Penulis Kolom

CEO TV9 Nusantara, Televisi Kaum Santri. Penikmat sastra, Pegiat media Nahdlatul Ulama dan Pesantren.

KH. M. Hasyim Asy’ari, Bulan Suci, dan Syair “Li Khomsatun” Itu

Tanggal 7 dan 9 Ramadan akan selalu spesial. 7 Ramadhan 1366 H, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ary wafat, hanya dua tahun lebih dua hari dari proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dalam catatan kalender hinriyah tepat di tanggal 9 Ramadan 1366. Dalam hitungan miladi, proklamasi terjadi pada 17 Agustus 1945, sementara wafatnya Mbah Hasyim pada 25 Juli 1947.

Wafatnya Mbah Hasyim juga tak terlepas dari peristiwa  kebangsaan yang menguras pikiran hadratus syekh dalam usia sepuhnya, 76 tahun. Singosari, pusat pertahanan terakhir pasukan Sabilillah di bawah pimpinan Kiai Masykur, jatuh ke tangan sekutu, melalui Agresi Militer I mereka yang dilancarkan pada 21 Juli 1947. Fakta yang menyesakkan bagi pasukan gerikya di bawah komando Jenderal Sudirman kala itu.

Karenanya, Pak Dirman harus mengirimkan kurir khusus (salah satunya Haji Ghufron, Komandan Pasukan Sabilillah Surabaya) sowan Hadratus Syekh, menyampaikan berita ini ke Tebuireng.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Ya Allah. Ya Allah…” hanya Lafaz suci itu yang terdengar di ruang tamu. Tak lama, Mbah Hasyim wafat, sementara sang kurir masih belum beranjak dari Tebuireng. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. (selengkapnya sekuel sirah ini bisa baca buku Guruku Orang-Orang Pesantren, karya Guruku KH Saifudin Zuhri).

75 tahun setelahnya, jelang Ramadan 1441 H, Mbah Hasyim kembali hadir di lubuk hati terdalam umat Islam, khususnya di Indonesia. Ijazah Syair Li Khomsatun  kepada Mbah Wahab, Mbah Bisri, Mbah Romli dan seorang Kiai dari Perak Jombang, benar-benar telah menguatkan batin dan jiwa kaum muslimin yang sedang galau menghadapi pamdemi mematikan, Corona. Jutaan mulut melantunkan syair puisi keluhuran, #AjiAjiLimo, Nabi dan keluarganya itu. Banyak hati telah tergetar, melehkan keangkuhan rasionalitas yang nyaris menjadikan sakit, semata tak ubahnya rumus matematika.

Li khomsatun seakan menjewer kita, bahwa Corona hanyalah makhluk kecil dari Tuhan Yang Maha Besar. Selain ikhtiar dzahir yang sudah jamak disebar-sebar, maka mintalah oada Tuhan Pencipta Corona:  Cukup Ya Allah. Kami sudah mencatat Pesan-Mu. Ampuni kami, dan selamatkan kami dari wabah itu dengan bertawasul keluhuran Lima Pribadi Mulia yang Kau cintai: Nabi Muhammad, Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, Fathimah Azzahra’ putri Nabi dan kedua putra Hasan dan Husein.

Baca juga:  Tokoh-Tokoh Muhammadiyah di Jalur Kiri

Ada sebuah riwayat dari Ummul Mukminin, Sayyidah Aisyah, Istri Rasulullah. Suatu pagi, Nabi saw tampak mengenakan sebuah mantel besar terbuat dari bulu-bulu hitam yang biasa digunakan untuk perjalanan jauh. Tiba-tiba, datang sang cucu, Hasan bin Ali. Serta merta Sang Kakek mengajak cucu lelakinya itu masuk ke dalam mantel. Berikutnya, datang sang adik Husein bin Ali, diminta beliau masuk juga. Lantas datang putri Nabi, Fathimah. Diajak masuk juga bersama kedua bocahnya. Mantel bulu itu masih menyisakan tempat. Datanglah Ali bin Abi Thalib. Nabi pun meminta menantu yang juga keponakan ini bergabung dalam satu pelukan sayang Baginda dalam satu mantel yang sama.

Lantas Rasulullah berucap Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat al-Ahzab ayat 33:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً ”

Innama yuridullahu lyadzhiba ‘ankumur rijsa ahlal baiti yuthahhirakum tat-hiro.

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilanghkan dosa dari kamu sekalian, wahai ahli bait (nabi) dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.”

Kisah ini ditulis dalam Kitab Al Mulahiq fi Fiqh Da’wah al-Nur karya ulama sufi asal Turki, Syekh Badi’uzzaman Said Nursi (1877-1960 M), yang dari literatur ini Hadratus Syekh mengambil riwayat tentang Syair Li Khomsatun. Melihat kealimannya, beliau bisa mengambil riwayat dari banyak literatur.

Syekh Badi’uz Zaman menyitir hadits riwayat Aisyah tersebut untuk menjawab pertanyaan seseorang tentang apa yang disebut dengan آل العباء (Alu al‘Aba’) atau Keluarga Mantel, yakni keluarga Ali dan Fatimah yang bersama nabi dalam satu mantel bulu. Bagi syekh Badi’uz Zaman, peristiwa ini adalah ketentuan dan rahasia Allah. Baik tentang siapa saja orang mulia di dalam mantel, serta bagaimana nabi mendoakan khusus mereka para ahlil bait.

