Pendaftaran Workshop Menulis

Humor Gus Dur: Anggota Banser Memukul Orang Muhammadiyah

Redaksi

Suatu hari Gus Dur datang ke salah satu kecamatan di Lamongan untuk memberi ceramah Maulid di sana. Nah begitu masuk ke kota kecil itu, Gus Dur dan rombongan melihat ada spanduk ucapan selamat datang kepada KH Abdurrahman Wahid. Spanduk tersebut tertera nama Pengurus Anak Cabang Muhammadiyah di sana.

Memang Muhammadiyah merupakan ormas Islam yang kuat dan banyak pengikutnya. Malah karena fanatisme mereka, tak jarang terjadi konflik terbuka soal ibadah seperti salat id di lapangan atau di Masjid, tarawih 23 rakaat atau 11 rakaat, dan sebagainya. Nah, karena itu Gus Dur agak kaget karena kok “tumben-tumbennya” ada spanduk selamat datang untuk beliau dari warga Muhammadiyah. Maka sesampai di lokasi acara.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Gus Dur bertanya kepada Ketua Panitia, “Kok ada spanduk dari Muhammadiyah menyambut saya?”

“Wah nanti saya cari tahu, Kyai!” Jawab si Panitia sambil bergegas pergi.

Beberapa waktu kemudian si Ketua Panitia (yang juga Ketua Banser) balik menemui Gus Dur sambil bilang, “Lapor Kyai, sudah saya bereskan.”

“Lho. Bereskan apa?” Kata Gus Dur sambil agak kaget.

“Ya itu tadi, soal spanduk selamat datang. Yang memasang sudah saya pukul dan minta menurunkannya.” Kata si Ketua Banser dengan bangga.

Baca juga:  Harlah Lesbumi ke-56: Kebudayaan Pesantren dan Fungsi Politisnya

Sampeyan ini gimana sih, Mas? Lha kok malah main pukul segala?”

“Lho kan ndak sopan Kyai, masa Muhammadiyah memberi ucapan selamat datang kepada KH Abdurrahman Wahid. Kan Kyai ini Ketua Umum PBNU, jadi orang Muhammadiyah ndak boleh ikut-ikutan menyambut!” Kata si panitia, polos.

“Masya Allah! Waduh sampeyan ini gimana? Kan itu bentuk menghormati kita, kok malah sampeyan marah.” Gus Dur ndak bisa melanjutkan kata-kata saking jengkel tapi juga merasa lucu.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Wah ndak bisa, Kyai.” Kata sang Ketua Banser, masih ngeyel, “nanti bagaimana warga NU di sini kalau Muhammadiyah merasa ikut memiliki panjenengan? Jadi ya harus dihentikan!”

“Sudah-sudah. Sampeyan saya perintahkan kembali kepada yang masang. Bilang Gus Dur minta maaf dan tolong dipasang lagi spanduk itu. Jangan mbantah lagi, ya!” akhirnya Gus Dur memutuskan.

Maka ngeloyorlah si Ketua Panitia Maulid, sambil tetap tak habis pikir kenapa Gus Dur kok malah baik sama Muhammadiyah!

Moral cerita itu adalah bahwa hubungan dua ormas Islam di tingkat grass-roots ternyata memiliki dinamika dan kerumitannya sendiri. Hubungan tersebut tidak hanya pada tataran organisasi, tetapi juga sudah masuk ke ranah teologis dan kultural sehingga ke NUan dan ke Muhammadiyahan sudah menjadi semacam identitas yang membedakan kedua warga secara kategoris.

Baca juga:  Kisah Gus Dur Tentang Kambing Milik Tuhan

Akibatnya, perbedaan mereka bukan hanya soal organisasi, tetapi juga merasuk pada urusan-urusan lebih dalam. Walhasil, hubungan NU-Muhammadiyah jadi mirip dengan hubungan antar-ummat beragama! Kalau sudah seperti ini, maka untuk membangun “ukhuwah Islamiyah” ditingkat grass roots memang menjadi pekerjaan yang tidak sederhana, dan memerlukan kehati-hatian serta ketelatenan yang besar.

Itulah sebabnya, GD mengatakan pada saya, kenapa beliau harus sering turun ke bawah dan bicara langsung kepada warga NU di bawah dengan bahasa mereka dan cara mereka, agar supaya tidak terjadi distorsi komunikasi. Hubungan NU-Muhammadiyah yang harmonis sangat penting bagi gerakan Islam di negeri ini, karena mereka adalah pilar utama bagi kebesaran bangsa. Tetapi hal tersebut tidak hanya bisa diwacanakan saja, namun perlu kerja keras! (RM)

(Sumber: Buku Gus Durku Gus Dur Anda Gus Dur Kita, Penulis Muhammad AS Hikam, Penerbit Yrama Widya, 2013)

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top