Ren Muhammad
Penulis Kolom

Ren Muhammad adalah pendiri Khatulistiwamuda dan penulis buku. Tinggal di Jakarta, menjabat Ketua Bidang Program Yayasan Aku dan Sukarno, serta Direktur Eksekutif di Candra Malik Institut.

Jejak Luka Marriott: Kisahku Berjumpa Korban Terorisme untuk Kali Pertama

Jw Marriot

Selasa itu, 5 Agustus 2003, nyaris tak ada yang istimewa di Jakarta. Seorang lelaki paruh baya sedang menuju Kelapa Gading dari Cakung—setelah mengunjungi pabrik milik perusahaan tempat ia bekerja, PT FMC Santana. Siang sudah beranjak pukul 12.45, dan ia terpaksa mengubah haluan, karena sekretarisnya terlanjur memesan tempat makan siang di Hotel JW Marriott. Ia pun membelah jalanan Jakarta yang disarati kemacetan di sana-sini. Apalagi jalur menuju segitiga emas Casablanca, termasuk padat pada jam istirahat kantor.

Sebenarnya ia hendak sekalian menemui Miranda Gultom (Gubernur Bank Indonesia kala itu). Tetapi karena takdir akan menyeretnya ke peristiwa nahas yang sebentar lagi terjadi, pertemuan itu tak pernah tergelar. Tiba di lobi Marriott, ia bergegas masuk bersama beberapa rekan kerja dan dua orang klien. Belum lagi duduk manis dan memesan makan-minum, seketika terdengar ledakan yang memekakkan telinga.

Booom!

Ruangan sekitar mendadak gelap gulita. Ia tidak tahu lagi apa yang terjadi karena berada dalam kondisi setengah sadar. Ia hanya bisa merasakan panas luarbiasa menjalar ke sekujur tubuhnya. Selang beberapa waktu, ia siuman. Ternyata ia tertimpa chandelier, lampu gantung kristal yang persis berada di atas kepalanya. Dalam suasana nan mencekam, susah payah ia singkirkan benda bedebah itu.

Ajaib. Ia masih sanggup berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan yang sudah porak poranda. Bau amis darah, bacin, dan pecahan kaca bertebaran di seantero penjuru. Bom yang meledak dari arah belakang—yang rupanya dilapisi kaca tebal, membuat hidupnya terselamatkan. Dengan menggunakan mata kiri yang masih berfungsi, ia pun tergopoh keluar, sementara matanya yang kanan sudah bersimbah darah. Ia berhasil menuju bundaran jalan di depan hotel. Darah berceceran sejauh kakinya menjejak. Sirene meraung-raung di lokasi kejadian. Tanpa tedeng aling-aling, ia memberhentikan taksi yang sedang melintas. Begitu tahu kondisi calon penumpang yang mengerikan, sopir segera melarikan mobilnya. Tak mau menyerah, ia mencari taksi kedua. Hasilnya nihil. Menyadari peluang yang teramat kecil, ia memilih menghadang taksi ketiga.

Beruntung. Sopirnya lebih berprikemanusiaan. Meskipun ia panik melihat si penghadang yang nampak seperti monster, lalu masuk, dan duduk di belakangnya. Kemudian berdasar perintah penumpang, sopir yang kalut segera menginjak pedal gas menuju RS Jakarta. Sesampainya di sana, ternyata ia bukan korban pertama yang setidaknya berhasil selamat. Ada puluhan orang berlumuran darah, yang tergeletak di lantai rumah sakit.

Baca juga:  Merekam Kisah Kampung Kandang Doro

Derita yang sudah ia tahan sedemikian rupa, kian bertambah dahsyat manakala pihak rumah sakit tidak segera menindak. Mereka hanya mengolesi tubuhnya dengan salep pendingin, lalu membiarkannya dalam rubungan juru warta yang sibuk mengambil rekaman gambar dan wawancara. Petang itu, Indonesia gempar. Para awak media, telah melansir nama tokoh kita ini. Tony Soemarno, satu dari sekian korban selamat tragedi JW Marriott.

Sekian jenak kemudian, sekelompok perawat memasukkan Tony ke ruang Instalasi Gawat Darurat, dan ia pun tenggelam dalam ketidaksadaran. Keesokan pagi, ia dipindahkan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina, yang punya banyak ahli mengobati luka bakar. Pakaian dan sepatunya dilucuti. Lalu ia dimandikan menggunakan air yang mengandung alkohol. Sekujur badannya sontak terasa perih bukan kepalang. Ia merasakan anggota tubuhnya membengkak. Setelah itu ia ditempatkan di kamar isolasi. Hari-hari yang kemudian ia lalui, disesaki pertaruhan hidup-mati selama delapan bulan lamanya.

Hotel JW Marriott yang menjadi target operasi teroris itu, berlokasi di kawasan segitiga emas, dekat dengan kompleks pejabat di Jalan Denpasar dan kompleks kedutaan besar asing. Sekitar 200 meter dari Marriott, terdapat Kedubes RRC. Di Menara Rajawali, samping hotel, juga terdapat kantor Kedubes Finlandia, Swedia, Norwegia, Peru. Di menara itulah Tony sempat mengais rizki demi menghidupi ketiga orang anak yang telah ditinggalkan ibunya—lima tahun sebelum ia dihantam bom. Gedung pencakar langit itu pula yang menjadi saksi pertemuannya dengan Mohamad Nasir Abbas,[i] Ismail, dan Tohir yang menjadi pelaku peledakan. Perjumpaan tak terduga itu, kini berlanjut secara dramatis. Hidup ini memang ajaib.

