Sedang Membaca
Riwayat Benda
Penulis Kolom

Pembaca buku dan takmir Liqo Akar Sungai, Solo.

Riwayat Benda

Ini Ibu

“Ganteng, ya.” Kalimat itu sudah Muthia Sayekti dengar belasan atau bahkan puluhan kali. Muthia kadang senyum belaka, kalau sisa tenaga ada, ia baru beri tanggapan yang juga telah ia ulang-ulang, “Anakku cewek, lho.” Tawa terdengar dari rombongan tamu itu. Barangkali, tawa yang sama juga keluar dari rombongan sebelumnya. Tak sampai lima detik, pertanyaan, atau mungkin lebih pas disebut gugatan menyerbu, “Lho, lha kok belum ditindik?”

Dibanding laki-laki, tubuh perempuan barangkali memiliki pergumulan lebih intens dengan benda. Benda-benda turut mendefinisikan mereka—yang kebetulan lahir di tanah air ini, menjadi perempuan Indonesia. Apakah karena kebudayaan kita seringkali ragu, kalau bukan cemas, pada yang-bukan-benda yang keluar dari tubuh-tubuh perempuan?

Para ibu dalam buku Ini Ibu… mengisahkan pengalaman-pengalaman mereka menjadi perempuan. Esai terbaca sangat biografis. Kita membaca, hubungan mereka dengan perempuan lain, entah itu anak, orang tua, kawan, atau tetangga (masyarakat), seringkali bukan karena ideologi atau cita-cita yang sama, melainkan pertautan pada benda-benda. Kisah para ibu adalah pula riwayat bagi benda-benda.

Semasa bocah, pembeda permainan anak lelaki dan perempuan—jika dibuat batas yang jelas, adalah ruang. Permainan yang dianggap milik lelaki berurusan dengan gerak dan berada di luar ruangan (rumah), sedangkan permainan perempuan seringkali minim gerak, menetap, dan sangat terkesan rumahan.

Baca juga:  Gus Dur Sang Pendobrak: Kiai Kiri Pembela Kemanusiaan

Ketika kita membaca Si Dul Anak Jakarta garapan Aman Dt. Madjoindo (2010), misalnya, ada hijab yang kentara antara permainan anak laki-laki dan perempuan. Bila anak laki-laki berenang di Kalibiru, anak-anak perempuan bermain tak jauh dari rumah. Mainan bocah perempuan paling kalau tidak bermain dagang-dagangan, ya, pura-pura mengadakan tahlilan. Pokoknya, anak lelaki bisa begitu menikmati masa kecil. Pada perempuan, mainan telah jadi semacam simulasi kehidupan semasa dewasa.

“Setrika mainan anak-anak pun,” tulis Aryani Wahyu (h. 58), “diarahkan dan dikenalkan untuk wanita..” Tatkala teman-teman lelakinya rutin bermain di luar, Aryani agaknya lebih sering mendekam di rumah. Di sana, ia membantu ibu mengerjakan tugas rumah.

Tapi “… aku lebih suka membantu ibuku mencuci ketimbang menyetrika,” lanjut Aryani. Maka, saat ibu menyetrika—pasti pukul 3 sore karena hawanya dianggap cocok—Aryani sekadar menunggui. Di ruang itu, staisun radio Retjo Buntung mengudara. Alunan musik acap kali membuat Aryani jatuh tidur. Aryani mengingat masa kecil dan sertrika berarti tidur siang. Tapi bagi ibunya, waktu menyetrika adalah waktu terbaik untuk memberi nasihat. Sambil memusing-musingkan setrika, ibu mewedar, “Dadi wong wedok kui kudu iso ngumbai, setliko, reresik omah, ngopeni anak, karo masak. Ben bojone sesuk jenak.” Keterampilan yang membuat seseorang “sah” menjadi perempuan adalah mencuci, membersihkan rumah, masak, dan mengasuh anak. Tujuannya, kata ibu Aryani, biar suami betah. Bagi sementara orang di masa lalu, yang menjadikan seseorang sah dianggap sebagai perempuan adalah para lelaki.

Baca juga:  Resensi Buku Agama Sipil: Keragaman Beragama, Jalan Tengah ala Robert N. Bellah

Ketika dewasa, Aryani tak lagi di rumah. Ia merantau ke Jakarta dan mukim di asrama pekerja. Ada ruang setrika di sana. Dari atas meja setrika, ia bertemua penghuni lain lalu akrab, sebab—apalagi?—tatkala menyetrika, mereka juga menggunjingkan induk semang dan penghuni lainnya. “Di asrama pekerja aku,” kata Aryani, “berkawan akrab dengan kawan asrama di meja setrika…”.

Perempuan seolah jadi ahli waris sah pada benda-benda rumah tangga. Hanya butuh satu benda, maka cerita-cerita dengan beragam latar bakal riuh menguar. Itu terjadi pula pada Yessita Dewi, ketika ibu-ibu di kampungnya berencana bersilaturahmi ke tetangga yang pindah rumah. Di depan Yessita mangkuk keramik Vicenza bermotif rumpun bunga berwarna emas berhenti. Ingatannya langsung melayang ke ibu, nenek, dan bibi dari suaminya.

Dulu, peralatan makan entah itu mangkuk, basi, sendok, atau garpu bakal diberi tanda, entah itu dicat atau dipatri, dengan nama sang anak. Pada kerabat Yessita, nama yang dibubuhkan biasanya nama anak perempuan. Di rumah masa kecil Yessita, sendok dan garpu dipatri atas namanya, walaupun beberapa dengan patrian tak bagus sebab pak tukang sempat salah mematri, alih-alih  “Yessi”, malah “Tessi”.

Tanpa sadar, Yessita mengambil mangkuk keramik Vicenza itu dan membaliknya, melihat alas mangkuk. “… tak ada nama anaknya di situ,” ujar Yessita heran. Tuan rumah yang geli melihat Yessita bengong bisa menebak dengan persis apa yang Yessita pikirkan. “Kayak apa saja memelototi bokong mangkuk. Sudah lah, enggak ada namaku di situ. Sayang keramiknya,” cerocosnya. Gerr. Ibu-ibu pada tertawa. Pembaca sekalian tahu, kita tertawa salah satunya karena memiliki kesamaan. Bisa pikiran, unek-unek, atau pada perkara Yessita, adalah kenangan yang sama.

Baca juga:  Kritik Agama di Ruang Publik

 

Judul              : Ini Ibu..

Penulis          : Aryani Wahyu, Devi Puspita, Eva Tampubolon, Iin Nuraini, Latif Nur Janah, Muthia Sayekti, Ririn Diah Utami, Titin Mufarrahah, Yessita Dewi, Yulia Loekito

Editor             : Bandung Mawardi

Cetakan         : 2021

Tebal              : x + 78 halaman

Penerbit        : Yayasan Sami-Sami Suningsih

ISBN               : 978-623-91329-8-9

Harga             : 40.000

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top