Berziarah di Kota Mati

Maria Fauzi

“Kami tidak takut dengan mereka yang sudah meninggal. Justru kami takut dengan mereka yang masih hidup!”

Debu-debu tebal menyelimuti tiap sudut kota mati. Jika dilihat dari atas, tampak seperti kubus-kubus berjajar dan tak berbatas. Tak ada warna selain warna coklat pucat sejauh mata memandang, kecuali warna-warni jemuran baju yang membentang dari makam ke makam. Kuning, putih, krem, hitam, merah berpadu dengan gundukan debu coklat setebal kurang lebih dua centimeter.

Tempat ini, meskipun di huni oleh orang-orang yang sudah mati, namun nyatanya tak pernah sepi. Tidak hanya ratusan, bahkan jumlahnya mungkin mencapai ribuan makam. Terdiri dari sepuluh ribu makam suci orang-orang saleh, baik wali, ulama, pemuka agama atau birokrat sejak kurang lebih seribu tahun yang lalu.

Dan, penduduk Kairo yang tinggal di sela-sela makam ini jumlahnya bisa dikatakan hampir sama, atau bahkan lebih.

Luas kota mati ini kira-kira 7 kilometer, membentang dari utara ke selatan, hingga tepat dibawah bukit Muqattam. Hanya dipisahkan oleh sebuah highway yang biasa disebut jalan Salah Saleem. Masyarakat Kairo menyebut daerah ini sebagai El ’Arafa.

Tidak perlu membayangkan area pemakaman yang lazim diketahui di Indonesia. Kuburan di Mesir rata-rata berbentuk seperti bangunan yang terdiri dari ruangan kecil, lengkap dengan atap, dan ruangan lain layaknya seperti rumah mini.

Tak jarang, bagi mereka dengan latar belakang ekonomi mapan, di depannya akan dibuatkan semacam taman kecil seadanya (howsh). Besar dan kecilnya makam, serta dekorasi dan arsitektur bangunan, terkait erat dengan latar belakang keluarga. Termasuk kekayaan, kekuasaan, atau relasi sosial dalam masyarakat.

Dari pelataran sebuah masjid yang dibangun oleh Sultan Al-Ashraf Qaytbay, saya mengawali langkah kaki kearah Barat. Tanpa tujuan, hanya berjalan saja. Berharap bisa menemukan sepenggal dari kisah masa kini, lampau, atau masa depan yang saya peroleh dari penduduk setempat. Penghuni kota mati.

Kota tua Kairo menyimpan ratusan masjid, madrasah, zaweyah, makam para ulama, wali, petinggi pemerintahan, penginapan-penginapan (funduq) gratis untuk para pedagang dari berbagai kawasan, yang dibangun dari masa Fathimiyah hingga Turki Usmani.

Tak jarang, saya melihat beberapa di antaranya bahkan tak terjamah oleh siapapun. Terbengkalai. Dijadikan rumah bagi sampah-sampah yang menumpuk dan segerombolan anjing liar. Seperti yang saya temukan di kawasan ini. Kota-kota yang tak ubahnya seperti bangunan mati, tepat di jantung kota mati.

Baca juga:  Ketika Generasi Milenial Banyuwangi Menggerakkan Tradisi

El-Qarafa punya sejarah panjang. Tradisi dan pandangan masyarakat Mesir terhadap mereka yang sudah meninggal menjadi salah satu dari sekian alasan hidup di tengah-tengah pusara makam. Beberapa di antaranya mengaku hidup disini merupakan pilihan agar senantiasa berdekatan dengan para leluhur mereka.

Sebagian yang lain memilih hidup di antara makam akibat dari tekanan urbanisasi di pusat kota Kairo pada masa Nasser. Pembaharuan tata kota Kairo yang terus dilakukan mengharuskan mereka untuk menyingkir ke daerah pinggiran, termasuk ke daerah pemakaman El-Qarafa.

“Kami tidak takut dengan mereka yang sudah meninggal. Justru kami takut dengan mereka yang masih hidup!”

