Sedang Membaca
Menelisik Wahabi (1): Sejarah Singkat Muhammad ibnu Abdul Wahab

Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Muhammad Iqbal
Penulis Kolom

Sejarawan dari IAIN Palangka Raya. Editor di Penerbit Marjin Kiri

Menelisik Wahabi (1): Sejarah Singkat Muhammad ibnu Abdul Wahab

Bd1cbf1c E8d9 4bd0 91dd B777be6970c1

Muhammad ibnu Abdul Wahhab lahir sekira 1703 di Nejd, gurun pasir kuning yang secara refleks terlukis di benak kita ketika berpikir tentang Arab Saudi. Dia dibesarkan di sebuah kota oasis kecil, anak seorang hakim. 

Tatkala dia menunjukkan girah kuat sebagai pengkaji Al-Qur’an, dia dikirim ke Madinah untuk melanjutkan sekolah. Di sana, salah seorang guru memperkenalkannya kepada karya-karya Ibnu Taimiyah, seorang teolog berpendirian jegang dari Suriah yang–setelah bencana Mongol. Ibnu Taimiyah kita kenal sebagai orang yang menyatakan bahwa Allah Swt telah meninggalkan kaum muslim. “Kaum muslim harus kembali ke cara-cara yang persis dengan Generasi Pertama muslim jika mereka ingin mendapatkan kembali pertolongan-Nya.” Inilah kalimat Ibnu Taimiyah yang menempel di ubun-ubun Wahab muda.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dari Madinah, pemuda ini beranjak ke kota kosmopolitan Basrah di Teluk Persia. Di sana, dia menyaksikan keragaman pendapat yang riuh rendah, banyaknya mazhab pemikiran, pelbagai interpretasi dari Firman Suci, kerumunan manusia, puisi-puisi yang tidak islami, lampu-lampu, hiruk-pikuk. Bashrah mengejutkan, otaknya bergejolak. Lantas, ia melontarkan kalimat pendek yang membuat banyak orang bersungut-sungut: “Bashrah dan seisinya adalah jenis tumor yang membuat Islam lemah.” 

Kemudian, dia kembali ke kampung halamannya yang ugahari di padang pasir dan mulai mewartakan kebangkitan agama melalui pemulihan Islam ke bentuk “aslinya”. Hanya ada satu Tuhan, serunya dengan suara menggelegar, dan setiap orang harus menyembah satu Tuhan persis seperti yang diperintahkan dalam Kitab Suci. Setiap orang harus hidup persis seperti kaum yang awal di Madinah pada zaman Rasulullah saw, dan siapa saja yang menghalangi pemulihan umat suci dan asli itu harus dibinasakan.

Turki Utsmani menganggap seluruh Arabia sebagai milik mereka, tetapi mereka tidak memiliki otoritas yang nyata di antara suku-suku Badui kecil yang menghuni lanskap tandus ini, yang tinggal menyebar di oasis-oasis dan bertahan hidup seadanya sebagai pedagang dan penggembala. 

Wahab menarik beberapa pengikut di antara sesama orang Baduinya, dan dia memimpin kelompoknya ilir-mudik pedesaan, menghancurkan tempat-tempat suci karena semua itu bukanlah objek pemujaan yang pantas, dan Abdul Wahhab mendakwahkan bahwa penghormatan terhadap apa pun atau siapa pun kecuali Allah adalah penyembahan berhala. 

Akhirnya, Wahab mencapai posisi hakim dan mulai menerapkan hukum mazhab Hanbali (merujuk Imam Ahmad bin Hambal) menurut pandangannya dengan semangat tak kenal kompromi. 

Syahdan, suatu hari, Wahab menetapkan agar seorang perempuan masyhur dari kota dilempari batu sampai mati karena berzina. Penduduk setempat pun sudah muak. Massa berkumpul untuk menuntut Abdul Wahab digulingkan dari jabatannya; bahkan apa pembicaraan tentang hukuman mati tanpa pengadilan. Wahab kabur dari kota itu dan berjalan ke oasis liyan yang disebut Dariyah.

