Sedang Membaca
Perjuangan Kemerdekaan oleh Santri-Santri Nusantara dari Kairo (Bagian 1)

Dosen di UNU Jakarta. Selain itu, menulis buku dan menerjemah

Perjuangan Kemerdekaan oleh Santri-Santri Nusantara dari Kairo (Bagian 1)

Jauh sebelum Indonesia diproklamirkan sebagai sebuah Negara yang merdeka oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, para santri Nusantara yang sedang belajar di Al-Azhar Kairo (Mesir), sejak tahun 1925 telah melakukan upaya-upaya perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan cara mereka sendiri.

Di antara upaya tersebut adalah membuat Badan Persaudaraan Pelajar Nusantara Al-Azhar Kairo (al-Jam’iyyah al-Khairiyyah li al-Thalabah al-Azhariyyah al-Jâwiyyah) yang saling memupuk rasa kebangsaan dan kemerdekaan antar sesama mereka.

Ide-ide perjuangan dan semangat nasionalisme serta kemerdekaan bangsa Indonesia (dan Melayu secara lebih luas) digelorakan dan dikumandangkan, salah satunya, melalui peberbitan dua buah majalah yang cukup progresif: Seruan Al-Azhar (yang ditulis dalam bahasa Melayu-Indonesia aksara Arab/ Jawi) dan Merdeka (yang ditulis dalam bahasa Melayu-Indonesia aksara Arab).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Majalah “Seruan Al-Azhar” terbit sepanjang tahun 1925-1928, sementara majalah “Merdeka” terbit dari tahun 1927-1928.

Tokoh-tokoh santri Nusantara di Kairo pada masa itu berasal dari berbagai pulau di Nusantara, mulai dari Sumatera, Semenanjung (Malaya), Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain. Di antara nama tokoh-tokoh itu adalah Raden Fathurrahman Kafrawi (Tuban), Ilyas Ya’qub (Sumatra), Muchtar Lutfi (Bukit Tinggi Sumatra), Othman Abdullah (Malaya), Idris Marbawi (Semenanjung), Mahmud Junus (Batu Sangkar), Tahir Jalaluddin (Minangkabau), Djanan Taib, dan lain-lain.

Baca juga:  Kiai Abdul Wahid Hasyim dan Pandangan Tentang NU Kembali ke Khittah 1926

Djanan Taib tampaknya memegang peranan yang cukup sentral. Pada tahun 1925, setelah keruntuhan Turki Usmani dan munculnya Kerajaan Saudi Arabia di Hijaz, Taib menjadi salah satu delegasi muslim Nusantara yang datang ke Muktamar Alam Islami (Konferensi Dunia Islam) yang diadakan di Makkah. Utusan dari tanah air Hindia Belanda sendiri saat itu adalah HOS Cokroaminoto sebagai pemimpin Sarekat Islam.

Pengaruh Taib juga tampaknya sampai pada aktivis Nusantara yang bermukim di Belanda. Taib tercatat beberapa kali pergi melawat ke Belanda dan bertemu dengan para aktivis Bumi Putra yang sedang menuntut ilmu di negeri penjajah itu.

Selain itu, majalah “Seruan Al-Azhar” yang digawangi oleh Taib dan kawan-kawannya dari Kairo memiliki hubungan yang sangat erat dengan majalah “Bintang Timoer” yang diterbitkan oleh para pelajar Indonesia di Belanda.

Para santri cum mahasiswa Nusantara di Kairo itu memiliki jaringan dan hubungan yang sangat kuat dengan para aristokrat Mesir, aktivis Arab, dan juga media-media terkemuka di Kairo, utamanya surat kabar. Beberapa aktivis asal Nusantara bahkan memiliki percetakan tersendiri di Kairo, meski bidang gerak dan usahanya untuk mencetak kitab-kitab berbahasa Melayu.

Muhammad Fadhlullah Suhaimi, seorang aktivis Nusantara di Kairo pada tahun 1914 telah mendirikan sebuah percetakan bernama al-Mathba’ah al-Ittihadiyyah, disusul pada tahun 1927 sebuah penerbitan lainnya didirikan oleh Muhammad Idris Marbawi dengan nama al-Mathba’ah al-Marbawiyyah. Pada tahun yang sama (1927), “Jam’iyyah al-Khairiyyah” juga mendirikan penerbitan lain yang bernama Matba’ah al-Taqaddum.

Majalah Seruan al-Azhar sendiri dicetak oleh “Mathba’ah al-Taqaddum” yang dimiliki oleh Jam’iyyah al-Khairiyyah, lalu oleh Mathba’ah Musthafa al-Babi al-Halabi, salah satu perusahaan percetakan terbesar swasta terbesar di Timur Tengah milik keluarga asal Aleppo, Suriah, yang berbasis di Kairo, yang banyak menerbitkan kitab-kitab karangan ulama Nusantara pada paruh pertama abad ke-20, baik yang ditulis dalam bahasa Arab, Melayu, Jawa, Sunda, dan Aceh.

Baca juga:  Inilah Kitab Pertama dalam Sejarah Islam

Jauh di seberang Kairo, yaitu di Mekkah, pada tahun 1913, adik ipar Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, yaitu Syaikh Abdul Majid Kurdi, mendirikan sebuah penerbitan yang sangat berpengaruh di Hijaz, yaitu Mathba’ah al-Taqaddum al-Majidiyyah. Nama-nama tokoh aktivis Nusantara di Kairo yang disebutkan di atas rata-rata pernah menjadi anak didik dari Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau ketika mereka belajar di Mekkah.

Syekh Ahmad Khatib Minangkabau jugalah yang mensupport mereka untuk belajar di Kairo, kota yang lebih terbuka secara pemikiran dan gerakan politik dari pada Mekkah pada awal abad ke-20 M. patut dicatat, bahwa Kairo pada masa itu adalah pusat gerakan pemikiran dan aktivis dunia Islam dan Arab secara umum.

“Al-Jam’iyyah al-Khairiyyah li al-Thalabah al-Jawiyyah” kemudian terus berkembang menjadi “Lajnah al-Difâ’ ‘an Istiqlâl Indûnîsiyâ” (Panitia Perjuangan Kemerdekaan Indonesia) yang mulai dibentuk pada tahun 1940-an, lalu “Jam’iyyah Istiqlal Indunisiyâ” (Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia). Tokoh-tokoh pergerakan pada masa ini adalah “yunior” dari tokoh-tokoh sebelumnya yang telah disebut di muka. Di antara mereka adalah A. Kahar Muzakkir, Darwis Amini, Farid Ma’ruf, Ilyas Ali, Ali Nahrawi, Zain Hasan, dan lain-lain.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top