Kira-kira percakapan singkat kami inilah yang bisa memberikan sedikit gambaran tentang kehidupan ribuan keluarga Kairo yang memutuskan untuk hidup di sebuah makam. Selain, tentu saja, ekonomi yang timpang ditengah padatnya Kairo. Kebanyakan mereka yang hidup di pemakaman ini sudah turun temurun, bahkan ada yang merupakan generasi ketiga. Entah sejak kapan pastinya, kota mati ini menjadi seolah kota pada umumnya.

Saya menyebutnya Ahmad. Ya, sebut saja begitu. Menjadi suatu kebiasaan bagi masyarakat Mesir memanggil pemuda-pemuda yang tak dikenalnya dengan sebutan Ahmad. Hal ini berlaku bagi mereka yang memang benar-benar bernama Ahmad, ataupun tidak.

Ia pemuda berumur lima belas tahun, lahir dan hidup beserta keluarga besarnya di daerah ini, di sekitar kawasan Duwaiqoh. Atau, lebih tepatnya ia hidup di sebuah makam dengan ruangan yang agak besar dan digunakan sebagai ruang utama keluarga.

Saya melihat Ibu Ahmad memasak, tepat di samping sebuah kuburan seseorang yang ditandai dengan batu nisan yang agak besar.

Ia mengerjakan pekerjaan rumah dengan biasa saja, normal. Memotong sayuran, membuat roti, hingga menjadi hidangan yang siap disajikan untuk anak-anak dan keluarga mereka.

Layaknya dapur pada umumnya, hanya saja, aktivitas memasak ini dilakukan di kuburan. Di samping persis sebuah pusara berukuran setinggi anak mereka Ragab, yang berumur tujuh tahun. Entahlah, makam milik siapakah gerangan yang sudi membaginya dengan keluarga ini.

“Kami sudah tinggal disini sekitar tiga puluh tahun lebih, semenjak menikah dan tidak punya uang untuk menyewa rumah. Kami tinggal disini tentu atas izin sang empunya, alias keluarga besar almarhum. Hanya saja, kami berkewajiban untuk bertanggung jawab atas kebersihan dan lain sebagainya. Jika ada keluarga besar mereka ingin berziarah, kami sediakan teh dan makanan untuk menyambutnya. Biasanya menjelang Ramadhan”.

Baca juga:  Sufi, Tafsir Mimpi, dan Imaginasi (2)

Hidup dengan keterbatasan, dan tinggal di tempat yang tidak umum, tidak juga membuat mereka merasa terpinggirkan. Biasa saja. Karena kota mati ini justru memberi mereka kehidupan dan penghidupan. Hidup berdekatan dengan jasad-jasad yang sudah meninggal, bagi kepercayaan masyarakat Mesir, banyak membawa kebaikan. Selain itu, sebagai pengingat akan kematian, yang siapapun dan kapanpun akan melaluinya.

***

The City of The Death (Madinah al-Mawta), begitu kira-kira masyarakat Barat menyebut kawasan ini. Serupa kota, yang berada di dalam sebuah kota. Kontras, dengan kawasan lain di sekitarnya yang terlihat dari ujung bukit Muqottam.

Di balik ketidaklaziman kota mati ini, sebagaimana orang-orang baru melihatnya, nyatanya ia menyimpan kedigdayaan dan kemandirian hingga hari ini. Serta, kemegahan dan keindahan di masa lalu.

Umur kota mati ini sebanding dengan berkuasanya umat muslim di Fusthat atau Mesir. Sesaat setelah Amr Bin Ash berhasil membebaskan Fusthat dari tangan imperium Romawi, sejak itu pula makam tertua bagi masyarakat muslim Arab kala itu dibangun, yang kerap disebut dengan Al-Qarafa Al-Kubra (The Greater Qarafah).

Kawasan tersebut meluas, hingga ke makam Imam Syafi’i, hingga ke Muqattam yang dikemudian hari dikenal dengan Al-Qarafa Al-Sughra (The Lesser Qarafah). Era Mamluk, area semakin meluas hingga ke kawasan Bab Nasr yang kemudian disebut dengan Al-Sahra.