Dalam riwayat lain, beginilah doa Nabi kala itu:

اللهم هؤلاء اهل بيتي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا

Baca juga:  Farah Antun, Lawan Debat Abduh yang Menolak Negara Islam

Allahumma ha-ula-i ahlu baiti. Adzhib ‘anhumur rijsa wa thahhirhum tat-hira

Ya Allah, mereka inilah keluarga terdekatku. Singkirkan dari mereka segala dosa, dan bersihkan mereka sebersih kemilau yang sesungguhnya.

Apa yang diucapkan Nabi, tentu bukan dari ambisi dan bisikan hawa nafsu pribadi. Semua yang beliau yakini, ucapkan dan kerjakan adalah atas wahyu petunjuk dari Allah. Sebagaimana disebutkan dalam Alqurul Karim:

وما ينطق عن اهوى ان هو الا وحي يوحى

Wama yanthiqu ‘anil hawa. In Huwa illa wahyun yuha

Dan Tidaklah yang Muhammad ucapkan itu dari hawa nafsunya.

Melainkan, datang dari wahyu yang diturunkan.

Selanjutnya Syekh Badi’uz Zaman menuliskan Syair yang beliau catat dan dengar dari para ulama terkemuka. Syair ini dibaca untuk dua tujuan. Pertama tujuan lahir: Lil Istisyfak (للاشتشفاء) yakni memohon kesembuhan. Kedua, tujuan batin: Lil Istisyfa’ (للاستشفاع), demi memohon syafa’at Nabi dan segenap keluarga agar kita teranugerahi keajaiban bisa terlepas dari segala jenis siksa dan krumitan, di dunia bahkan di akherat kelak.

Dan beginilah redaksi syair Syair Li Khomsatun yang dikutip Hadratus Syekh dari Kitab Al Mulahiq karya Syekh Badi’uz Zaman:

لي خمسة اطفي بها نار الوباء الحاطمة

المصطفى والمرتصى وابنهما وفطمة

 Li Khomsatun Uthfi biha Naral Waba-il Hathimah

Almusthafa wal murtadla Wabnahuma Wa Fathimah

 “Aku berharap diselamatkan dari api wabah yang bikin sengsara dengan wasilah derajat luhur lima pribadi mulia yang aku punya:  Baginda Nabi Muhammad al-Mushthafa saw, Sayyidina Ali al-Murtadla dan kedua putra (Hasan dan Husain), serta Sayyidatina Fathimah Azzahra, binti Rasulillah saw”

Yang berbeda dari matan syair yang sudah terlanjur beredar, adalah pada lafadz

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

نار الوباء الحاطمة (Naral Waba-il Hathimah) yang bermakna: API wabah yang bikin sengsara.

bukan seperti yang sudah viral di media sosial dan media mainstream,

حر الوباء الخاطمة (Harral Waba-il Hathimah) yang bermakna PANAS wabah yang bikin sengsara

Secara arti tak ada masalah. Api dan panas masihlah bermakna sama. Tapi dari sisi gramatika bahasa Arab (ilmu Nahwu), menjadi kurang sempurna. Karena الحاطمة (isim atau nama berkelamin perempuan/muannats) menjadi sifat dari حر (isim berkelamin laki-laki/mudzakkar). Tapi bila الحاطمة menjadi sifat dari نار (dikatagorikan isim berjenis muannats), itu baru ‘apple to apple’.

Namun bukan berarti tidak ada naskah atau matan yang menggunakan kata حر. Ada kok! Dalam kitab Sa’adatut Daroini disebutkan narasi syair seperti ini:

Baca juga:  Gus Baha dan Otoritas Keilmuan Ulama NU

لي خمسة اطفي بها حر الوبا والحاطمة

المصطفى والمرتصى وابنهما وفطمة

Li Khomsatun Uthfi biha Harral Waba Wal Hathimah

Almusthafa wal murtadla Wabnahuma Wa Fathimah

Sang pengarang memilih narasi حر الوبا والحاطمة (Harral Wabaa WAL Hathimah). Relasi antara حر dan الحاطمة tidak dalam hubungan sifat dan yang disifati, tidak menggunakan kata ‘yang’ tapi menggunakan ‘dan’. Panas Wabah dan Kesengsaraan! Dalam Kitab Almulahiq itu pula disebutkan dalam catatan kaki, bahwa dalam sebuah literatur Majmu’atul Ahzab (Kumpulan Hizib) Juz II Halaman 505 dalam Bab ‘Doa Penolak Tho’un’, disebutkan doanya menggunakan matan

لي خمسة اطفي بها حر الوبا والحاطمة.

Sementara Dalam Kitab Tuhfatur Roghib, pengarang memilih narasi نار الكروب الحاطمة (api gundah yang bikin sengsara). Lengkapnya menjadi begini:

لي خمسة اطفي بها نار الكروب الحاطمة

المصطفى والمرتصى وابنهما وفطمة

 Li Khomsatun Uthfi biha Naral Kurubil Hathimah

Almusthafa wal murtadla Wabnahuma Wa Fathimah

Whatsapp Image 2020 04 30 At 5.21.12 Pm

Mau pilih yang mana? Sudah tersedia tiga varian berikut literaturnya. Doa yang makbul, tergantung pada kehadiran hari dan kalbu yang berdoa, bahwa doa yakin akan dikabulkan oleh Allah Swt yang memerintahkan hamba-Nya berdoa, karena pasti akan dikabulkan sesuai Kuasa Allah dan kebaikan Sang Hamba.

Namun demikian, Kemakbulan doa juga ditentukan oleh bagaimana ketersambungan (sanad) doa yang dibaca dengan para salafus shalihin yang mengijazahkan doa. Sanad dan Ijazah adalah faktor penting yang telah menjadi tradisi di dunia Islam termasuk di kalangan masyarakat pesantren di Nusantara.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top