Hudan lil Muttaqin: Taqwa dan Sikap Sumarah

Ulil Abshar Abdalla

Pembukaan surah al-Baqarah memuat penegasan yang penting, yakni, bahwa Alquran adalah kitab petunjuk (hudan) bagi, dalam bahasa Kiai Bisri Mustofa dalam tafsir berbahasa Jawa, al-Ibriz, “wong-wong kang anduweni dasar takwa”, orang-orang yang memiliki fondasi ketakwaan: “hudan lil-muttaqin”.

Saya akan mengajak Anda untuk melakukan “wisata tafsir” sebentar guna menyelami makna kata taqwa ini. Semoga dengan wisata ini kita akan mendapatkan pengertian yang lebih segar mengenai istilah yang selalu kita dengar pada pembukaan khutbah Jumat itu.

Sejak kecil, saya selalu diajarkan bahwa takwa ialah takut kepada Tuhan. Hingga sekarang, masih banyak kalangan yang menerjemahkan kata ini dengan cara demikian. Ini tidak saja terjadi di Indonesia. Abdullah Yusuf Ali, penerjemah Alquran dalam bahasa Inggris, memaknai takwa sebagai those who fear God, “mereka yang takut pada Tuhan”.

Muhammed Marmaduke Pikthall, penerjamah Alquran berbahasa Inggris yang lain, dalam The Meaning of the Glorious Koran, menerjemahkan muttaqin sebagai those who ward off (evil), mereka yang menghindarkan diri dari hal-hal yang jahat. Meskipun berbeda, terjemahan Pikthall ini tidak jauh dari pengertian takwa yang selama ini umum dipahami.

Tapi memang, dalam banyak tafsir klasik disebutkan bahwa takwa adalah takut kepada Tuhan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Terjemahan Pikthall, kurang lebih, menggaungkan makna yang sudah lazim kita dengar itu.

Ada dua penerjemah/penafsir Alquran yang memberikan makna yang sedikit berbeda; yang satu dari lingkungan berbahasa Inggris, yang satunya lagi dari lingkungan Jawa-Banyumasan. Muhammad Asad, seorang mualaf Yahudi dari Austria, dalam The Message of the Qur’an, memberikan terjemahan yang beda bagi muttaqin, yaitu All the God-conscious, mereka yang sadar tentang Tuhan.

Terjemahan Asad ini langsung mengingatkan saya pada filosofi Jawa yang pernah dikenalkan oleh pujangga besar Jawa, R. Ng. Ronggowarsito: eling lan waspada, orang-orang yang selalu ingat dan waspada. Mereka yang selalu eling lan waspada adalah orang-orang yang mencapai “kabegjan”, keuntungan dan kebahagiaan. Kalimat Ronggowarsito ini menggiring kita untuk mengingat ujung ayat ke-5 dalam surah al-Baqarah: ula’ika hum al-muflihun, “merekalah orang-orang yang begja, beruntung”.

Baca juga:  Tumbuhan dalam Alquran

Saya tak tahu, apakah raja pujangga Jawa itu mendapatkan pengaruh dari ayat ini kala mengucapkan kalimat yang terkenal tentang zaman edan itu. Tetapi yang jelas, kemiripan semacam ini tentu menarik untuk kita renungkan.

Pengertian kedua yang agak lain tentang makna “muttaqin” kita jumpai pada terjemahan Alquran dalam bahasa Jawa-Banyumasan yang pengerjaannya dipimpin oleh Ahmad Tohari, pengarang Jawa asal Banyumas itu. Di sana, kata muttaqin diterjemahkan sebagai: “wong-wong sing padha semarah (takwa)”.

Terjemahan ini sangat menarik perhatian saya. Jarang sekali saya menjumpai pengertian ini pada penerjemah Alquran yang lain. Waktu di pesantren pun, tak satu pun guru-guru saya di kawasan Jawa pantura, menggunakan kata “semarah” untuk padanan bagi kata taqwa dalam bahasa Arab.

Saya sudah berkali-kali ingin menanyakan hal ini langsung kepada Kang Tohari, begitu saya kerap memanggil sastrawan Banyumas ini, tetapi selalu lupa. Keputusan tim penerjemah Alquran dalam bahasa Jawa-Banyumasan untuk menggunakan kata “sumarah” sebagai padanan untuk kata “taqwa” ini adalah tindakan hermeneutis yang, bagi saya, cukup berani.

Kata “semarah” atau “sumarah” dalam bahasa Jawa bermakna “berserah diri”. Sastrawan Indonesia yang terkenal, Umar Kayam, misalnya, pernah menerbitkan suatu kumpulan cerita panjang berjudul Sri Sumarah dan Bawuk.

Sri Sumarah, dalam kisah Pak Kayam itu, mewakili sosok wanita Jawa yang menghayati sikap “sumarah”, berserah diri sepenuhnya saat menjalani pasang-surut kehidupan, tanpa sikap mengeluh, memberontak, meskipun bukan berarti berserah tanpa suatu ikhtiar dan perjuangan.

Istilah “sumarah” juga bisa mengingatkan kita kepada ajaran hidup penting yang dikembangkan oleh masyarakat Jawa: sikap berserah diri. Ajaran ini dikembangkan, antara lain, oleh kelompok kebatinan Jawa yang didirikan oleh seorang bijak dari Gunung Kidul, R. Ng. Sukinohartono (1897-1971): yakni Paguyuban Sumarah. Salah satu filosofi yang dikembangkan oleh kelompok ini tergambar dalam kalimat berikut ini:

Sanggem tansah enget dhateng Allah
Sumingkir saking raos pandaku, kumingsun
Pitados dhateng kasunyatan
Saha sujud sumarah ing Allah

Marsudi sarasing sarira
Tentreming panggalih
Saha sucining Rohipun
Mekaten ugi ngutamekaken watakipun
Dalah muna-muni tuwin tindak-tandukipun

Kelompok kebatinan Jawa ini memaknai “sumarah”, antara lain, sebagai sikap selalu ingat akan Tuhan. Pada ujungnya, sikap ini akan menghilangkan kecenderungan untuk mendaku semua hal untuk diri sendiri, ego-centric, dan melihat dunia sekitar dari sudut aku yang sempit.