Di sana, penguasa setempat Muhammad ibnu Saud menyambutnya dengan hangat. Ibn Saud adalah seorang pemimpin suku kecil dengan ambisi yang sangat besar: untuk “mempersatukan” Jazirah Arab. Yang dimaksudkannya dengan “mempersatukan” tentu saja berarti “menaklukkan”. Dalam diri pendakwah, berpikiran-tunggal seperti Abdul Wahab menemukan perihal yang sama ketika melihat Ibnu Saud. Kedua lelaki itu membuat perjanjian. 

Kepala suku itu sepakat untuk mengakui Wahab sebagai pucak otoritas keagamaan komunitas muslim dan melakukan semua yang dia bisa untuk mewujudkan visinya; sang pendakwah sendiri sepakat untuk mengakui Ibnu Saud sebagai kepala politik komunitas muslim, amirnya, dan memerintahkan para pengikutnya untuk berjuang bagi dirinya.

Perjanjian itu membuahkan hasil. 

Selama beberapa dekade berikutnya, kedua orang ini “menyatukan” seluruh suku Badui Semenanjung Arabia di bawah pemerintahan Saudi-Wahabi. Setiap kali berhadapan dengan suku lain yang tambeng, mereka mulai dengan seruan agar suku-suku Badui masuk Islam. “Pindah! Pindah! Pindah!” Mereka berteriak tiga kali. Jika peringatan itu diabaikan tiga kali (seperti yang umumnya terjadi), Wahab mengatakan kepada tentaranya, mereka bisa langsung membantai orang-orang yang mereka hadapi, Allah mengizinkan itu karena mereka adalah orang-orang kafir.

Panggilan untuk pindah agama membingungkan suku-suku yang mereka serang pada waktu itu karena semua suku ini menganggap diri mereka sudah muslim yang saleh. Akan tetapi ketika Abdul Wahab berkata “Pindah!” yang dimaksudkannya adalah pindah ke visi Islam yang dia khutbahkan. Dia tidak menyebutnya Wahabisme karena, seperti Ibnu Taimiyah sebelumnya, dia menyatakan bahwa dirinya hanya menyerukan umat muslim agar kembali ke Islam murni yang asli, dilucuti dari semua bidah dan dibasuh dari semua penyelewengan. Dia bukan seorang inovator, bahkan, dia adalah anti-inovator.

Namun, orang-orang yang tidak percaya pada pandangan Wahab melihat visinya sebagai interpretasi tertentu atas Islam, bukan Islam itu sendiri, dan mereka tidak punya masalah melabeli ideologinya Wahabisme, sebuah istilah yang mulai digunakan bahkan di antara sebagian orang yang mendukung pandangan-pandangan Wahab.

Titimangsa 1766, Ibn Saud dibunuh, tetapi putranya Abdul Aziz mengambil alih dan melanjutkan kampanye ayahnya untuk menyatukan Arab di bawah bendera teologi Abdul Wahab. Selanjutnya pada 1792, Wahab sendiri wafat, meninggalkan dua puluh janda dan anak-anak yang tidak terpermanai jumlahnya. Telatah Wahab telah membentang sepanjang hampir seluruh abad ke-18. Sementara dia memaksakan visinya tentang Islam murni di Arab Saudi, Inggris dan Scotlandia menyatu ke dalam Britania Raya, Amerika Serikat lahir, Revolusi Perancis mengeluarkan Deklarasi Hak Asasi Manusia, Mozart menulis seluruh korpus musiknya, dan James Watt menciptakan mesin uap. Indonesia abad itu juga mulai bangun; makin banyak pesantren, perlawanan kecil-kecilan pada penjajah mulai terjadi, dan para keluarga ulama makin banyak yang berpikir naik haji dan mukim sebagai santri Haramain.

Pasca kematian Wahab, Aziz ibnu Saud mendeklarasikan diri sebagai penggantinya. Setelah menjadi amir, kini Ibnu Saud yang anyar mentahbiskan dirinya sebagai kepala otoritas keagamaan juga. Pada 1802, Aziz ibnu Saud menyerang Karbala, tempat cucu Nabi, Hussein menjadi syahid. 

