Sedang Membaca
Timur Tengah dalam Sastra Indonesia: Menimbang Kontribusi Fudoli Zaini (1/2)
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Timur Tengah dalam Sastra Indonesia: Menimbang Kontribusi Fudoli Zaini (1/2)

Hairus Salim HS

Timur Tengah adalah latar yang cukup ‘asing’ di dalam sastra Indonesia. Asing dalam pengertian sedikit sekali karya sastra yang mengangkat Timur Tengah sebagai latarnya dan asing juga dalam pengertian terbatasnya perhatian yang diberikan kepada karya yang sedikit itu. Jauh dibanding misal dengan karya-karya sastra Indonesia lain yang mengambil latar belakang Tokyo (Jepang), Paris dan Amsterdam (Eropa), atau New York dan Manhattan (AS).

Dua hal tampaknya yang melatarbelakangi keasingan ini. Kebanyakan mereka yang berkunjung ke Timur Tengah adalah untuk kepentingan ibadah dan belajar agama (Islam). Mereka kurang berminat menuliskan pengalaman dan pengetahuan mereka mengenai kawasan Arab ini, lebih-lebih dalam bentuk karya sastra. Karena itu kehadiran banyak orang Indonesia di Makkah-Madinah atau Kairo sejak pergantian abad 20 lalu hingga sekarang ini, seperti tidak meninggalkan jejaknya dalam sastra Indonesia.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kedua, sekalipun ada, maka karena persepsi-persepsi tertentu, tema dan latarnya selalu berkait dengan Islam, yang membuatnya menjadi traktat keagamaan dalam bentuk karya sastra. Dalam hal ini kita bisa menyebut Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka (1908-81) yang boleh jadi pemula sekaligus juga perintis kecenderungan ini. Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938) bercerita tentang cinta tulus Hamid, seorang belia tak berpunya, yang tak kesampaian kepada Zainab, anak seorang kaya.

Karena kemalangannya itu, si pemuda jadi hilang asa, pergi ke Makkah, dan lalu menyerahkan diri atau menghabiskan waktu sepanjang hari dengan beribadah saja, hingga ajal menjemputnya. Suasana di Makkah dan kesibukan orang-orang yang beribadah jelas dipetik Hamka dari ziarah hajinya yang pertama pada tahun 1927.

Hamka tak terlalu lama di Makkah-Madinah, dan juga tak kesampaian untuk belajar di Kairo. Jika tidak, mungkin saja kita bisa beroleh karya yang lebih luas dan dalam darinya. Tapi karya ini mengguratkan jejak bahwa Timur Tengah adalah latar yang menarik untuk diolah sebagai karya sastra.

 

Baca juga:  Dialog Lintas Agama Habib Umar

Fenomena Ayat-Ayat Cinta dan Kairo

Setelah Hamka hadir novel pop religi Habiburrahman El-Shirazi Ayat-Ayat Cinta (AAC) dan beberapa novelnya yang lain, yang berlatar belakang Kairo, menjadi fenomena dalam sekian tahun terakhir ini. Habiburrahman El-Shirazy adalah alumni Universitas Al-Azhar yang memiliki minat sekaligus juga bakat untuk menuliskan pengalaman dan pengetahuannya selama bermukim di Kairo.

Seperti novel Hamka, AAC terutama bercerita tentang orang-orang, atau tepatnya, pemuda-pemudi Indonesia yang belajar di Kairo. Problem mahasiswa di manapun kurang lebih sama, entah itu Kairo, Sidney, Amsterdam, ataupun Yogya. Kairo di sini tampil sebagai latar yang eksotik.

Barangkali karena Mesir yang berpenduduk sebagian besar Muslim dengan Universitas Al-Azharnya yang legendaris, dan juga karena para pemuda Indonesia yang memang mayoritasnya datang ke Kairo ini untuk belajar Islam, maka novel ini banyak menampilkan segi-segi islami: dalam ekspresi, konflik, dan solusi. Citra Kairo dalam teks ini sangat Islami.

Tetapi jelas sekali dalam konstruksi novel ini, Kairo bukan kota yang monolitik Muslim. Di negeri ini juga tinggal komunitas Kristen Koptik seperti dengan kehadiran Maria dan keluarganya yang menjadi tetangga Fahri.

Juga dengan kehadiran Aisha, anak dari keluarga blasteran Turki-Jerman, yang kemudian menjadi kekasih Fahri. Kairo adalah kota multikultural, terlepas bahwa alur cerita mendudukkan multikulturalisme ini dalam superioritas Islam. Maria kemudian menjadi istri kedua Fahri dan memeluk Islam, sementara Aisha memilih Islam, agama ibunya yang asal Turki.

Baca juga:  Pernikahan dan Alibinya, Hamsad Rangkuti dan Sebuah Cerpennya

Di lain pihak, warga Kairo juga ditampilkan sebagai orang-orang yang tidak melulu Islami. Kejahatan dan kriminalitas juga dihadapi kota ini. Hukum juga berkemungkinan bisa dibeli. Gambaran ini muncul dalam diri Bahadur, yang kerap menyiksa dan bahkan telah memperkosa anak tirinya, Noura, dan peristiwa pengadilan terhadap Fahri yang menghadapi dakwaan palsu.

Gema islami novel ini diinterupsi oleh ‘teks-teks marjinal’ di dalamnya. Teks-teks marjinal ini sering dianggap bukan sebagai bagian utama dari cerita, dan dianggap tidak penting. Tetapi cobalah copot teks-teks pinggiran ini dari bingkai cerita, maka seluruh bangunan cerita jadi berantakan. Novel pada akhirnya sebuah konstruksi, persepsi, dan narasi, yang lahir bukan dari ruang hampa realitas dan sejarah.

Pada umumnya, dari dulu hingga kini, dalam pandangan Muslim Indonesia, citra Kairo memang Islami. Sastrawan dan sineas Usmar Ismail (1921-71) misalnya memiliki kesan serupa, tapi kesan ini segera mencair setelah ia berkunjung ke sana tahun 1959. “…bagi saya Kairo merupakan suatu surprise karena tadinya saya mengira akan menjumpai suatu kota Islam abad pertengahan di mana para perempuan masih berkerudung dan hanya kelihatan mata mereka saja, di mana hanyalah kedengaran orang berzikir sepanjang hari, atau paling-paling hanya akan dapat menikmati musik gambus, ternyata tidak.

Kairo adalah kota modern, tidak kalah modern dengan Paris, London, atau Berlin, dan akan amatlah kecewa golongan Islam Indonesia jika mereka menyangka Kairo adalah kota Islam yang terangan-angan dalam pikiran mereka,” tulis Usmar Ismail dalam Harian Pedoman, 23-27 Oktober 1959.

Sekitar 10 tahun sebelumnya, ketika berkunjung ke Mesir pertama kali tahun 1950, Hamka menyempatkan menonton film-film Mesir. Kesannya, film-film Mesir sangat bermutu rendah dan ‘kotor’. Hamka jelas sangat kecewa sekali dan ia mengirimkan surat keprihatinannya kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Mesir. ‘Mesir perlu memperbaiki filmnya sebab Mesir masih tetap dihormati sebagai ‘pusat’ kebangkitan Islam zaman baru’, tulisnya, seperti diceritakannya kembali dalam buku kenangannya, Di lembah sungai Nil (1952).

Baca juga:  Siapa Sosok Grand Syekh Al-Azhar yang Kharismatik Itu?
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top