Ahmad Aminuddin
Penulis Kolom

Pengajar di prodi Aqidah dan Filsafat Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya.

Pertemuan Tradisi Islam dan Jawa dalam Sebuah Doa Penangkal Wabah Corona

Mewabahnya pandemi Covid-19 melahirkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dunia. Hal ini tentu sangat mendasar mengingat penularannya yang begitu mudah dan cepat, terlebih lagi virus tersebut juga telah banyak merenggut korban jiwa.

Dampak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi pun juga tidak kalah dahsyat karena di banyak negara, sampai saat ini menerapkan social-distancing (membatasi interaksi berkerumunnya manusia). Artinya, orang tidak bisa ke luar rumah seenaknya. Pun seandainya dalam keadaan terpaksa mengadakan sebuah acara yang memungkinkan berkumpulnya banyak orang, maka harus menggunakan aturan khusus (protokol) untuk mencegah penyebaran virus yang semakin meluas.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Selain waspada dengan cara jaga jarak dan jaga diri di rumah, sebagai umat Islam, kita perlu ikhtiar dengan cara berdoa. Di WAG keluarga saya, Pak Dhe saya mengirimkan sebuah video yang menunjukan sekelompok orang sedang berada dalam acara slametan atau lebih gampangnya sebut saja semacam tahlilan, yang terdengar merapalkan doa yang tak lazimnya seperti doa-doa saat tahlilan atau majlis serupa. Doa yang dirapal oleh si Imam tersebut menggunakan perpaduan bahasa Jawa dan Arab yang unik. Begini isinya:

“Allahummaghfir, virus corona ndang podo minggir, amiin

Bumi kawak, tolak balak

Kol kuthuk, kadal kesit, ayo nglumpuk ndang podo wirid

Allahumma kipa-kipu, virus corona ndang podo mlayu

Wak tek gone, wak ndang gono, iwak pitek digowo rene, iwak pindang digowo rono, amin

Allahumma Abu Bakar, virus corona ng podo buyar

Allahumma fikra-fikri, akeh sawah akeh sapi, iso umroh iso kaji

Dungo iki paringane Gusti

Wa salamun alal mursalin, Alhamdulillahirobbil alamin…”

Berbeda dengan doa-doa yang menggunakan redaksi bahasa Arab yang umumnya mengandung sanjungan kepada Allah dan Rasulnya, kemudian baru permintaan, namun doa jenis ini justru secara redaksi bahasa terkesan sulit untuk dipahami artinya. Wa bil khusus, pada kata di bagian awal seperti “kol kuthuk, kadal kesit.Kol dalam bahasa Jawa berarti siput sawah sedangkan kadal artinya ya hewan kadal. Perihal penyebutan kedua binatang tersebut, tentu tidak semua orang tahu, bisa jadi si perapalnya pun demikian.

Baca juga:  Hari Santri: Pesantren, Rahim Sastra Indonesia

Sependek pengetahuan saya, pada dasarnya, penggunaan doa semacam ini masih banyak diamalkan oleh kalangan Muslim, khususnya mereka yang berlatar belakang tradisionalis di pedesaan dan juga di kalangan pesantren. Jika dilihat dari kacamata budaya, doa semacam ini merupakan warisan kebudayaan masyarakat muslim Jawa yang lahir dari akulturasi dua tradisi, yakni Jawa dan Islam.

Tradisi Jawa pada redaksi doa ini bisa dilihat dari penggunaan kosa-kata dan rangkaian kalimat berbahasa Jawa yang tidak dapat dimaknai secara tekstual, sejenis sanepo, yakni sesuatu yang disampaikan secara tersirat, personifikasi. Sedangkan kultur keislaman terlihat dari doa redaksi bahasa Arab seperti istighfar, hamdalah, sholawat, dan penyebutan nama sahabat Abu Bakar As-Shidiq.

Tradisi keislaman masyarakat Jawa ini, saya kira sangat penting dan menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang “lentur” terhadap tradisi lokal. Tidak seperti yang dipropagandakan oleh mereka yang selalu mempertentangkan keduanya dengan dalih bid’ah.

Doa dengan perpaduan bahasa Jawa dan Arab ini sekilas tampak mirip dengan doa yang diijazahkan oleh Mbah Kyai Dalhar, seorang alim dari Watucongol-Magelang, “Allahumma ubat-ubet, iso nyandang iso ngliwet…” Dalam tradisi pesantren, ketika seseorang mendapatkan ijazah doa semacam ini, umumnya mereka tidak akan mempertanyakan makna redaksinya yang pada beberapa bagian memang tidak bisa dipahami karena hal itu dianggap tidak sopan. Namun, mereka lebih mengedepankan sisi tawadlu’ disamping meyakini kedudukan sang pemberi ijazah di sisi Allah.

Baca juga:  Tiga Tradisi Unik Ramadan di Maroko

Pada level ini, Al Quran sebenarnya pun juga memiliki banyak redaksi ayat tidak dikenal dalam kosa kata Arab, kecuali pada ayat Al Quran itu sendiri, seperti kata yaa sin, kaaf haa yaa ‘ain shood, haa miim dan ayat lain sejenisnya. Dalam penafsirannya, para ulama Tafsir pun tidak seragam dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut. Artinya, mereka hanya sebatas menerka maksud dari redaksi tersebut berdasarkan pengetahuannya, baik secara intelektual maupun spiritual. Namun secara pasti ayat-ayat tersebut hanya Allah yang mengetahui maknanya. Ulama ahli tafsir biasanya menjelaskan ayat-ayat tersebut dengan redaksi Allahhu a’lamu bimuradihi.

Di sisi lain, bukankah esensi dari doa itu sendiri adalah bentuk permohonan dari seorang yang lebih rendah posisinya (hamba) kepada yang lebih tinggi (Allah). Lebih lanjut, dalam Islam tidak ada patron resmi terkait redaksi dalam berdoa. Jadi, soal redaksi dalam berdoa, khususnya seperti doa Islam kejawen, bukan menjadi sesuatu yang patut dipermasalahkan.

Dalam Q.S. Al A’raf, ayat 55-56 Allah berfirman:

ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ (55)وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحسِنِينَ (56)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa seseorang dalam berdoa hendaknya melakukannya dengan cara merendahkan diri, suara yang lembut, serta rasa takut dan penuh harap kepada Allah.

Baca juga:  Menelisik Makam di Balik Kuburan Wali (2)

Bagaimanapun, saya kira tidak ada masalah terkait bagaimana redaksi doa yang digunakan selagi orang tersebut menyadari betul bahwa esensi doa adalah meminta kepada Dzat yang Maha Agung.

Kaitannya dengan kondisi saat ini yang tidak ada seorang pun bisa mendeklarasikan diri bahwa dirinya kebal dari ancaman Covid-19, selain ikhtiar yang disarankan oleh pemerintah dan para ahli di bidangnya, tentu setiap orang mempunyai cara tertentu dalam berikhtiar. Seperti halnya ikhtiar yang dilakukan oleh sekelompok orang seperti dalam video yang saya sebutkan melalui ritual keagamaan (Islam) dan berdoa dengan versi kearifan lokalnya.

Akhirnya, pada titik ini, dapat dilihat bahwa agama memang tidak bisa serta merta terlepas dari realitas sosial di masyarakat yang kemudian menuntut lahirnya dialog antara keduanya. Dalam perkembangannya, dialog tersebut kemudian mampu melahirkan sebuah tradisi baru yang memadukan antara tradisi agama dan kebudayaan. Wallahhu a’lam.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top