Karbala adalah pusat ibadah Syiah. Saat Aziz ibnu Saud menyerang, banyak dari mereka sedang berkumpul untuk memperingati kesyahidan Hussein. Kita tahu, sampai sekarang Syiah menjadi musuh nomor satu, yang awalnya dikarenakan dinilai  Namun Syiah menempati peringkat yang tinggi dalam daftar orang-orang yang telah merusak Islam murni asli menurut Wahab. Karena alasan ini, setelah menaklukkan Karbala, Aziz ibnu Saud membantai sekira dua ribu penduduk Syiah di sana.

Tahun 1804, Aziz ibnu Saud menaklukkan Madinah. Pertama-tama yang dijadikan sasaran adalah kuburan. Kuburan? Ya, mereka dengan segera segera menghancurkan makam sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw. 

Dari Madinah, pasukan Saudi-Wahabi bergerak ke Mekkah, di sana mereka menghancurkan sebuah tempat suci yang seharusnya menandai tempat kelahiran Nabi Muhammad (sehingga tak seorang pun akan jatuh ke dalam penyembahan berhala Muhammad). Selama dia berada di kota itu, Ibnu Saud memanfaatkan kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji di Kakbah dengan bersahaja.

Kemudian pada 1811, aliansi Saudi-Wahhabi mulai menyusun kampanye anyar, kali ini ke Asia Kecil, jantung Kekaisaran Utsmani. Kini, akhirnya sultan memberi perhatian pada gerakan Wahabi, para penerus Muhammad bin Abdul Wahab itu. Untuk menghadapi lonjakan kaum Badui ini, dia memanggil Muhammad Ali, khedive Mesir, untuk membantunya. 

Muhammad Ali membawa tentara modernnya yang disiplin ke Saudi, dan pada 1815–tahun yang sama dengan berakhirnya karier Napoleon Bonaparte di Waterloo–dia meluluhlantakkan Ibnu Saud, memulihkan kendali Utsmani atas Mekkah dan Madinah. Setelah itu, dua kota suci kembali membuka diri bagi para peziarah muslim dari setiap aliran. Selanjutnya, dia mengirim putra Aziz ibnu Saud dan penerusnya ke Istanbul untuk diarak di hadapan khalayak yang mengecimus dan kemudian memenggal kepalanya.

Tidak banyak lagi yang terdengar tentang aliansi Saudi-Wahhabi selama sekira satu abad, tapi aliansi itu tidak mati. Kepala suku yang dieksekusi memilki seorang putra yang mengambil alih sisa-sisa reruntuhan Konfederasi Saudi. Kiwari dia hanya kepala suku yang kecil, namun tetap seorang kepala suku, dan tetap seorang Wahhabi, dan di mana pun dia masih bisa memaksakan otoritasnya, ulama Wahhabi memimpin dan berkembang. Wahhab sudah mampus, tetapi Wahhabisme terus hidup.

Senarai Bacaan:

Baca juga:  Wabah Pes Terjadi Saat Perang Salib: Tuhan pun Disalahkan

Algar, Hamid. Wahhabism: A Critical Essay. New York: Islamic Publications International, 2002.

Bahtiar, Riza. “Etika Wahhabian dan Etika Protestan” dalam Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam, Vol 1, No 1. Palangka Raya: IAIN Palangka Raya, 2017.

Commins, David. The Wahhabi Mission and Saudi Arabia. London-New York: I.B. Tauris, 2006.

Delong-Bas, Natana J. Wahhabi Islam From Revival and Reform to Global Jihad. London-New York: Oxford University Press, 2004.

El Fadl, Khaled Abou. The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists. San Fransisco, USA: Harper San Francisco, 2005.

Haj, Samira. (ed.). Reconfiguring Islamic Tradition: Reform, Rationality, and Modernity. Stanford, USA: Stanford University Press, 2009.

 Henri Lauzière, Henri. The Making of Salafism: Islamic Reform in the Twentieth Century. Columbia, USA: Columbia University Press, 2015.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top