Sedang Membaca
Integrasi Dialektika Sains dan Agama  
Penulis Kolom

Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam program studi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, aktif di LPM HUMANIUSH Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, dan Komunitas Lensa (Sosiologi Agama).

Integrasi Dialektika Sains dan Agama  

Img 20200903 135657

Diskursus wacana paradigma sains dan agama kian menemukan momentumnya tatkala ia bergumul dalam narasi pencarian kebenaran. Berusaha menyingkap fundamen-fundamen semesta (baik mikro maupun makro) melalui pelbagai metodologi eksplisit. Metodologi itu selalu dipertentangkan mengingat paradigma yang dihasilkan agama dan sains sesekali menuai distingsi. Terjadi dialektika panjang nan esensial di antara keduanya.

Dialektika merujuk pada distingsi paradigma yang digunakan sains dan agama dalam usaha menyingkap persoalan-persoalan esensial di kehidupan ini. Agama yang dogmatis bersumber pada kekudusan firman Tuhan sebagai dasar legitimasinya. Karena itu, ia (agama) oleh teolog Lutheran Paul Tillich disebut sebagai The Ultimate Concern.  Hal yang begitu mendalam memengaruhi jiwa, dan emosi manusia.

Di titik inilah agama dengan segenap persoalannya begitu rawan menimbulkan konflik, karena selalu menyangkut emosi terdalam yang ada pada diri manusia. Sementara di sisi lain, legitimasi sains justru senantiasa berkubang pada observasi atas data-data empiris. Ia bersifat rasional, dan cenderung tidak menyentuh emosi terdalam manusia.

Literatur sains selalu menyuguhi pelbagai pertanyaan fundamental dan penting dalam kehidupan manusia; bagaimana asal mula alam raya ini, bagaimana asal mula kehidupan di muka bumi ini, bagaimana masyarakat manusia dan binatang bekerja, bagaimana kesadaran manusia mesti terjelaskan, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, sains lebih banyak mencari kebenaran dari pada mempertahankan dogma, akidah, dan doktrin.

Melihat distingsi dialektika macam itu, kalangan Agamawan dan saintis berusaha menarik atensi publik dalam usaha menyingkap kejadian semesta. Pandemi yang menggebrak kita di abad XXI ini seolah telah membuka luka lama akibat konflik antara tafsir agama tentang malapetaka dan penjelasan teoretis sains.

Baca juga:  Buku Baru ALIFID: Tafsir Al-Hallaj

Sains “Religius”, Agama “Saintifik”  berusaha melihat dua praksis itu sebagai dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla mencoba mengintegrasikan keduanya melalui hasil pembacaan yang komprehensif dan lumer. Sumber rujukan literatur barat dan timur dikaji berulang kali, hingga tiba pada suatu kesimpulan keseimbangan berpikir.

Keduanya hendak mengambil jalan moderat. Jalan di mana praksis agama dan sains saling terintegrasi secara holistik. Tidak ada ekstremisme wawasan keagamaan dan puja berlebihan pada dunia sains. Bahkan, bagi Haidar Bagir, agama bisa berbagi ilham dengan dunia sains. Seperti yang terjadi pada Prof. Abd. Salam, peraih Nobel Fisika 1979, tatkala berhasil menemukan teori penyatuan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah yang mengaku terinspirasi dari al-Quran.

Kendati domain  antara agama dan sains berbeda, namun bukan berarti kedua hal tersebut tak punya kesamaan. Apalagi harus dipertentangkan. Mengingat sejauh ini, melacak akar model hubungan agama dan sains  yang khas konflik itu sebetulnya hanyalah khas dunia barat.

