Mengapa Harus Ada Banser?

Hamzah Sahal

Secara teori, mustahil organisasi massa tidak butuh “para militer (sipil)”. NU butuh Banser. Muhammadiyah butuh Kokam. Dan seterusnya. Jangankan membubarkan institusinya, mengganti seragam militieristiknya pun nyaris gak mungkin.

NU, sebenarnya ormas yang kritis terhadap militer. Ketika zaman perjuangan kemerdekaan, “tentara rakyat” (yang tergabung dalam Hizbullah, Sabilllah, dll. yang berasal dari pesantren), tidak mau bergabung jadi tentara secara resemi (TNI).

Para pejuang kemerdekaan dari NU dan pesantren, sebagian besar memilih jalan mengabdi di masyarakat dengan basis pesantren, masjid, langgar, dan madrasah. Ada alasan lain pula, yakni dulu mereka masih ragu-ragu (baca: syubhat) dengan gaji dari pemerintah. Mereka lebih memilih berdagang, bertani, nelayan, atau cukup menerima bayaran beras, kelapa dari bayaran santri di madrasah (ini zaman dulu. Sekarang pasti tidak ada, ada jumlahnya, jika masih ada, pasti kecil sekali).

Tidak hanya itu, bahkan, sebagian besar para pejuang dari pesantren dan NU, tidak bersedia menerima gaji sebagai veteran (bapaknya saya tercatat sebagai anggota Veteran yang terima gaji 5-7 tahun sebelum meninggal. Saya kerap menemaninya ke kantor pos untuk menerima gaji, yang tidak dibawa pulang itu. Mengapa? Karena langsung dikirimkan via wesel pos ke dua anaknya yang sedang nyantri). Sedikti saja para tentara rakyat atau gerilyawan dari pesantren yang ingin masuk tentara. Tapi itu pun yang masuk kecil sekali jumlahnya, karena kebanyakan diganjal dengan persyaratan yang gak masuk akal.

Tradisi kritis pada militer makin kuat saat zaman Orba. Jangan lupa, setelah PKI ditumpas, golongan NU dan pesantrenlah yang digencet oleh rezim militer itu. Bukan hanya kesempatan jadi PNS dipersulit minta ampun, tapi juga diintimidasi, dihalang-halangi pergerakannya, bahkan ada yang dibunuh.

Baca Juga:  Ketika Masjid Digembok

Kiai Hasan Basri Brebes dibunuh dan dimasukkan ke dalam sumur karena tidak bersedia masuk Golkar. Sebuah desa di Losarang dibakar karena dalam simulasi pemilu 1971 yg menang PARTAI NU. Desa Asembagus juga dibakar. Sepanjang masa Orba 32 lamanya, NU digencet. Puncaknya muktamar 1994 di Cipasung Tasikmalaya.

Setelah itu, Gus Dur sebagai ketua umum PBNU merasa kasihan pada kiai-kiai, pada pengurus NU, pada masyarakat yang setia menjadi NU dan menjaga pesantren. Untuk meredam kekurangajaran Orba, Gus Dur keliling pesantren bawa-bawa Tutut. Gus Dur rela dihujat, bahkan oleh internal NU sendiri, dituduh telah mendukung Orba.

Kenapa NU tidak mau membubarkan Banser, bahkan menolak mengganti seragam ketika muncul kritik di Muktamar Lirboyo tahun 1999?

Jawabnya adalah: karena pengalaman hidup! Pengalaman hidup 32 tahun di zaman Orba mengatakan: NU, pesantren, mencintai hidup rukun, tentram, damai dengan siapapun (meski tidak dibantu buat sekolah, RS, buat kampus, intelektualnya dikasih beasiswa, dll). Tapi NU siap 27 jam menghadapi kondisi apapun, termasuk merapatkan barisan melawan yang menganggu ketentraman bermasyarakat, beragama, dan berbangsa.

Namun, sepertinya ke depan banyak harapan bahwa Banser harus tampil lebih kalem. Generasi milenial yang berhati lembut, lebih butuh kondisi tenang, termasuk di medsos. Saya sih mengatakan, harapan itu sama susahnya dengan meminta Banser ganti seragam ala militer dengan kemeja batik.

Baca Juga

Yang lebih memungkinkan dan dapat kita usulkan adalah mengimbangi kegiatan Banser, latihan-latihan fisik mereka dg kegiatan-kegiatan yang lebih rileks, seperti:

1. Hidupkan lagi tradisi humor. Kalau makin sedikiti orang lucu di GP Ansor, jadikan Cak Lontong pengurus Ansor

Baca Juga:  Mampu Memahami dan Menghormati Dengan Membaca

2. Diperbanyak pengurus model Gus Ghofur Maemun, yang begitu halus gerak-geriknya, terpilih kata-katanya, teduh pandangannya.

3. Semua Banser wajib ikut tarekat, dalam bimbingan para mursyid seperti Habib Lutfi dll. 20 Tahun terkahir ini, anggota Banser dari kalangan intelekjktual sudah banyak sekali. Mereka lulusan sarjana hingga doktor. Profesi mereka sekarang ini lebih beragam, dan masuk kota-kota besar. Kepercayaan dirinya makin naik dari tahun ke tahun, seniman, habib, inteltual saja sekarang seang pakai jaket Banser, sesuatu yang tidak akan kita lihat 20 tahun lalu. Nah, jika mereka masuk tarekat, gerak-gerik Banser enak dipandang, semangat tinggi tapi tetap lembut, dan pernyataan-pernyataan insya Allah lebih puitis.

Lihat Komentar (2)

Komentari