Sedang Membaca
Salat, Wifi, dan Downloading Hikmah
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Salat, Wifi, dan Downloading Hikmah

Irfan L Sarhindi

Atau mungkin begini: dengan asumsi bahwa salat adalah momen muwajahah (bersitatap) kita dengan Gusti Allah, kita bisa lanjut mengasumsikan bahwa kualitas salat kita akan mempengaruhi ‘kualitas koneksi’ kita dengan-Nya.

Tidak hanya soal kualitas ‘apa yang diperbincangkan’, tetapi juga soal ‘jaringan’. Semakin kuat jaringan dan signal yang kita ‘miliki’, semakin lancar ‘komunikasi’ itu—atau setidak-tidaknya, semakin mudah hikmah-hikmah tak terbatas di semesta ‘internet’-Nya untuk kita download dan instal di perangkat akhlak kita.

Dalam konteks ini, manusia terbagi ke dalam beberapa tipe. Tipe pertama yang koneksinya selalu bagus, tak pernah putus, tak pernah buffering, yaitu para Nabi. Tidak hanya mereka bisa men-download hikmah-hikmah hasil penelusuran nalar dan ketaatan, mereka bahkan diberi privilege khusus akses kepada-Nya; kepada kalam-Nya, sebagai kontraprestasi sekaligus ‘senjata’ mereka berdakwah.

Tipe kedua adalah para aulia-Nya Allah yang koneksinya juga bagus, yang Allah kasih keistimewaan berupa ‘aplikasi’ karamah.

Nah kita inilah kemudian tipe yang sinyalnya putus-nyambung, yang kuotanya habis melulu, sehingga kita butuh akses wifi ‘gratis’ dari Allah untuk mengakses hikmah-hikmah-Nya. Dan wifi gratis itu, salah satunya, adalah salat. Dalam salat, kita merentangkan jarak dari keseharian kita dan untuk jangka waktu tertentu (lima menit, misalnya) memfokuskan diri pada Allah dan hanya Allah.

Kita ‘menyalakan’ tombol search wifi di hati kita melalui penyadaran atas nihilitas kita, pembacaan ikrar ‘gombal’ kita, melalui bacaan Alquran secara tartil, melalui penghormatan dan penghambaan, melalui pujian, ketundukan, dan permohonan ampunan, demi kemudian Allah menurunkan hikmah kebijaksanaan kepada hati kita  yang sinyal-Nya khusyuk. Itu kenapa Nabi berpesan bahwa Allah hanya akan mendengar doa mereka yang hatinya khusuk dan bukan yang ghafil—lalai, tidak fokus. Sedang saalat adalah jemaah doa-doa sejak takbir hingga salam.

Mungkin yang menyebabkan kita gagal mengunduh hikmah, kita gagal merasakan nikmat saalat, kita gagal menginstal kearifan dan kebijaksanaan, adalah karena kita gagal me-maintain koneksi kita dengan wifi-Nya. Mengapa?

Sebabnya adalah, yaitu tadi: hati kita sibuk merasakan yang lain, pikiran kita sibuk memperdebatkan hal-hal yang berbeda. Kita baca al-Fatihah sekadar baca al-Fatihah, selesai memang selesai karena sudah kebiasaan. Tetapi kita tidak lagi ngeh saripati al-Fatihah.

Baca Juga

Badan kita seperti autopilot yang bergerak dari satu rukun ke rukun lainnya tanpa disertai ruh dan jiwa kita yang sibuk ghafil. Akibatnya, misi dan peran instrumental salat gagal kita unduh dan instal ke dalam akhlak kita. Salat kemudian menjadi sebatas ritual dan rutinitas, ia tidak membantu kita mempertinggi benteng, memperkokoh pengendalian diri, memperbagus kualitas kerendahan hati.

Pertanyaannya kemudian: bagaimana caranya agar koneksi kita bisa tetap stabil dan bagus, sehingga tidak lagi buffering menerima hikmah, tidak lagi gagal download atau perangkat kita jadi nge-hang?

Ya, jawaban sederhananya, yang saya yakin engkau juga sudah tahu: dengan senantiasa mengistimewakan shalat. Seolah-olah ia adalah shalat terakhir kita, seolah-olah itu adalah muwajahah terakhir kita dengan-Nya. Sehingga kita bisa menjaga totalitas dan antusiasme kita dalam shalat, sehingga kita bisa terus ‘memaksa’ diri kita untuk ingat untuk apa kita salat, apa sebetulnya kita shalat.

Yang tidak kalah penting adalah juga memahami bacaan salat karena itu setidak-tidaknya akan membantu kita mengerti apa yang sedang kita lakukan, permohonan macam apa yang sedang kita ucapkan.  

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top