Sedang Membaca
Ziarah Makam sebagai Zikir Maut

Ziarah Makam sebagai Zikir Maut

Heru Harjo Hutomo

Di tengah dingin dataran tinggi Dieng yang menusuk saya menyempatkan diri sowan ke sebuah makam yang dihormati orang sekitar. “Terus, saja, mas. Nanti belok ke kanan terus ke kiri,” jawab dua orang santri.

Makam itu terletak di dataran tinggi di sebuah perkampungan yang padat. Malam itu cukup lengang. Terlihat bangunan bercat putih dan hijau di puncak. Di sebelahnya menjulang sebuah pohon besar yang barangkali telah dua abad lebih.

Ziarah ke makam adalah kebiasaan yang telah dipraktikkan oleh orang nusantara dan di komunitas Islam Indonesia menjadi semacam penanda resmi nahdliyin (para pengikut Nahdlatul Ulama).

Di Jawa ada satu tradisi yang bernama ruwahan, menziarahi dan membersihkan makam di setiap bulan Ruwah. Melalui ilmu kerata basa, yang menjadi bagian dari kesusasteraan Jawa, Ruwah identik dengan arwah. Nahdlatul Ulama, setelah sebelumnya diakomodasi oleh Walisongo, melestarikannya hingga kini.

Status ziarah ke makam-makam leluhur atau orang-orang saleh menjadi penting dan memiliki makna yang dalam. Ada berbagai dasar yang menopang praktik ini. Tapi saya akan melihat kebiasaan ziarah ke makam dari sudut-pandang lain.

Ziarah ke makam ada hubungannya pula dengan sejarah. Dengan ziarah orang akan tertautkan kembali dengan kesilaman. Tak hanya kesilaman yang berupa waktu obyektif, tapi juga kesilaman eksistensial yang subyektif: kejatuhan (the fallen) yang cukup terasa dalam suasana dan ekspresi para sufi.

Baca juga:  Berziarah di Kota Mati

Syekh Ngabdullah Selomanik, yang menurut catatan sementara, merupakan  seorang yang pertama kali melakukan syi’ar Islam di dataran tinggi Dieng. Bahkan seorang grandmaster para sarkub (baca: sarjana kuburan), KH. Abdurrahman Wahid, pernah menziarahi makam yang terletak di Kalilembu, Kejajar, Wonosobo. Dan ia juga mengatakan bahwa peradaban Islam yang muncul pertama kali di Jawa adalah di dataran tinggi Dieng.

Makam Syekh Ngabdullah Selomanik (Foto: Heru Harjo Hutomo)

Tentu, keterangan seorang grandmaster sarkub sekaliber Gus Dur tak perlu diperbantahkan. Pendekatan kesejarahannya memang lain, maka kesimpulannya juga berbeda dengan sejarah mainstream. Setali tiga uang dengan grandmaster sarkub lainnya, KH. Chamim Jazuli atau akrab disapa Gus Miek, ia juga pernah menyatakan bahwa yang terbaring di Makam Auliya’ Tambak Kediri lebih tua usianya daripada Walisongo.

Para sejarawan yang terdidik melalui bangku kuliah formal tentu ngelu, bagaimana mereka dapat membuat kesimpulan yang berbeda dengan sejarah mainstream? Adakah data-data, bukti otentik yang mendukung kesimpulan itu?

Saya teringat Denys Lombard di sini, seorang sejarawan asal Perancis yang terkenal dengan pendekatan sejarah minornya. Sejarah tak melulu peristiwa orang-orang besar dan terkenal, tapi juga peristiwa orang-orang kecil dan pinggiran. Acapkali, dengan menggunakan logika pusat-pinggiran, bias dan eksklusi tak bisa dihindari oleh peneliti.

Ada satu adagium Jawa yang sesungguhnya dapat mematahkan prinsip-prinsip positivisme yang masih menjadi paradigma ilmu sejarah modern: janma tan kena kinira (manusia tak dapat diukur). Adagium ini menegaskan bahwa ilmu-ilmu humaniora berbeda dengan ilmu-ilmu pasti. Manusia, dan dunia yang mengitarinya, bukanlah benda mati, bukanlah barang. Logika mengamati alam berbeda dengan logika mengamati manusia, tersebab kita, sebagai peneliti, adalah juga manusia.

Baca juga:  Nguwongke, Menggali Rasa yang Sehat lewat Seni

Pada titik ini Jean-Paul Sartre, seorang eksistensialis Perancis, berbicara tenang L’etre-en-soi (eksistensi benda yang ada begitu saja) dan L’etre-pour-soi (eksistensi manusia yang mampu mempertanyakan adanya). Dan makam, bagi saya, adalah perpaduan di antara keduanya. Itulah kenapa di nusantara terdapat kebiasaan ziarah ke makam.

Baca Juga

Orang nusantara, baik yang berlatar belakang kejawen maupun nahdliyin, tak pernah memperlakukan makam selayaknya benda. Andaikata orang nusantara memahami makam sebagai L’etre-en-soi, tentu tak akan ada yang namanya ziarah kubur. Di sinilah letak perbedaan pendekatan kesejarahan orang-orang sekaliber Gus Dur dan Gus Miek dengan para sejarawan akademik. Pertanyaan tentang yang mana kemudian yang paling benar tak lagi relevan. Sekali lagi, kebenaran adalah soal kemanfaatan.       

Dalam dunia tasawuf ada satu metode yang dikenal sebagai dzikir maut. Kematian di sini, lewat kebiasaan ziarah, dianggap sebagai sebentuk sarana untuk memahami dan mendidik diri. Heidegger pernah menyematkan predikat pada manusia sebagai Sein-zum-Tode (ada-menuju-kematian). Ada dalam pemahaman pengarang kitab Sein und Zeit itu bukanlah pasif-statis, tapi aktif-dinamis.

Barangkali, istilah Jawa “urip” lebih bisa mewakili apa yang disebut Heidegger sebagai sein (being). Maka dalam terang Heidegger, makam adalah wujud monumentalisasi manusia untuk melawan lupa.

Baca juga:  Kerukunan Mazhab di Makam Syekh Yazid al-Busthami

Benar bahwa bagi Heidegger kisah manusia usai sudah ketika ia mati. Tapi eksistensi makam membuktikan bahwa kehidupan manusia masih berlangsung, paling tidak, dalam kenangan orang yang ditinggalkan.

Demikianlah makna makam bagi kemanusiaan. Maka dari itu, dalam filosofi sangkan-paraning dumadi, lawan urip bukanlah mati sebagaimana yang banyak didengungkan orang. Urip tak pernah memiliki lawan, karena ia baka.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top