Sedang Membaca
Perjuangan Kemerdekaan oleh Santri-Santri Nusantara dari Kairo (Bagian 3)
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Perjuangan Kemerdekaan oleh Santri-Santri Nusantara dari Kairo (Bagian 3)

Ahmad Ginanjar Sya'ban

Sejak awal bulan September tahun 1945, media-media Mesir dan Arab ramai menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ramainya siaran berita bersejarah itu tidak bisa dilepaskan dari peran para aktivis Indonesia yang bermukim di Kairo pada masa itu, yang memiliki hubungan dan jaringan yang cukup kuat dengan media-media Mesir.

Kemerdekaan Indonesia pun mendapat sambutan yang sangat hangat dari berbagai lapisan bangsa Arab, baik dari kalangan masyarakat secara umum, para aktivis, termasuk para pejabat dan aristokrat pemerintahan.

Mesir tercatat sebagai negara di dunia yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia. Mesir juga yang berhasil menggalang pengakuan dari negara-negara anggota Liga Arab untuk memberikan pengakuan serupa.

Hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran Mahmoud Fahmy el-Naqrasyi (w. 1948), Perdana Menteri Mesir kala itu, juga Abdurrahman Azzam Pasya (w. 1976), tokoh besar Mesir yang menjabat sebagai Sekteratis Jenderal Liga Arab. Dua tokoh kunci ini dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dan akrab dengan para aktivis Indonesia di Kairo pada dekade 1940-50-an.

Pada tanggal 16 Oktober tahun 1945, sebuah babakan lain bagi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dari luar negeri terjadi di Kairo, tepatnya di gedung Jam’iyyah Syubban al-Muslimin (Organisasi Pemuda Islam). Organisasi tersebut pada kala itu dipimpin oleh Jenderal Shalih Harb Pasya.

Yang menarik, salah satu anggota dewan kehormatan organisasi itu adalah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Keanggotaan Hasdratus Syaikh dalam organisasi tersebut diungkapkan oleh Muhammad Asad Syihab dalam bukunya Al-‘Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari: Wadhi’ Labnah Istiqlal Indunisiya.

Pada tanggal tersebut, di gedung Jam’iyyah Syubban al-Muslimin Kairo sedang berlangsung pertemuan para tokoh dan aktivis perjuangan Arab. Di antara mereka adalah Abdurrahman Azzam Pasya (Sekjen Liga Arab), Prof. Dr. Abdul Wahhab Azzam (dekan Universitas King Fouad I [kini Universitas Kairo]), Dr. Mahmoud Azmi (anggota parlemen Mesir), Ahmad Hussein (ketua Partai Muda Mesir), Dr. Taufiq Syawi (tokoh Ikhwanul Muslimin).

Baca Juga:  Kaliurang 37 Tahun Silam: KH Ali Maksum Diangkat Menjadi Rais Aam PBNU

Turut serta juga Abdul Qadir Beg (Organisasi Pemuda Islam), Mahmoud Galal (anggota parlemen Partai Nasional Mesir), Muhammad Ali Thahir (tokoh besar pembebasan Palestina), Habib Borguiba (kelak Presiden Tunisia), Fudhail Warthalani (tokoh perjuangan Aljazair). Dr. Assad Salimeh (aktivis perjuangan Lebanon), dan lain-lain.

Menariknya, pertemuan tersebut menghasilkan resolusi dibentuknya Lajnah al-Difa’ ‘an Istiqlal Indunisiya (Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia). Sidang menunjuk Jenderal Shalih Harb Pasya sebagai ketua panitia tersebut. Dalam pertemuan tersebut pula, hadir puluhan pelajar Indonesia di Kairo. Dua orang pelajar asal Indonesia tampil ke depan sebagai perwakilan, yaitu Muhammad Zein Hasan dan Ismail Banda.

Sebagaimana dikemukakan oleh Zein Hassan dalam bukunya “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri”, bahwa terdapat tujuh poin resolusi penting yang dikeluarkan oleh “Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia” tersebut, yang kemudian dibacakan oleh Jenderal Shalih Harb Pasya.

Ketujuh poin resolusi itu adalah sebagai berikut:

1. Menyambut dengan gembira pengumuman kemerdekaan Indonesia dan mendukung Republik Indonesia.

Baca Juga

2. Menyerukan kepada semua bangsa Arab dan Islam agar menyokong Republik Indonesia dengan jalan dan cara yang tepat dan menghasilkan.

3. Menuntut semua negara dan terutama negara-negara Arab dan Islam supaya mengakui Republik Indonesia.

4. Mendesak Inggris supaya tidak menyokong Belanda dan memperingatkannya akan kemarahan Muktamar Alam Islami (Konferensi Dunia Islam) atas sikapnya yang akan berakibat kehilangan kepercayaan pada piagam-piagam internasional yang baru.

5. Berusaha agar masalah Indonesia ini dibicarakan di seluruh Parlemen Negara Arab dan Parlemen Negara Islam

6. Menyampaikan resolusi ini kepada seluruh negara di dunia dan Republik Indonesia, serta menyiarkannya ke seluruh dunia.

Baca Juga:  Malam Terakhir Khalifah Utsman bin Affan

7. Membentuk satu panitia tetap untuk terus mengikuti dan memantau isu-isu ke-Indonesia-an dan mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mendukung sepenuhnya para pejuang Indonesia.

Lihat Komentar (0)

Komentari