Di Barat, khususnya Eropa Barat, orang-orang memiliki trauma pada Tuhan dan agama. Salah satu sebabnya karena dulu ketika gereja berkongsi dengan raja-raja, negara, dan politik, mereka mempraktikkan agama yang memang begitu bengis. Akhirnya, banyak para saintis yang dendam kepada gereja. (Hal-149)

Baca juga:  Hammuka Daimun, Kumpulan Puisi Sapardi yang Diterjemah ke Bahasa Arab

Karena Barat dominan di segala bidang dalam peradaban ilmu, khususnya sains, maka pandangan Barat yang menilik agama dengan sains sebagai dua hal yang khas konflik itu bisa memengaruhi orang, termasuk lingkungan Islam. Di sinilah pemahaman secara komprehensif ihwal keterkaitan dunia sains dan agama dibutuhkan.

Ulil memiliki penamaan tertentu bagi kalangan ekstremisme saintis yang berusaha menafikan agama. Ia menghadirkan wawasan Al-Ghazali ihwal “saintisme”. Di mana saintisme merupakan ideologi yang dipeluk oleh para praktisi sains dengan mengatasnamakan sains. Meminjam bahasanya Berlinski, ia adalah pretense atas nama sains.

Setiap pretense akan melahirkan sikap-sikap yang menjengkelkan seperti sikap kepongahan saintifik. Inilah yang kemudian dikritik Al-Ghazali. Kritikan Al-Ghazali tentu mengarah pada “asumsi-asumsi ideologis” yang berusaha bersembunyi di balik otoritas sains.

Sebaliknya, kalangan ekstremisme pemeluk agama yang mewujud sikap inklusif di ruang publik hanya akan melahirkan dua bentuk kepongahan paling menonjol. Pertama, merasa telah memegang kebenaran mutlak. Kedua, self-righteousness atau perasaan paling saleh sendiri, sementara orang lain berada di lorong kesesatan. (hal-116)

Padahal, dalam agama Islam misal, wujud tertinggi dari sifat-sifat Tuhan adalah al-‘ilm, pengetahuan. Ada penegasan bahwa wujud yang tidak disertai dengan ilmu memiliki martabat yang rendah, inferior. Sebaliknya, jika manusia mampu mengeksplorasi mental untuk mempelajari hal-hal baru bukan tidak mungkin dimensi kemajuan berpikir akan menakhtakan dirinya di atas makhluk yang lain, superior

Baca juga:  Sabilus Salikin (98): Tarekat Histiyah

Penghargaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan yang ditunjukkan umat Islam di masa silam setidaknya telah melahirkan saintis semacam Abu Bakar Ar-Razi (ahli kedokteran), Ibn Haitsam (penemu optik), al-Farabi (ahli sosiologi), dan Ibn Khaldun (ahli sejarah).

Bahkan seorang Imam al-Ghazali pun memuji kedokteran, matematika, ilmu dan teknologi pertanian, industri (pakaian), serta ilmu politik ; Imam Syafi’i menganggap ilmu kedokteran sebagai ilmu yang paling utama setelah ilmu fiqih, dan Sayyid Qutb yang sepenuhnya percaya pada hukum alam.

Totalitas wujud apresiasi mereka terhadap ilmu pengetahuan telah menghantarkan Islam ke gerbong peradaban. Keparipurnaan Islam dengan segala kemajuan berpikir hingga mencipta peradaban gemilang tak lepas dari upaya mengintegrasikan nilai-nilai subtil agama dan sains.

Inilah sebuah inspirasi yang mesti berpendar lalu dihayati bersama hingga menjadi semacam kesadaran untuk mengintegrasikan keduanya di abad modern ini. Kedua penulis menawarkan pelbagai alternatif berpikir yang progresif ihwal integrasi agama dan sains. Ditulis dengan gaya populer, isu-isu keduanya yang tampak berat pun dapat dinikmati tanpa kehilangan esensi argumen-argumen penting.

 

Judul : Sains “Religius” Agama “Saintifik” ; Dua Jalan Mencari Kebenaran

Penulis : Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla

Penerbit : PT. Mizan Pustaka

Cetak : Kedua, Oktober 2020

Tebal : 184 Halaman

ISBN : 978-602-441-178-7

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top