis dengan baik sekaligus jenaka seperti Mahbub. Selain jenaka Mahbub juga menulis beragam tema. Mahbub memang mengibaratkan dirinya sebagai tukang loak, apa saja diangkut.

Kekuatan esai Mahbub saya kira adalah permisalan-permisalan yang ‘nakal’ dan khas. Simak misalnya cara Mahbub menggambarkan majalah Tempo dalam esainya yang berjudul Akil Balig:

“Majalah yang dipimpinnya itu seperti pisang dempet, langka dan unik, karena menganut jurnalistik gaya baru, menggabung kaedah pers dan sastra, dua jenis makhluk yang dulunya saling mendelik dan cela. Itu sebabnya kebanyakan orang membacanya sambil jongkok, semata-mata karena asyik dan kenes, mempermainkan bahasa seakan bahasa itu milik om dan tentenya sendiri.”

Baca juga:  Pelajaran dari Kalimat Kontroversi Gus Dur

Sukar membayangkan cara Mahbub mendapatkan ilham menyamakan Tempo dengan pisang dempet. Sama sulitnya menemukan ungkapan “seakan bahasa itu milik om dan tantenya sendiri”. Beberapa pembaca mungkin akan mengumpat saking gemasnya membaca esai Mahbub. Sayangnya, sekali lagi, cara menulis seperti itu nyaris tak dapat ditemukan lagi di koran dan majalah kita hari ini.

Hal lain yang saya kenang dari Mahbub adalah pergaulannya yang luas dan keberpihakannya yang jelas. Saya ingat tulisan Koesalah Soebagyo Toer yang menggambarkan kedekatan Pram dan Mahbub. Tulisan itu berjudul Mas Pram dan Mahbub dimuat di buku Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali. Dikisahkan, Pram datang di acara acara peluncuran buku Sketsa Kehidupan dan Surat-Surat Pribadi Sang Pendekar Pena Mahbub Djunaidi. Tiba-tiba Pram diminta memberi sambutan. Padahal selama ini Pram dikenal tak pernah mau memberikan sambutan. Aneh bin ajaib, di acara mengenang Mahbub itu Pram berkenan memberi sambutan.

Kata Pram: di kala saya diserang dari segala penjuru, hanya satu orang yang membela saya, yaitu Mahbub. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Mahbub dan keluarga. Sebuah sambutan singkat yang menggetarkan!

Saya membayangkan di kemudian hari akan ada “Mahbub Djunaidi Award” atau sejenisnya, sebuah penghargaan yang diberikan kepada novelis, esais dan penerjemah (tiga bidang yang lekat dengan Mahbub). Penghargaan ini kiranya dapat rutin diberikan setiap tahun, semata sebagai upaya untuk mengabadikan kontribusi Mahbub Djunaidi di dunia literasi Indonesia. Semoga.

Lihat Komentar (0)

Komentari