Baca Juga

Praktek ziarah masyarakat Kairo ke kota mati ini telah hidup sejak Syi’ah Fatimiyah. Dengan membacakan doa, bertawasul kepada beberapa makam dari ahlul bayt lambat laun mengakar hingga saat ini. Kota mati ini tak pernah lagi sepi dari peziarah.

Biasanya, para peziarah memadati di El Qarafa di petang hari, tepat ketika malam sudah larut. Tua, muda, termasuk wanita dan anak-anak, berbondong-bondong dengan membawa makanan berupa manis-manisan.

Sedangkan rombongan peziarah wanita biasanya pergi ke makam pada hari Kamis. Segala ritual keagamaan dalam berziarah diselesaikan pada hari Jumat, dan keesokan harinya mereka akan pulang ke rumah.

Selain membaca Alquran dan juga melantunkan ragam doa hingga pagi, acapkali dalam prakteknya diiringi oleh tarian dan nyanyian sufi.

Baca juga:  Islam, Perancis, dan Napoleon Ali Bonaparte

Tradisi bermalam di makam El-Qarafa adalah hal yang biasa dijumpai kala itu. Bahkan, lokasi pemakaman muslim tua ini dianggap sebagai sebuah petilasan sakral dan juga tempat ziarah terpenting kedua setelah Mekkah dan Madinah.

Tak jarang para peziarah dari luar Mesir, termasuk dari Andalusia hingga Asia Tengah, acapkali menyempatkan untuk berhenti dan berziarah di El-Qarafa.

Dipimpin oleh syeikh dari masing-masing kelompok (tha’ifah), peziarah menapak tilasi ragam makam awaliya’, ahlul bayt, dan ulama terkenal Muslim. Termasuk yang turut melakukan perjalanan ziarah ini adalah Ibnu Battutah, Ibnu Jubayr, Al-Tujibi, Al-Balawi, Al-Abdari dan Al-Qasadi.

Dalam catatan dokumentasi ziarah, yang ditulis oleh Al-Maqrizi dalam kitab al-Mawaiz wa Al-I’tibar bi-Dzikr al-Khitat wa al-Atsar, berbagai fasilitas baru mulai dibangun untuk mengakomodir para peziarah. Bangunan seperti khanqah, zawiyah, ribats, madrasah, masshads, turbahs, maqbarah, dan qubbahs.

Bahkan juga dilengkapi dengan fasilitas publik seperti suq, hammam, furns, dan musholla. Membentang dari kawasan danau al-Habash hingga pintu gerbang utama El-Qarafa. El-Qarafa tak lagi berfungsi hanya sebagai makam, namun menjelma menjadi tempat publik yang ramai sekaligus sakral.

Kepopuleran Al-Qarafa bagi para peziarah mencapai puncaknya di era Mamluk. Terlebih ketika para elit Mamluk mendirikan dua institusi keagamaan yang dibangun pemasukan dana waqf, yakni madrasah dan hanqah (sufi institution).

Keberadaan dua institusi tersebut menjadi salah satu alasan semakin maraknya tradisi ziarah di kawasan ini. Pembangunan El-Qarafa berikut para peziarah disokong oleh dana waqf, termasuk dengan mencantumkan nama-nama pendonor untuk turut didoakan di makam para awliya’ dan ahl bayt. Nama-nama tersebut akan disebarkan, dan dicantumkan di buku-buku ziarah untuk disebutkan dan didoakan oleh jemaah.

***

El ‘Arafa kini tak layak lagi dinamai sebagai kota mati. Ia lebih hidup dari kawasan manapun. Praktek ziarah semakin populer bagi siapapun yang ingin mencari barakah dari makam para awliya’ dan ahlul bayt di Kota mati ini. Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya, meskipun di sebuah kawasan Kota mati.

Lihat Komentar (0)

Komentari