Jejak Kehilangan

Tubuh Tony disarati perban. Beberapa selang silang menyilang guna kebutuhan makan-minum, dan membuang kotoran. Ia seketika terputus dari dunia luar dan terbaring kepayahan. Semua pembezuk, hanya bisa berkomunikasi dengannya melalui gagang telpon, yang menyambungkan bilik dalam ke luar. Ia tak henti menangis di dalam hati. Hidup telah sedemikian rupa mengajarinya cara bersabar dan bersyukur. Kendati selalu saja rasa putus asa tak henti menghampirinya.

Baca juga:  Memetik Hikmah dari Lika-liku Hidup Buya Syafii Maarif

Waktu demi waktu yang ia tempuh, teramat menjemukan. Dunia seolah berhenti berputar. Tertinggal ia seorang diri. Meratapi nasib. Menyesali segala kebodohan-kekhilafan. Seluruh perasaannya jadi tabularasa. Kerana itulah Tony tak hentinya menghiba pada belas kasih Allah Swt, agar diberi kesempatan memperbaiki diri. Mengutip Chairil Anwar, ia, “masih ingin hidup seribu tahun lagi.”

Enam bulan berselang, munculah sebuah rencana yang tak pernah terpikir olehnya. Tony sudah bersiap menenggak cairan liquid (pembersih toilet) yang ada di bilik isolasi. Ia sudah tak paham harus bagaimana lagi menjalani sisa hidupnya. Pada detik-detik yang menentukan, datanglah ibunya menjenguk. Lalu perempuan tegar itu berpesan, “Siapa yang akan merawat anak-anakmu nanti, Le?”

Demi mendengar nasihat demikian, kejumudan dalam pikiran Tony seketika luruh. Ingatan seputar anak-anak, langsung menjejali isi pikirannya. Sang ibu benar. Ia tak boleh melepas tanggung jawab begitu saja. Berbuat semacam, sama dengan menjadi pecundang kehidupan.

Bersua Napiter[ii]

Setahun berlalu. Tony mulai bekerja lagi meski tak terlalu intens, lantaran khawatir dengan kondisinya sendiri. Saat kembali ke kantor, ternyata ada reka ulang kejadian yang digelar Detasemen Khusus 88. Dari ruangannya yang terletak di lantai atas, ia melihat seseorang memakai baju oranye bertuliskan tersangka. Dirundung rasa panasaran, ia memberanikan diri mendekat.

Kenapa Tony melakukan hal tersebut? Sebab selama dirawat, ia teramat ingin bertemu para tersangka yang membuat hidupnya babak bundas. Secara sederhana, ia hendak bertanya, “Apa yang mereka pikirkan sampai tega berbuat begitu?”

Tiba di lokasi kejadian, garis polisi telah melintang mengepung area. Demi menghormati hukum, ia hanya bisa menatap dari kejauhan, sambil menahan kesal. Namun karena penasarannya tak kunjung sirna, ia bertanya kepada polisi yang bertugas, “Pak, bolehkah saya bertemu Tohir, tersangka pengeboman Marriott?”

Baca juga:  Adolf Heuken, di antara Jakarta dan Buku-Buku

“Memang Anda siapa?” jawab petugas, sinis.

Apa lacur. Kendati telah mendapat jawaban bahwa ialah korban pengeboman Marriott, tetap saja polisi itu melarangnya masuk. Tak kehabisan cara, ia terus membujuk hingga kesempatan emas pun datang. Ia diperbolehkan menemui Tohir di Polda Metro Jaya. Pihak kepolisian mengarahkannya menuju ruang bawah tanah, dan hanya diberi waktu sepuluh menit. Ketika bertemu Tohir kali pertama, ia langsung mencecar.

“Saya ingin sekali menemui Anda, dan bertanya, mengapa Anda melakukan itu? Kita kan sama-sama Muslim. Seandainya saya ini anggota keluarga Anda, bagaimana?”

Jawaban yang ia terima sangat tak terduga.

“Saat dibonceng Azhari, isi pikiran saya cuma bule-bule itu saja. Saya tidak tahu ada Bapak di sana.”

“Ya kan masih ada orang Indonesia juga?” tanya Tony sembari menahan geram campur gemas.

“Saya hanya ingin menghabisi bulenya saja,” jawab Tohir lebih tak masuk akal.

Niat baik Tony bersilaturahim ke Tohir, memang harus dimulai dari dialog yang alot seperti itu. Meski kemudian mereka malah berbincang selama empat jam lebih. Berbicara selaik teman, atau saudara jauh yang lama tak bersua. Sejatinya, Tony hanya ingin menguji ketangguhan diri. Jikalau ia marah pada Tohir, jadi apa, dan kalau tidak, kenapa?

Kami berjumpa Tony di Cilandak Town Square pada 2019, yang sedang ditemani Mohamad Nasir Abbas. Di jari tangannya yang sudah nyaris menyatu, terkepit sebuah cerutu Kuba. Nasir yang punya pengalaman tempur gerilya semasa aktif dalam Jamaah Islamiyah, telah menjadi sahabat kental baginya. Mereka disatukan kepiluan hidup yang berubah jadi rasa damai. Ya, begitulah yang tecitra di wajah keduanya. Hidayah Islam, terkadang turun dengan cara yang sulit dinalar oleh kita yang hina-dina ini. []

[i] Komandan Mantiqi Tiga JI yang mencakup wilayah Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah dan Utara, Sabah (Malaysia), Mindanao serta selatan Filipina.

[ii] Narapidana teroris.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top