Baca juga:  Apa Manfaat Membaca Surah Mu’awwidzatain?

Sikap sumarah membantu seseorang untuk mengatasi dan melampaui lingkaran keakuan yang amat cupet (sempit). Setelah keakuan-sempit bisa diatasi, seseorang akan sampai kepada sikap lain yang menjadi sumber kebahagiaan: melihat “kasunyatan”, kenyataan yang sebenar-benarnya.

Ketika seseorang sudah mampu melihat “kenyataan” yang sebenarnya (katakan saja: al-Haqiqah), ia akan “sujud berserah diri kepada Tuhan”. Itulah sumarah.

Meskipun tidak persis sama, tampaknya ada kemiripan antara pengertian takwa dalam pandangan Muhammad Asad dan Alquran terjemahan Jawa-Banyumasan ini. Asad memaknai takwa sebagai kesadaran tentang kehadiran Allah secara terus-menerus dalam diri seseorang. Sementara, istilah “semarah” dalam Alquran terjemahan Jawa-Banyumasan memiliki pengertian (jika kita ikuti pengertian dalam kelompok kebatinan Jawa tadi itu): selalu ingat Tuhan yang ujungnya adalah bersujud-berserah diri kepada-Nya.

Baca Juga

Asad menulis catatan kaki yang agak panjang sebagai penjelasan atas istilah taqwa ini. Dia memandang bahwa pengertian yang selama ini disematkan kepada kata takwa, yaitu “takut kepada Tuhan” (God-fearing), tidak memadai. Kata “takut” di sana mengisyaratkan pengertian yang agak negatif.

Menurut Asad, kata taqwa mengandung pengertian lebih positif, yaitu kesadaran tentang kehadiran Tuhan, dan kehendak kuat pada seseorang yang memiliki kesadaran seperti ini untuk “mencetak” (mould), membentuk, dan mengarahkan kehidupannya sesuai dengan kesadaran itu.

Mungkin kita bisa mengemukakan observasi sederhana berikut ini. Pengertian takwa sebagai “takut kepada Tuhan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya”, sebagaimana kita lihat dalam terjemahan konvensional selama ini, mungkin bisa disebut sebagai terjemahan yang condong pada aspek eksoterik, syariat. Sementara memaknai takwa sebagai “kesadaran tentang kehadiran Tuhan yang mewujud dalam sikap berserah diri” adalah pengertian yang lebih mengarah kepada dimensi esoterik, haqiqat.

Kedua pengertian ini tepat dan tak ada yang salah. Tetapi saya sepakat dengan pandangan Asad bahwa pengertian takwa sekedar sebagai sikap “takut kepada Tuhan” kurang memadai. Karena itu Asad mengajukan terjemahan yang dia anggap lebih “dalam”, yaitu kesadaran tentang kehadiran Tuhan. Dengan pertimbangan ini, saya mengaggap keputusan tim penerjemah Alquran dalam bahasa Jawa-Banyumasan untuk menggunakan kata “semarah” untuk memaknai takwa sebagai keputusan yang berani dan sekaligus tepat.

Baca juga:  Mencintai Bahasa Arab: Kenangan untuk Ayah Saya

Dengan demikian, makna ayat dalam pembukaan surah al-Baqarah itu adalah sebagai berikut. Alquran hanya bisa menjadi petunjuk bagi orang-orang yang memang memiliki sikap batin tertentu, yaitu berserah diri, selalu ingat kepada Tuhan, dan orientasinya dalam hidup adalah pitados dhateng kasunyatan, mencari kenyataan yang sesungguhnya (al-Haqiqah), bukan kenyataan yang semu yang bisa dicerap dengan indera manusia.

Orang-orang yang memiliki cara pandang yang lain, terutama mereka yang tidak mempercayai adanya Kasunyatan, kenyataan yang hakiki di balik dunia fisik yang tampak oleh indera manusia, mereka yang memiliki cara pandang yang materialistik, tentu saja susah mendapatkan “hidayah”, atau petunjuk dari Alquran.

Begitu juga, mereka yang memiliki sikap “kumingsun”, sikap yang melihat segala hal dari sudut pandang diri-sendiri, tak mau melihat liyan atau orang lain, juga akan susah mendapatkan petunjuk yang bermakna dalam Alquran.

Orang-orang dengan sikap kumingsun ini akan cenderung menjadikan Alquran sebagai instrumen saja untuk memperkuat keakuannya, ke-ego-annya saja.

Dengan demikian, kita menjadi sadar bahwa Alquran hanya bisa menjadi “kitab pentunjuk” hanya bagi orang-orang tertentu saja, tidak bagi semua orang. Tentu saja semua orang bisa saja mempelajari Alquran, membacanya, mengkajinya. Tetapi hanya orang-orang yang memiliki syarat rohani tertentu yang bisa menjadikan Alquran sebagai sumber petunjuk, yaitu mereka yang memiliki sikap takwa, semarah, berserah diri, serta mempunyai kesadaran tentang kehadiran Tuhan terus-menerus dalam dirinya.

Sekian.

Lihat Komentar (0)

Komentari