Sedang Membaca
Ngaji Gus Baha: Terapi Spiritual di Tengah Gencarnya Islam Bernada Sedih
Fathurrosyid
Penulis Kolom

Dosen tetap Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT), Fakultas Ushuluddin, INSTIKA Guluk-Guluk Sumenep

Ngaji Gus Baha: Terapi Spiritual di Tengah Gencarnya Islam Bernada Sedih

Kontroversi seputar cadar dan cingkrang, hingga saat ini belum menemukan formulasinya. Wacana kedua kostum yang digagas oleh gerakan “Islamisme” terus bergulir seiring massifnya kampanye hijrah yang di-endorse oleh para selebritis yang telah mengaku dirinya hijrah dari paradigma hidup sekuler menuju kehidupan Islami. Gerakan hijrah adalah dakwah milenial yang tampil dibawa oleh ustad medsos dan ustad seleb dengan ekspresi “kesedihan” yang berlumur dosa. 

Dakwah Islam dengan ekspresi “kesedihan” yang dibawa oleh kelompok “sebelah” adalah dakwah yang berorientasi pada ajaran al-wala’ wal al-bara’ (cinta dan benci), thaghut, kafir, bid’ah, dan khurafat. Fenomena ini tidak berbanding lurus dengan orientasi dakwah kia-kia NU (aswajah al-nahdliyyah) yang penuh keceriaan. Pesantren dan NU justeru memilih jalur dakwah yang merangkul, bukan memukul; dakwah kasih sayang, bukan dakwah yang garang; dakwah yang lucu, bukan dakwah yang lugu.   

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pilihan kiai, santri dan NU pada dakwah yang merangkul, menuntut mereka agar mempunyai cita rasa humor yang tinggi. Itu sebabnya, tradisi guyonan, gojlokan, bahkan dalam acara formal sekalipun, kia-kia NU dan santri masih sempat mengeluarkan joke-joke dan pelesetan. Seriusnya 5 menit, goyunannya 10 menit. Namun demikian, tradisi humor, guyonan, gojlokan dan anti baper, bukan tanpa dasar. Gus Baha, menjelaskan epistemologi nalar Islam Ceria, di Pesantren Mathaliul Anwar, Pati, berdasar empat hal:   

Pertama, berdasar Qs. al-Najm: 83. Potongan ayat adlhaka (tawa) wa abka (tangis) adalah ajaran normatif agar kita memilih berdakwah dengan penuh keceriaan, sebab semua sifat-sifat Allah itu pasti aktif, efektif dan efesien (nafidzah wa mu’atstsirah). Karena itu, mayoritas ulama dahulu menghindari perilaku formal, serius dan detail. Sebaliknya, mereka justeru tampil di publik dengan cara guyon, bercanda dan nge-lucu, karena bagi mereka, “agama tidak perlu dibela”. Gus Baha menjelaskan;  

Saya termasuk kiai yang tidak banyak menghabiskan energi memikirkan nasibnya Islam di Indonesia. Karena Allah mensifati dirinya sebagai al-Hadi, dan itu pasti aktif sampai hari kiamat. Sekalipun Islam itu telah ditinggal oleh Rasulullah, wali songo, Mbah sahal, Mbah Mun, kenyataan di lapangan agama Islam di Indonesia tetap berjalan dengan baik. Agama itu diurus oleh Allah, karena Allah besifat al-Hadi, sehingga kita tidak harus memikirkannya terlalu serius dan formal.

Potongan ayat adhaka wa abka (tertawa dan menangis), diinterpretasikan Gus Baha sebagai justifikasi kaifiyah mu’amalah dengan Allah yang adlhak (guyon). Artinya, ayat ini tuntunan pada kita agar berinteraksi secara vertikal dengan cara yang elegan, yaitu ceria dan tertawa. Hanya saja, guyon dalam konteks ini harus berorientasi pada min sa’ati rahmatihi. Karena itu, dinamika hidup yang direspon dengan hati yang gundah-gulana, berarti melawan pemberian Allah berupa sikap adlhak. Gus Baha, melanjutkan:  

Sebab itu, seseorang ruwetnya kaya apa, punya hutang misalnya, ya waktunya ketawa, harus ketawa. Demikian pula ketika menceritakan tragedi pertengkaran dengan isterinya. Waktunya bertemu teman, ya ketawa saja, “wah isteriku hebat, jioss…piring dibanting, kaca dipecah”, sekalipun ketika dirumah takut beneran. Sebab, adlhaka (ketawa) merupakan pemberian Allah yang nafizahmuatsitirah.

