Sedang Membaca
Pengalaman Sungguh Membekas: Dimarahi Gus Dur
Penulis Kolom

Alumni dan mantan aktivis PMII Rayon Fak. Syariah, IAIN/UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Pernah 'nyantri' di Wahid Foundation. Saat ini bekerja di sebuah lembaga Internasional di Jakarta.

Pengalaman Sungguh Membekas: Dimarahi Gus Dur

Saya dan seorang kawan berangkat dari Jogjakarta ke Jakarta. Tujuan kami ke kantor PBNU Kramat Raya, Jakarta, untuk bertemu Gus Dur. Ini terjadi sekitar pertengahan tahun 1996, dua tahun sebelum Orde Baru tumbang.

Terus terang saja, salah satu yang menyulut kami menemui Gus Dur adalah Emha Ainun Najib, yang akrab dengan sapaan Cak Nun. Waktu itu, dia menantang para mahasiswa Jogjakarta untuk lebih aktif dalam penyelamatan bangsa. Pasalnya, Cak Nun melihat indikasi hasrat Soeharto untuk terus berkuasa mulai melemah. Khususnya sejak ditinggal mati Ibu Tien, istrinya. Namun, di sisi lain, Cak Nun khawatir turunnya Soeharto bakal bikin Indonesia kacau.

Yang bikin heran, sekaligus bikin kami berhasrat menemui Gus Dur adalah analisa Cak Nun yang waktu itu mengatakan ada dua orang yang bisa menyelamatkan Indonesia.

“Gus Dur dan Amien Rais itu harus ketemu. Mereka yang bisa menyelamatkan kita,” kata Cak Nun meyakinkan.

“Kalau mereka mau bertemu, saya bersedia menjadi moderatornya,” tambahnya. Ketika itu, Gus Dur adalah ketua PBNU dan Amien Rais, Ketua PP Muhammadiyah.

Singkat cerita, dengan kereta api kami tiba kira-kira pukul 6 pagi, di stasiun Senen. Kami langsung ke PBNU, yang tidak jauh dari stasiun.

Baca juga:  Humor Gus Dur: Kiai yang Tak Mampu Bayar Eternit

Setelah menunggu beberapa jam, Gus Dur terlihat tiba di kantor PBNU. Kami senang sekali, beliau bersedia kami temui, padahal tidak ada janji apa pun sebelumnya. “Untuk pertama kalinya, saya akan bertemu Gus Dur, tokoh idola saya,” kataku dalam hati.

Maka kami pun masuk, ucapkan salam dan tentu saja mencium tangan beliau. Kami duduk di kursi yang disediakan. Posisi kami dipisahkan oleh meja kerja beliau. Gus Dur duduk di kursi belakang meja kerjanya, sedangkan kami berdua duduk di depannya, menghadap beliau. Maka mulailah kami menyampaikan tujuan kedatangan kami.

“Salam dari Cak Nun untuk Gus Dur,” kata saya basa-basi membuka pembicaraan. Senyatanya, Cak Nun tidak pernah titip salam ke Gus Dur lewat kami. Lalu kami berdua mengungkapkan rencana kegiatan, tujuannya, dan pihak-pihak yang diharapkan terlibat, juga permohonan kami agar Gus Dur bisa hadir sebagai pembicara kunci.

Mula-mula kami lega sekali, Gus Dur tampak menanggapi positif rencana kegiatan kami. Beliau mengisyaratkan bersedia hadir; beliau menyampaikan agenda beliau ke Jawa Tengah dan sekitarnya di waktu yang berdekatan dengan kegiatan yang kami punya. “Saya ada janji ketemu dengan beberapa kiai,” ungkapnya santai.

Lalu, kami lanjut dengan permintaan kedua.

“Nganu, Gus Dur, bisakah kami meminta memo dari Gus Dur untuk mencari dana. Katanya teman-teman, Gus Dur dapat membantu mengkomunikasikan dengan donatur,” pinta kami dengan polosnya.

Baca juga:  Harlah Lesbumi ke-56: Kebudayaan Pesantren dan Fungsi Politisnya

Gus Dur langsung merespon permintaan itu dengan nada marah, “Kamu itu gimana, sudah saya diminta jadi pembicara, diminta nyari duit pula!”

Saya terdiam. Kami tidak menduga permintaan memo itu membikin Gus Dur marah. Kawan saya mencoba berkilah, “Ada donatur mau ngasih dana kalau Gus Dur yang minta.” Alih-alih meyakinkan, argumen itu justru membuat GusDur makin naik darah: “Kalian ini sok tahu!!!”

Namun, sesaat kemudian amarah Gus Dur pun terlihat mulai mereda. Sampai di ujung ceritanya, tiba-tiba Gus Dur menyampaikan tidak lagi bersedia hadir ke acara kami di Yogyakarta. “Saya ada acara dengan kiai-kiai di tanggal-tanggal itu,” katanya datar.

Seperti tidak mau terima, kami pun mencoba mengiba, “Loh, Gus, acara kami gimana?”

Tapi Gus Dur tidak peduli. Dengan nada tinggi, beliau berbalik mengunci, “Lebih penting mana hadir ke acara kamu atau memenuhi undangan kiai-kiai?”

Kuncian Gus Dur ini membuat kami tak bisa berkutik lagi. Kami kehabisan akal, kami diam tak bisa berkata-kata. Kami menyesal, gara-gara memo cari dana, Gus Dur jadi marah dan tidak bersedia. Kami pun pamit, cium tangan beliau dan beranjak keluar.

***

Gus Dur Kok Diminta Dana?

Sebenarnya ditugaskan pergi ke Jakarta, menemui Gus Dur terasa ngeri-ngeri sedap buat saya. Sedap karena bakal melancong ke ibu kota, ketemu Gus Dur, tokoh idola. Tetapi ngeri karena ongkos perjalanannya tidak ada.

Baca juga:  Humor 5 Profesor Muhammadiyah yang “Sebetulnya” NU: Prof. Din Syamsuddin (3)

Panitia minta saya pakai uang kami sendiri saja. Bukan hanya itu, senior juga minta saya cari dana. Kata senior itu, di ibu kota banyak orang kaya.

“Apalagi mau ketemu Gus Dur, kamu bisa minta memo, pasti mengalir itu dana seketika,” Ujarnya sambil menyebut nama beberapa pengusaha kaya ibu kota yang konon bisa sangat dermawan jika nama Gus Dur dibawa.

Walau kesal diminta ikut cari dana, rupanya Gus Dur tetap menyayangi kami. Beliau benar-benar hadir memenuhi undangan kami. Saat itu, beliau pembicara tunggal, karena Amien Rais berhalangan. Beliau berceramah tentang nilai-nilai kemanusiaan; pentingnya memulihkan kasih sayang antarmanusia dan penghormatan pada otonomi manusia.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top