Sedang Membaca
Seabad Usmar Ismail (2): Terikat dan Tertinggal
Bandung Mawardi
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Seabad Usmar Ismail (2): Terikat dan Tertinggal

1 A Usmar

Ratusan penggubah puisi di Indonesia sejak awal abad XX tak mungkin teringat gampang. Sekian nama selalu muncul dalam buku-buku pelajaran dan perbincangan. Sekian nama milik masa lalu saja. Nama-nama kadang tak pernah terbaca. Nama teringat bisa pula tak lagi di lubuk puisi.

Ia bernama Usmar Ismail. Semula, ia rajin menggubah puisi-puisi. Berhenti. Keranjingan menulis naskah-naskah untuk pementasan sandiwara. Tulisan-tulisan berhasil naik panggung. Pada masa berbeda tampil di “lajar putih”. Nama sebagai penggubah puisi terlupa. Publik memilih ia adalah tokoh film.

Buku Kiai Said

Di buku berjudul Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (1981) susunan Pamusuk Eneste, terbaca: “Usmar Ismail lahir 20 Maret 1921 di Bukittinggi. Berpendidikan AMS-A II Jogjakarta.” Pada saat remaja, ia berada di Jogjakarta. Tempat itu mungkin berpengaruh dalam selera bacaan dan kemauan menulis sastra. Di situ, keterangan mengenai Usmar Ismail sering film ketimbang sastra. Kita pastikan tercatat buku puisi berjudul Puntung Berasap (1950). Pada masa 1930-an dan 1940-an, Usmar Ismail mengetahui perkembangan sastra di Indonesia melalui surat kabar, penerbitan buku, dan pergaulan. Ia ingin mengerti dan menempatkan diri turut dalam arus sastra. Usmar Ismail memilih berpuisi, terpengaruh situasi pendudukan Jepang dan gelegar revolusi.

Pada 1984, terbit buku berjudul Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an Hingga Tahun 40-an susunan JS Badudu dan teman-teman. Buku menghimpun ratusan puisi pernah tersiar masa lalu. Buku dokumentatif itu menjadi acuan mengajukan dugaan pemberi pengaruh dan latar atas kemauan Usmar Ismail berpuisi. Ia mengerti persembahan para pendahulu: M Yamin, Rustam Effendi, Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana, A Hasjmi, JE Tatengkeng, dan lain-lain. Kita mengutip puisi Yogi berjudul “Di Tepi Laoet”. Pujangga bukan kegemaran Usmar Ismail tapi mungkin saja mendahului dalam urusan menulis tentang laut atau pantai. Puisi masa 1930-an itu sederhana: Gelombang mengajoen/ Adinda mara/ Kakanda berpantoen/ Kembanglah serodja// Laoet bergelora/ Air mengetjap/ Boenda bersabda/ Adinda bersajap… Mendoeng asmara/ Badai menderoe/ Boemi setia/ Doenia tjemboeroe// Goeroeh mendajoe/ Kilat berdetjit/ Hatikoe sajoe/ Adinda berbangkit. Cara berpuisi itu terasa lawas bagi para penggubah puisi masa 1940-an. Usmar Ismail pasti tak mau meniru tapi susah menghindari pengaruh para pujangga masa 1920-an dan 1930-an.  

Ia masih saja terikat estetika masa lalu. Usmar Ismail dalam puisi berjudul “Laksana Ombak” lekas mengingatkan selera puisi lama. Kita simak: Laksana ombak tinggi gemulung/ Mengedjar tepi pasir jang landai/ Sebelum sampai mengorak gulung/ Memetjah buih menjerak urai// Lepaslah tenaga menjerah lempai/ Meniarap turun pandjang membudjur/ Mengalir hanjut menudju pantai/ Mentjetjah pasir djatuh tersungkur// Demikianlah pula hati memedih/ Meratap hening pilu merindu/ Mengenang daja putus dahulu. Puisi digubah awal 1943. Pembaca boleh mengira puisi itu berasal dari masa 1920-an. Usmar Ismail tampil dengan keluguan dan bukti sulit menghindari warisan para pujangga lama. 

Usmar Ismail terbukti menapaki jalan sastra. Ia ingin terakui saat para penggubah puisi akhir masa 1940-an mulai menemukan pembaruan-pembaruan. Usmar Ismail tertinggal, tak mau mengikuti dengan langkah cepat. Keith Foulcher dalam buku berjudul Pujangga Baru: Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942 (1991) menjelaskan: “Pujangga Baru serta suasana politik dan budaya yang diwakilinya, tamat bersamaan dengan kedatangan balatentara Jepang dan Indonesia pun terlontar ke zaman pasca-penjajahan.” Cara bersastra lekas berubah. Puisi-puisi dalam masa pendudukan Jepang dan latar 1945 tampak ingin meninggalkan patokan-patokan “baru” telah diadakan Pujangga Baru. Usmar Ismail berada dalam perbatasan. 

Nama-nama baru memikat umat sastra. Usmar Ismail berikhtiar bakal lantang dalam bersastra setelah dititipi propaganda Jepang. Ia menginginkan “pembebasan” dan mengarah imajinasi nasionalisme. Puisi berjudul “Sakti” gubahan Usmar Ismail (1944) menandai ada keinginan tak mau terbelenggu (lagi) setelah pernah bertaut atau terpengaruhi. Ia masih berada di belakang kelantangan Chairil Anwar: Aku terbungkam/ oleh djiwaku beku/ dalam kabut dan kedinginan// Angin berembus/ diatas gurun tidak bertepi/ menghalau pasir terbang bergumpal. Puisi menandai Usmar Ismail ingin mentas dari keterlenaan puisi lawasan, sejak masa 1920-an sampai 1930-an. Usmar Ismail justru berkurang lantang dan kebingungan, setelah puisi berlari dalam bumi-langit revolusi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pada 1945, Usmar Ismail masih tekun berpuisi. Ia menggunakan pula diksi-diksi sedang menggugah dalam pemuliaan Indonesia. Tebaran cita kemerdekaan dibahasakan melalui pengalaman-kedirian tapi mengajukan diksi-diksi besar. Puisi digubah saat Agustus 1945 berjudul “Tjaja Merdeka”. Kita membaca ada kemauan menguak nasionalisme bersandarkan religiositas, tak melulu politik. Usmar Ismail menulis: Aku mengembus angin/ dari tepi kuburku ketiap pendjuru/ membawa nikmat tjaja merdeka/ Dan sudjudlah aku/ dihadirat Tuhanku menunggu/ putusan achirku didunia baka! Puisi bukan pilihan bagi pembaca ingin mengerti dokumentasi peristiwa-peristiwa di Indonesia dan kemunculan para tokoh politik. Usmar Ismail terbukti sudah berpuisi tapi masih menanti pembaca, dari masa masa ke masa. Begitu.

Baca juga:  Bung Karno dan Ijtihad Kitab Kuning Kiai Abdul Wahab Chasbullah
Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top