Sedang Membaca
Sumur Gila
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sumur Gila

Hamdani
Syahdan, di sebuah negeri yang makmur dan kaya tersebutlah sebuah kerajaan Eiden, dengan rajanya bernama “Bhalkabah” yan salih dan bijak. Berabad lamanya mereka hidup dalam kedamaian, tak satu pun bangsa berani menjajahnya. Rakyatnya setia dan cinta pada rajanya, sementara rajanya senantiasa menyayangi rakyatnya.
Kerajaan Eiden tak mengenal kemiskinan, karena mereka terbiasa saling berbagi. Di sana tak ada kejahatan dan pencurian, karena penduduknya saling percaya dan bersaudara.
Tak ada perdebatan, tak ada kasak-kusuk karena mereka lebih disibukkan membaca mushaf-mushaf para bijak terdahulu yang terdapat di perpustakaan kerajaan. Mereka tak mengenal undang-undang dan hukum, karena mereka tak memiliki kamus untuk kata “curang” dan “korupsi” sebagai misal.
Hingga suatu saat, penyihir yang memuja iblis cemburu dan dengki dengan kemakmuran dan kedamaian Kerajaan Eiden. Ketika malam tiba, kala seluruh rakyat Eiden terlelap dalam mimpi. Sang penyihir terbang di atas negeri itu dan menjatuhkan ramuan gila ke dalam sumur (sumber mata air satu-satunya di negeri itu) sembari berucap mantra “jadilah democrazy!”
Keesokan harinya ketika Raja Bhalkabah melakukan ekspedisi yang jauh. Rakyat di seantero kerajaan menjalani aktifitas kesehariannya menimba dan meminum air dari sumur itu. Perlahan dari waktu ke waktu, rakyat pun menjadi gila, mereka gemar berbicara hak, berbicara kebenaran di atas kebenaran, saling menuntut dan lupa memberi bahkan mencuri.
Seluruh rakyat pun menjadi goyah, penuh rasa kegelisahan dan prasangka, tak ada lagi rasa aman antar sesama. Melalui musyawarah yang gila, mereka rancang undang-undang dan hukum sendiri, mereka gemar berkata: “suara rakyat suara tuhan!”
Hingga ketika sang raja kembali dari ekspedisinya, raja yang tak sempat meminum air sumur kegilaan terkaget-kaget dengan perubahan drastis kerajaannya. Sementara ketika Raja Bhalkabah melintas di antara rakyatnya, salah satu dari mereka berkata: “Lihat, itu Raja kita, betapa berbedanya ia kini, tak seperti biasanya, ia berbeda, jangan-jangan ia gila! Raja kita sudah gila!
Rakyat pun berpikiran rajanya sedang mengidap kegilaan. Rakyat pun tak lagi sudi mendengar titah sang raja, jangankan sebagai raja, sebagai seorang biasa pun ia tak lagi didengar.
“Kita harus selamatkan raja!” kata salah satu dari mereka.
“Raja sudah gila dan harus minum air sumur kesembuhan,” kata yang lainnya.
“Iya, betul. Raja harus disembuhkan dengan air sumur yang kita minum. Ia butuh disembuhkan karena lama tak meminum air sumur penuh berkah ini.”
Akhirnya, mereka memburu dan menangkap sang raja ramai-ramai, mengarak raja ke sumur yang berisi racun sang penyihir.
Lalu Raja pun ikut menjadi gila, dan ketika itu terjadi, salah satu dari rakyatnya berkata:
“Alhamdulillah… Raja kita sudah sembuh dari kegilaannya. Raja kita sudah kembali waras!
*Disadur dari karya Khalil Gibran
Baca Juga:  Musyrik Menurut Kiai Bisri Mustofa
Lihat Komentar (0)

Komentari