Kedua, berdasarkan hadits. Gus Baha mengutip hadits yang termaktub dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, karya Imam al-Ghazali, Rasulullah bersabda, “Sungguh, termasuk ummat terbaikku adalah kaum yang tertawa keras (yadlhakuna jahran), karena percaya terhadap luasnya rahmat Allah (min sa’ati rahmatihi). Berdasarkan hadits tersebut, lanjut Gus Baha, mayoritas ulama-ulama dahulu selalu bercanda, kelakar, santai, rileks, guyon dan tertawa. Ini semua mereka lakukan sebagai ekspresi atas kebahagiaan dan ridla terhadap pemberian Allah.

Namun demikian, Gus Baha tidak menafikan adanya potongan hadits selanjutnya. Kalimat wa yabkuna sirran (menangis secara sembunyi), diinterpretasikan Gus Baha agar kita menangis pada malam hari ketika kita sedang ber-munajat pada Allah. Derai dan linang air mata di kesunyian malam tersebut sebagai bentuk ekspresi rasa takut pada siksa Allah (khaufan min azabihi). Namun anehnya, perilaku orang-orang sekarang justeru mempertontonkan sebaliknya. Gus Baha, menyindirinya sebagai berikut:  

“Jangan seperti perilaku orang-orang sekarang yang tampil sebaliknya. Mereka menangis di hadapan publik, namun ketika diberi uang, ia akan tertawa di kamar sendirian. Wahh…kalau begitu, orang ini bermasalah secara sanad. Ini tidak menyindir siapa-siapa ya… biasa saja.

Ketiga, berdasar tradisi sahabat. Menurut Gus Baha, sekalipun pernah terjadi konflik di era Sahabat Ali dengan Mu’awiyah, namun hebatnya tidak membuat para sahabat larut dalam kesedihan yang begitu mendalam. Mereka tetap bercanda ria, tertawa dan goyun. Realitas ini berdasarkan pernyataan Sahabat, “Yang paling aku sukai dari orang alim itu adalah ceria (thaliqin) dan banyak guyon (midlhakin)”. Berdasar tradisi tersebut, maka tugas kiai atau dai, harus tampil ceria dan tidak menakut-nakuti. Gus Baha, menceritakan pesan abah-nya:  

 “Saya masih ingat wasiat Bapak. “Ha’, kalau kamu ngajar atau berdakwah, guyon saja. Sebab orang yang sedang nagji itu sudah dibebani banyak hal; punya hutang, takut isteri dan lainnya. Jangan membuat mereka menangis kedua kalinya. Dirumah sudah punya masalah, ternyata di pengajian bertambah masalah baru, yaitu ditakut-takuti siksa neraka oleh ustadnya. Ini namanya membuat kesedihan dan tangis kedua kali.  

Keempat, berdasar tradisi tabi’in. Gus Baha mengutip pendapat Ibnu Hajar al-‘Asqalani, bahwa, “senang itu adalah ibadah dan puncak keimanan adalah mansinya iman (halawatal iman)”. Syarat menemukan halawatal iman, harus merasa nyaman yang dieksprsikan dengan nuansa guyon dan tertawa. Akan tetapi, seringkali, dalam konteks kehidupan nyata, normativitas Islam sebagai agama yang membawa kebahagiaan, direduksi oleh casing religiusitas kita yang tampil dengan kesedihan dan kegundahan.    

“Kita seringkali mengeluarkan statemen bahwa Islam itu agama yang top dan hebat. Agama yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Namun statemen tersebut selalu diucapkan dengan nada sedih, gundah, kalut dan kusut. Yaa…akhirnya Malaikat bingung dan tidak berani menghadapi orang yang seperti itu”.

Dari beberapa epistemologi nalar Islam Ceria perspektif Gus Baha di atas, tradisi humor, goyunan, gojlokan dan jokejoke di kalangan kiai, santri dan NU, akan menjadi terapi spritual di tengah gencarnya Islam kesedihan. Wallahu A’lam.

Baca juga:  Bom Mengerikan di Afghanistan dan Nalar Kekerasan dalam Islam
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top