Sedang Membaca
Membongkar Pelabelan Orientalis dan Islam Jawa
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Membongkar Pelabelan Orientalis dan Islam Jawa

Hilful Fudhul
  • Irfan Afifi adalah satu dari sekian orang yang menyalakan petikan api terang untuk mengenal diri (Islam Jawa), dalam buku ‘Saya, Jawa dan Islam’.

Sudah sejak lama bangsa ini menjadi bangsa inlander, sejak penjajahan berdiri di Nusantara. Yang diambil penjajah atas bangsa Indonesia ialah jati diri sebuah bangsa: diberangus dan dihilangkan sampai saat ini.

Tidak saja kekayaan alam macam rempah-rempah, perubahan jalur ekonomi dan tata kelola bangsa yang berubah di era kolonial. Harta yang paling berharga yang diambil oleh kolonial adalah jati diri sebuah bangsa yang hilang bersamaan dengan dirampasnya manuskrip serta naskah-naskah penting bangsa Indonesia.

Naskah dan manuskrip adalah hal yang merekam banyak pengetahuan orang-orang terdahulu terhadap berbagai hal, seperti ekonomi, agama, pendidikan dan banyak lagi. Setelah bangsa Indonesia dijajah, kemudian para kolonial merekontruksi kembali diri bangsa Indonesia dengan memberi label serta klasifikasi status quo masyarakat berdasarkan kekuatan ekonomi dan agama.

Label itu mulai dari kaum priayi, kaum abangan, kaum santri sampai kepada pelabelan Islam Kejawen, Islam tradisional.

Kemudian seperti dalam buku ‘History of Java’ seorang Reffles memberi pandangan atas keislaman masyarakat Jawa yang dianggap sebagai masyarakat yang ‘mistis’ bercampur dengan paham keislaman masyarakat Jawa, apa pun Islam Jawa dilabeli sebagai Islam yang hanya kulitnya saja.

Baca Juga:  Menjawab Tafsir Politis di Medsos

Pertautan antara tradisi Hindu-Buddha bercampur dengan paham Islam adalah identik dengan Islamnya orang Jawa atau secara umum di identikkan dengan Islamnya masyarakat Nusantara. Kebenaran atas ini kemudian diperkuat oleh Geertz dengan membagi golongan dengan label priayi, abangan dan santri sebagaimana yang dikemukakan di atas.

Orang orientalis ingin memberi pandangan ilmiah atas keislaman masyarakat Jawa yang tidak pernah lepas dari tradisi dan kepercayaan Hindu-Buddha.

Dominasi kaum orientalis dalam memberi pandangan atas keislaman Jawa berlangsung ratusan tahun lamanya, dan tidak sedikit sarjana dan akademisi kita se-‘iya’ se-kata dengan pandangan kaum orientalis.

Suara dan pandangan ini seakan tidak memberi peluang bagi sarjana bangsan Indonesia sendiri, berpikir hal lain yang berbasis data manuskrip dan naskah-naskah kuno peninggalan leluhur bangsa Indonesia sendiri.

Usaha mencari diri dengan menggunakan ‘kacamata’ sendiri, bersuara atas suara sendiri dan dengan basis data yang ditulis oleh bangsa sendiri akan menemukan bagaimana Islam Jawa, sehingga akan dapat menjadi pembanding bagi penelitian kaum orientalis atas bangsa Indonesia.

Baca Juga:  Joseph Schacht dan Teguran bagi Pelajar Muslim

Usaha untuk mencari serta menemukan diri (ke-Jawa-an), mulai menemukan petikan api-api kecil yang mulai terang, bagaimana Islam Jawa melalui berbagai sumber terutama naskah dan manuskrip.

Irfan Afifi adalah satu dari sekian orang yang menyalakan petikan api terang untuk mengenal diri (Islam Jawa), dalam buku ‘Saya, Jawa dan Islam’,  bentuk suara baru dalam mengenal diri sendiri sebagai orang Islam pun orang Jawa.

Baca Juga
Kubro Siswo Kembali Meliuk-liuk di Maulid Nabi

Pada manuskrip Ranggawarsita dalam serat Wirid Hidayat Djati yang mengungkat soal ajaran ‘martabat tujuh’, yaitu ajaran yang kental dengan kaum sufi Ibnu Arabi dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan campuran kepercayaan Hindu-Buddha.

Usaha untuk menghilangkan peran Islam dalam kepercayaan serta kebudayaan Jawa, sarat diskriminasi yang dilakukan oleh kolonial. Penghilangan peran ajaran Islam, sejak jauh hari telah dilakukan terbukti dengan adanya label ‘negatif’ terhadap Islam Jawa yang dianggap kulitnya saja dan tidak esensial.

Usaha itu diseriusi oleh kolonial dengan puncaknya adalah terbentuknya Institut Budaya dan Bahasa Jawa di tahun 1832 di Surakarta. Lembaga yang memiliki otoritas pengetahuan mengenai kajian kaum penjajah atas Jawa dan Nusantara yang berusaha menciptakan narasi besar tentang ‘Jawa asli’ yang belum terkontaminasi dengan ‘mahluk asing’ yang bernama Islam.

Hilangnya jati diri bangsa, sampai kehilangan jati diri individu masyarakat Jawa dan umumnya masyarakat Indonesia merupakan hal yang terus berjalan sampai hari ini.

Seakan-akan label negatif yang disematkan kepada bangsa Indonesia adalah aib sebuah bangsa yang ‘sengaja’ diciptakan oleh orientalis agar kita tidak mencintai bangsa sendiri dan seluruh kebudayaan dan kepercayaan didalamnya.

Baca Juga:  Perhatian Orientalis terhadap Kajian Tasawuf

Buku Irfan Afifi berusaha bersuara atas dirinya sendiri dan bukan dari pandangan orang lain tentang dirinya sendiri, buku yang tercipta yang berawal dari kegelisahaan pribadi atas diri sendiri yaitu Islam Jawa. Maka patut untuk dibaca oleh generasi saat ini. (atk)

Lihat Komentar (0)

Komentari