Sedang Membaca
Menyerap Kearifan Ustaz Abdul Somad

Menyerap Kearifan Ustaz Abdul Somad

Ali Usman

Heboh video yang berisi ceramah Ustaz Abdul Somad (UAS) tentang pernyataannya yang mengatakan bahwa ada “jin kafir” dalam simbol salib menuai polemik dan kontroversial. UAS dinilai oleh banyak kalangan, telah melakukan pelecehan terhadap agama Kristen dan Katolik.

Apa yang terjadi dengan UAS? Bagaimana memahami pikirannya? Isi ceramah UAS yang demikian, memicu kontroversi publik, umumnya berisi “pelecehan” kepada individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan standar keagamaan keyakinannya, bukan pertama ini ia melakukan, dan sering mendapat sorotan publik.

Video itu sebagaimana klarifikasinya, merupakan ceramah tiga tahun lalu dan dilakukan di dalam tempat tertutup, sebuah masjid Agung An-Nur di Pekanbaru. Namun tetap saja, kapan pun itu, isi ceramahnya dapat dinilai melecehkan keyakinan umat lain. Apakah semua agama, meski di tempat tertutup, melakukan hal sama? Refleksi pertanyaan ini penting untuk menjaga kerukunan antarumat beragama.

Pada kasus-kasus lain, UAS, seolah pantang menerima teguran, sebab meski telah ada yang mengingatkan agar berhati-hati dengan ucapannya, apalagi dalam kapasitas sebagai seorang ustaz, toh, tetap saja untuk kesekian kalinya ia mengulang kesalahan sama.

Pernyataan ada jin kafir di simbol salib semakin menegaskan kalau corak keagamaan UAS cenderung apa yang dalam studi agama atau tafsir keagamaan disebut “konservatisme”.

UAS tidak mampu menyerap unsur kearifan sebagaimana guru dan ulama-ulama terdahulu, tentang bagaimana cara berkomunikasi yang bijak menyikapi perbedaan.

Baca juga:  Asal-usul Salib

Yang tampak dari diri UAS justru lebih mengutamakan egoisme, mengukur kebenaran kelompok atau agama lain menggunakan parameter ketat paham keagamaannya, sehingga yang terjadi hitam putih, logika “pokoke” (pokoknya), kalau saya benar maka orang lain yang tidak sama dianggap salah.

 

Pra-pemahaman UAS

Muncul pertanyaan, UAS ini, sebenarnya seorang ustaz atau matematikawan yang berpegang teguh pada rumus-rumus khas positivisme? Tidakkah ia sadar bahwa perbuatannya yang mencela agama lain itu telah melanggar kaidah Alquran?

“Dan Janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, kerena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan” (Q.S al-An’am: 108).

Egoisme UAS itu dapat diamati pada cara dan sikapnya dalam berargumen, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dari jamaahnya.

UAS sering menyalahkan “pihak lain” untuk membenarkan apa yang diyakininya, sehingga cara berpikir yang ditempuh seperti kaum teolog ortodoks: apologi dan enggan melakukan otokritik.

Perhatikan pada argumentasi contoh kasus persepsinya tentang salib itu. Di dalam video viral berdurasi 1.45 detik tersebut, tampak jamaah yang bertanya menyampaikan lewat tertulis, “Apa sebabnya ustaz kalau saya menengok salib menggigil hati saya”? Jawab UAS, “Setan! Karena di salib itu ada jin kafir. Dari mana masuknya jin kafir? Karena ada patung”.

Baca juga:  Alifuru: dari Cengkeh, PKI hingga Kisah Nabi Adam

Apa yang diungkapkan oleh UAS, jelas, untuk menunjukkan si A itu orang baik dengan cara menjelekkan si B. Mengapa ia tidak fokus saja pada sifat-sifat positif dan negatifnya si A, dalam hal ini si penanya.

Cara inilah yang disebut otokritik, misalnya, menganjurkan si penanya agar konsultasi ke psikolog, lebih giat lagi beribadah, zikir, dan lain-lain, sehingga ia tidak lagi merasakan hati yang gundah hingga menggigil saat melihat salib.

Teringat sebuah ungkapan, konon oleh Gus Dur, “Kalau dasar pikirannya kotor, orang melihat dinding saja bisa terbayang mulusnya anggota tubuh”. Yang perlu dievaluasi pada diri UAS, adalah persepsi-persepsi negatifnya tentang doktrin agama lain.

Mestinya, betapa pun meyakini kebenaran agama yang kita dianut, di saat bersamaan harus tetap menghormati kebenaran agama lain dengan cara tidak perlu membuat prasangka negatif, provokasi, dan sejenisnya.

UAS itu, kalau ditafsirkan menurut kacamata hermenutik, bermasalah tidak hanya pada soal persepsi tentang makna simbol, tapi sejak pra-persepsi, yang dalam istilah Gadamer disebut pre-understanding (pra-pemahaman).

Baca Juga

Bahwa setiap orang dalam memahamai sesuatu, sebut saja sebuah teks agama, pasti diikuti oleh pra-pemahaman, sesuai tradisi pengetahuan, ruang, dan waktu. Inilah oleh Gadamer disebut sebagai asimilasi horison (fusion of horizons), yang mengandaikan titik temu antara cakrawala pengetahuan atau horison yang ada di dalam teks dan cakrawala (pemahaman) atau horison sebagai pembaca.

Setiap orang, kata Gadamer, perlu berusaha memperbaharui pra-pemahamannya.

Nah, menurut saya, UAS sependek ini, memang tampak ahli di bidang pengetahuan hadis, fiqh-ushul fiqh, tapi lemah di bidang wawasan politik kebangsaan, yang di dalamnya ada nilai-nilai toleransi, kebebasan beragama, civil society, dan isu-isu HAM.

Baca juga:  Hari Santri, Kita Baca Asal-Usul Pesantren di Jawa

Melalui cara pandang itu, menyadarkan kita bahwa pengetahuan seseorang selalu dibatasi oleh cakrawala pengetahuan yang ada pada orang lain. Artinya, setiap individu, meski hebat, ahlinya ahli dalam bidang tertentu, mustahil menguasai semua bidang.

Ia pada bidang yang lain akan mengalami keawaman. Maka jalan satu-satunya, ya belajar, dan terus belajar, untuk memantapkan serta merubah pra-pemahaman sebelum beranjak pada proses pemahaman, sehingga ketika disampaikan ke publik menjadi benar. (atk)

 

 

 

 

Lihat Komentar (3)
  • Kayaknya yang baik itu begini cak, pean tampil o layaknya UAS, kalo bisa gantikan posisi UAS. sampean seng ceramah

    Lagian ayat yg km sampaikan Iku gak pas untuk menjustifikasi bahwa uas salah.

  • Menurut saya toleransi anda yang berlebihan… Ingat.. semua memang berkembang menyesuaikan zaman masing2 keturunan.. tetapi ada yang tegas tidak boleh di kembangkan sendiri toleransinya mengikuti zaman.. yaitu agama.. pemahaman agama tidak boleh berbeda sejak jaman nabi sampai jaman kapanpun.. dan itu kontra dengan gadamer yg anda kutip.. UAS sudah betul dalam menyampaikan.. bahwa hal tersebut memang sesuai dengan apa yg tertulis dalam Alquran dan hadis… dan kajiannya pun dilakukan tertutup hanya bagi kaum muslim.. jika dirubah bahasanya bisa dimaknai berbeda tafsir… Hati2 dengan tingkat toleransi yg justru menyalahkan sesuatu yg memang benar… Apalagi terkait agama…

Komentari

Scroll To Top