Sedang Membaca
Dedongengan Paku Alaman dan Cerita Putera-putera Bangsa
Penulis Kolom

Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Penulis buku “Keplek Ilat: Wisata Kuliner Solo”

Dedongengan Paku Alaman dan Cerita Putera-putera Bangsa

Img 20210628 Wa0004

Gairah belajar di tengah pandemi tak boleh padam. Terobosan dan kreativitas musti dipacu guna memproduksi pengetahuan, tanpa kecuali konten sejarah.

Dalam dua pekan lalu, saya “ditodong” untuk mendongeng sejarah yang dialamatkan kepada peserta didik. Generasi milenial ini perlu disuguhi kisah klasik dengan bahasa kekinian.

Img 20210628 Wa0003
Lawatan sejarah yang digelar BNPB DIY, 22-24 Juni 2021 (Foto: Heri Priyatmoko)

Dua program yang dihelat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut berupa lawatan sejarah dan pembuatan film pendek. Ndilalah dua program lembaga plat merah itu menyangkut sejarah lokal.

Film pendek mengangkat ketokohan Ki Hadjar Dewantara dengan mengambil setting lokasi di Museum Dewantara.

Adapun Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Daerah Istimewa Yogyakarta memutar film berjudul “Lebet Regol Danawara: Dinamika Budaya Dari Pura Pakualaman”.

Dua kegiatan itu menerbangkan imajinasi historis kita untuk melongok Paku Alaman dalam kacamata sejarah pendidikan. Ia merupakan kerajaan kecil, sumberdaya alam yang tersedia pun terbatas.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Upaya meluaskan wilayah juga tidak mungkin dikerjakan, sebab mereka berada di bawah perlindungan pemerintah kolonial.

Menurut G. Moedjanto (1994), kondisi ini memicu kesadaran mengenai gerakan pembaharuan dalam masyarakat. Bangsawan Paku Alaman terancam posisinya, karena lahan sempit, otomatis kepemilikan pun terbatas.

Mereka melihat zaman terus bergerak, maka sampailah pada kesimpulan bahwa kerabat Paku Alaman bisa terus mempertahankan peran dalam masyarakat jika mengikuti perubahan zaman. Caranya ialah masuk dalam kehidupan modern sambil menjaga tradisi.

Baca juga:  Perbincangan Islam Nusantara di Iran: Tasawuf, Menara Kudus hingga Gus Dur

Pendidikan modern adalah jalan menuju cita-cita tersebut. Merujuk Ahmad Nashih Luthfi (2009), tradisi intelektualitas di lingkungan Paku Alaman sudah dimulai sejak masa PA II melalui kegiatan belajar kesusastraan, agama, seni-budaya.

Paku Alaman memasuki zaman baru, bidang pendidikan mencapai momentumnya saat PA V berkuasa (1878-1900). Memasuki abad XX, Kadipaten Paku Alaman berada di depan kerajaan Mataram lainnya, terutama dalam keterbukaan dengan dunia barat dalam pendidikan dan ekonomi.

Ini terlepas dari peran PA V, yang dikenal sebagai ekonom handal ketimbang seorang pujangga. Gumpalan idenya menerobos dan menyambut pendidikan barat bergaul dengan istana yang sakral.

Melahirkan Putra Terbaik

Kadipaten Paku Alaman mengecap buah manis dan pahit dari pendidikan modern, beberapa putra terbaik bangsa Indonesia berasal dari keluarga Paku Alaman. Sebut saja Kusumoyudo (anggota Raad van indie), Notodiningrat, Notosuroto, dan kakak-beradik Soerjapranoto-Soewardi Soerjaningrat.

Yang disebutkan terakhir adalah tokoh paling moncer dalam jagad pendidikan, dan bisa digunakan sebagai gambaran melihat bagaimanakah hasil pendidikan dan sumbangan tokoh Paku Alaman terhadap bangsa Indonesia.

Menurut Mochammmad Tauchid (1968), saat Budi Oetomo berdiri (20 Mei 1908) Soewardi ditugasi di bidang propaganda organisasi. Ia membantu Soetomo dan Wahidin Soedirohoesodo, mengajak priayi bergabung dengan BO.

Di Bandung, Soewardi berkenalan dengan tokoh politik Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo. Bertiga mendirikan partai politik pertama Indische Partij (IP) yang bersifat radikal.

Baca juga:  Merekam Kisah Kampung Kandang Doro

Selanjutnya, Soewardi dan Tjipto menyebarkan brosur berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Andai Aku Seorang Belanda) dan Kracht of Vrees (Kekuatan atau Ketakutan). Dianggap meresahkan masyarakat, Belanda mengerahkan serdadu menjaga Bandung serta menangkap Soewardi dan membuangnya ke Belanda pada 6 September 1913.

Sanksi pembuangan tidak bikin Soewardi kapok, justru makin pedas mengkritik pemerintahan Belanda hingga meringkuk dibui pada Agustus 1920 gara-gara tulisannya di harian De Express.

Selama di penjara Semarang, ia memilih satu sel dengan rakyat meski dirinya berasal dari keluarga ningrat. Keinginan itu bikin bangsawan geleng-geleng kepala tak mengerti atas pemikiran Soewardi.

Sepulang dari penjara, berguru kepada Pangeran Suryomataram di Yogyakarta untuk mengupas, mengkaji, dan mendiskusikan nasib rakyat dan bangsa.

Memperbaiki kondisi negeri tanpa bersikap frontal terhadap penguasa, yakni dengan memperbaiki pendidikan jiwa dan mental bangsa.

Selain memberi pendidikan politik, pendidikan rakyat diutamakan.
Lalu, 3 Juli 1922 mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa dengan asas utamanya kemerdekaan diri dengan dasar nasional.

Perguruan Taman Siswa mengalami tentangan dari pemerintah Belanda dan pribumi. Mereka segan menyekolahkan anaknya di sekolah yang dianggap belum mampu menyamai kualitas pendidikan kolonial.

Kurikulum terus diperbaiki, sekolah ini menjadi lembaga pendidikan alternatif. Keunggulannya, menanamkan budaya dan rasa keindonesiaan yang menjiwai kehidupan pribumi.

Baca juga:  Meresapi Segarnya Taitung (1): Bermain-main dengan Teh di Chulu

Perguruan juga tidak mengenal penggolongan berdasarkan ras maupun kelas, siapa saja yang mendaftar diterima menjadi murid.

Soewardi bersalin nama menjadi Ki Hajar Dewantara supaya dekat wong cilik. Hambatan acap ada, pada 1 Oktober 1932 toewan Walanda mengeluarkan Wilde School Ordonantie (Ordonansi Sekolah liar).

Ki Hajar menentang keputusan ini, karena merugikan dan membunuh sekolah swasta pribumi.

Peserta didik lewat acara lawatan sejarah dan produksi film dipahamkan bahwa kurikulum Merdeka Belajar sejatinya bukan hal baru dalam jagad sejarah pendidikan di Indonesia.

Kebijakan itu sudah diterapkan oleh tokoh pendiri sekolah Taman Siswa. Para gurunya memerdekakan jiwa muridnya, menumbuhkembangkan karakter siswa dengan konsep “among”, dan menyerap pengetahuan dengan mempertimbangkan lingkungannya.

Akhirnya, generasi milenial sadar bahwa kisah sejarah selalu aktual, bukan dongeng pengantar tidur.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top