Sedang Membaca
RADHAR
Penulis Kolom

Linguis di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta

RADHAR

Fb Img 1619144358503

Malam itu, seperti galibnya malam-malam lain, ia berpenampilan necis dan rapi. Sepatu pantofel, celana kain dengan setrikaan yang licin, kemeja putih membalut tubuhnya yang ringkih dan rambutnya klimis tertata rapi. Ia begitu bersahaja lagi memesona.

Ia kami undang untuk berbicara di acara ulang tahun komunitas Omah Aksoro dan daulat untuk menyampaikan orasi kebudayaan bertajuk “inflasi budaya komentar” dan ia—seperti biasa—menyampaikan orasi itu dengan kemampuan seorang penyihir yang membuat takjub dan terkesiap siapa saja. Ia disiplin. Sangat disiplin. Ia datang setengah jam sebelum acara yang kita helat bakda isya itu dimulai.

Setelah lunas memarkir mobil Mazda miliknya, ia segera kami sambut untuk duduk-duduk di ruang tunggu. Tubuhnya yang mungil dan ringkih, ia hempaskan di sebuah kursi yang sedikit lapuk. Tak ada bunyi “buk”. Itu menandakan berat badannya memang tidak ideal.

“Mana yang namanya Fariz Alnizar?” Sebuah pertanyaan muncul di awal-awal pembicaraan.

Saya agak kikuk dengan pertanyaan itu. Meski hal itu sudah saya prediksi. Ia akan mencari saya: bocah ingusan yang lancang mengirim tulisan ke rubrik “Teroka” di Harian Kompas yang bertahun-tahun ia gawangi sendiri. Ia menjadi redaktur tamu. Salah satu tugasnya mengurasi saban naskah kebudayaan yang masuk untuk diterbitkan di rubrik yang muncul seminggu sekali itu.

Baca juga:  Manusia dan Tuhan (3): Refleksi atas Manusia dan Kebebasan Memilihnya

“Saya, Mas.”

“Kalau nulis itu yang pertama musti diperhatikan gagasannya harus beres. Itu yang penting. Soal pengungkapan, nanti saya bantu,” kalimat ini muncul sesaat setelah kepulan asap kretek kesukaannya keluar dari lobang mulut dan hidungnya.

“Kamu masih lumayan. Gagasanmu masih bisa terbaca. Ada banyak penulis yang gagasannya tidak utuh. Tulisan model seperti ini tidak akan dimuat, apalagi di Kompas”

Saya hanya diam saja. Malu. Sungkan.

Mas Radhar memang editor dan kurator yang kejam. Seingat saya, ketika tulisan saya muncul pertama kali di rubrik Teroka pada penghujung Desember tahun 2015, Mas Radhar memugar habis tulisan itu. Hampir seluruh kalimat diganti dengan gagasan utama yang tidak berubah sama sekali. Bagi saya cara Mas Radhar mengedit memang bisa membuat nyali ciut dan biji zakar mengkerut.

“Kamu masih lumayan. Ada tulisan seseorang di rubrik Teroka yang saya edit habis. Semuanya berubah. Yang tidak berubah tinggal gagasan utama, titik dan komanya saja”

Kami tertawa sangat keras tapi di saat yang sama saya merasakan getir di ulu hati.

Bulan demi bulan berikutnya, saya rutin mengirimkan tulisan. Sebagian lolos kurasi dan muncul di Harian Kompas, namun sebagian yang lain tak jelas nasibnya. Saya tidak pernah ambil pusing. Saya serahkan nasib tulisan saya pada Mas Radhar dan saya tidak pernah berniat untuk menerbitkan atau mengirimkan tulisan-tulisan yang sudah pernah saya kirimkan kepadanya. Mengapa? Sebab waktu tunggu di rubrik Teroka itu tidak tentu. Bisa hitungan bulan, malah sampai tahun. Saya pernah mengalaminya. Tulisan saya kirim akhir tahun 2016, baru nongol di ujung tahun 2017.

Baca juga:  Kiai Azaim dan Komunitas Bhenning

Kamis malam, 12 Ramadan 1442 H beliau dipanggil Allah. Saya merasa sangat beruntung kenal secara pribadi—meski semadyanya—dengannya. Rekaman suaranya ketika pada bulan Ramadhan tahun 2018 kami ngobrol santai masih ada di ponsel saya hingga kini. Saya sering memutar rekaman itu di waktu-waktu luang. Saya selalu menikmatinya dengan cara yang berbeda, meski isi rekamannya sama dan tidak pernah berubah.

Mendengar kabar Mas Radhar berpulang, saya hanya bisa mengheningkan cipta sehening-heningnya sembari menudubkan doa. Saya tidak tahu banyak tentang lelaki yang hampir dua dekade menjalani cuci darah saban minggu ini. Saya hanya punya ingatan-ingatan kecil tentang kebaikan-kebaikan yang sederhana, tentang perhatian dan juga keterbukaan. Sederhana tapi langka. Itu sebabnya Mas Radhar menjadi istimewa.

Selamat jalan, Mas. Njenengan sudah melawan dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top