Sedang Membaca
Mengenal Peradaban Kitab di Pesantren
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mengenal Peradaban Kitab di Pesantren

Binhad Nurrohmat

Literatur resmi keilmuan di pesantren adalah kitab-kitab berbahasa Arab klasik dan bahasa-bahasa lokal. Kitab-kitab itu disebut “kitab kuning”, dengan beragam bidang disiplinnya.

Meski dalam sejarah muncul “brand” khusus, misalnya pesantren tertentu identik atau terkenal dengan disiplin keilmuan tertentu, namun semua pesantren mengajarkan khazanah beragam bidang disiplin keilmuan, mulaia dari bahasa hingga akidah, mulai logika (mantik) hingga perkawinan, mulai dari pengobatan hingga tasawuf.

Tradisi pengajaran di pesantren bermetode tatap muka secara individual yang disebut sorogan. Dalam metode sorogan santri menguji kemampuan penguasaan materi keilmuan tertentu di hadapan kiai atau ustaz (kiai dan ustaz di pesantren punya banyak sebutan). (Baca: Menelisik Tradisi Intelektual Kitab Kuning)

Metode pengajaran lain di pesantren adalah bandongan yang merupakan tatap muka secara kolektif, para santri menyimak penjelasan isi kitab dari kiai atau ustadz. metode ini mulai diikuti belasan santri hingga ribuan. Bahasa pengajaran di pesantren adalah bahasa lokal dan bahasa Indonesia. Sang pembaca kitab, bisa menerangkan isi yang dibaca atau hanya dibaca secara cepat.

Yang paling khas dalam tradisi pengajaran kitab berbahasa Arab di pesantren adalah kiai atau ustaz mengartikan kata per kata ke dalam bahasa daerah dan menandai posisi (i’rab) setiap kata di setiap kalimat menurut tata bahasa Arab.

Kitab-kitab yang dikasih makna juga populer dengan teks atau kitab gundhul, karena tidak berharokat, polosan, gundul seprti kepala tak punya rambut. Kemudian makna setiap kalimat dijelaskan serta dibahas atau diuraikan maksud dan konteksnya oleh kiai atau ustadz. Untuk menjaga ingatan, santri membubuhkan di bawah sejumlah kata dengan tulisan pegon (bahasa Jawa berhuruf Arab) yang disebut makna gandhul, pegon tampak seperti menggantung di bawah kata.

Wawasan khazanah keilmuan global sudah diajarkan di pesantren sejak mula pesantren bertumbuh di negeri ini. Sebagian besar kitab-kitab yang diajarkan di pesantren itu adalah karya para penulis dari Timur Tengah, Afrika, dan sebagian kitab yang lain dari penulis India, Eropa serta tentu saja penulis tanah air. Kitab-kitab ini ditulis pada sebelum abad ke-13 dan sebagian yang lain ditulis hingga pada paruh pertama abad ke-20.

Baca juga:  Kisah Kiai Memed Mendirikan Pesantren di Lokalisasi Saritem (1/3)

Selain kitab-kitab terkemuka dari banyak negeri manca, pesantren juga mengajarkan kitab-kitab berbahasa Arab dari penulis Indonesia yang terkenal misalnya Syekh Nawawi al-Bantani, Kiai Ma’shum bin Ali, Kiai Hasyim Asyari, Kiai Ahmad Ihsan Jampes dan Kiai Saleh Darat yang menerbitkan kitab pada paruh kedua abad ke-19 dan paruh pertama abad ke-20.

Reputasi internasional Syekh Nawawi al-Bantani lantaran menulis ratusan kitab di bidang fikih, tafsir, maupun tasawuf. Kiai Ahmad Ihsan Jampes yang menulis kitab Sirajuth Thalibin yang merupakan komentar (syarah) yang gemilang atas kitab Minhajul Abidin karya Imam al-Ghazali.

Kiai Ma’shum bin Ali adalah pengarang kitab Ilmu Sharaf (bentuk/perubahan kata) dan Ilmu Falaq (astronomi) yang merupakan khazanah karya disiplin keilmuan yang langka. Mereka, para penulis kitab dari Indonesia ini, merupakan contoh generasi pesantren yang tak mencecap pendidikan modern. Mereka murni produk dari tradisi pendidikan pesantren.

Para kiai pesantren juga menulis karya tulis pegon misalnya tafsir dan terjemah al-Quran Kiai Bishri Musthofa berjudul al-Ibriz yang terkenal di lingkungan pesantren. Kiai Ahmad Rifai dari Pekalongan pada abad ke-19 menulis karya pegon dan Melayu Jawi (bahasa Melayu beraksara Arab) dengan beragam disiplin keilmuan hingga lebih dari 50 judul.

Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda mengasingkan Kiai Rifai ke Saparua dan kemudian dipindahkan ke Manado hingga beliau wafat di kota pengasingan terakhirnya ini. Kitab-kitab Kiai Rifa’i dipelajari oleh kalangan Tarekat Rifa’iyyah.

Disiplin-disiplin keilmuan yang diajarkan di pesantren meliputi akidah, fikih, tarikh, tafsir, hadis, tasawuf, logika serta bahasa/sastra Arab. Literatur fikih di pesantren juga mempelajari Ilmu Falak (astronomi) dan Ilmu Waris (faraid). Pengajaran kitab di pesantren bersifat menyeluruh, santri menerima pengajaran beragam bidang disiplin keilmuan.

Beberapa yang dianggap kitab kelas kakap dan tingkat kesulitannya menjadi “mitos” di kalangan pesantren misalnya al-Hikam karya tasawuf Ibnu Athaillah dari Mesir, Ihya ‘Ulumuddin karya fikih Imam al-Ghazali dari Baghdad, Alfiyah karya syair tata bahasa Arab Ibnu Malik dari Spanyol dan Tafsir jalalain karya tafsir Imam as-Suyuthi dan Muhammad al-Mahalli dari Mesir.

Semua ini merupakan kitab-kitab yang muncul sebelum abad ke-13, sebelum peradaban Islam meredup dan digantikan oleh hegemoni dan dominasi peradaban modern Barat yang berkembang sejak era Renaisans pada abad ke-16. (Baca: Mutu Kitab Kuning Terbitan Lokal)

Baca juga:  Sabilus Salikin (113): Ibnu Arabi tentang Keadaan di Luar Keilmuan (2)

Puncak tradisi pesantren adalah kemampuan membaca serta menjelaskan arti dan makna kitab kuning yang gundhul (tanpa harakat). Pada umumnya santri menempuh hingga belasan tahun belajar di pesantren secara khusus untuk bisa memiliki kemampuan ini. Puncak tradisi ini merupakan syarat dasar santri yang telah lulus belajar dari pesantren bisa mendirikan pesantren sendiri.

Baca Juga

Pesantren merupakan komunitas keilmuan
Arus keilmuan di pesantren bergerak dari dan ke banyak arah sejak mula hingga kini. Peradaban kitab merupakan basis utama tradisi pesantren.

Pesantren tak hanya melahap khazanah disiplin keilmuan global. Produksi kitab yang terkenal luas atau dikenal terbatas juga muncul dari kalangan pesantren. Tradisi produksi pengetahuan di kalangan pesantren tetap lestari sampai saat ini.

Selain menyusun wirid Istighatsah, Kiai Romly Tamim dari Pesantren Darul Ulum Rejoso, misalnya, menerbitkan kitab tasawuf berjudul Tsamratul Fikriyah yang merupakan kitab rujukan teori dan praktik ritual jamaah tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Jombang dan kota-kota lainnya. Kitab tasawuf ini dialihbahasakan ke bahasa Jawa beraksara pegon oleh Kiai Mustain Romly, putranya Kiai Romly Tamim. Cucu Kiai Romly Tamim, Kiai Muhammad Afifuddin Dimyathi, juga menulis kitab-kitab Ilmu Balaghah dan Ilmu Tafsir berbahasa Arab yang terbit di Indonesia dan Mesir.

Baca juga:  Sejarah Kemajuan Universitas di Tiongkok: Apa yang Bisa Ditiru?

Reputasi peradaban kitab dari kalangan pesantren eksis di ranah lokal dan global. Tradisi keilmuan komunitas pesantren pada abad ke-21 tak terbatas bergaul dengan basis-basis peradaban keilmuan berbahasa Arab misalnya Mesir, Yaman, Madinah, Saudi, Suriah dan Irak. Kalangan pesantren juga mengenyam pendidikan modern Barat hingga tingkat perguruan tinggi. Atau setidaknya kalangan pesantren mengakses khazanah keilmuan modern Barat, tak lagi seperti generasi pesantren sebelum masa Kemerdekaan yang sebagian besar hanya bergaul dengan keilmuan kitab kuning.

Rintisan peradaban modern Barat banyak belajar sejak awal kepada para pemikir muslim, misalnya kepada Ibnu Rusyd yang merupakan komentator pemikiran filsuf Yunani Aristoteles yang mumpuni. Sebelum merujuk langsung ke sumbernya, Yunani, masyarakat Barat mengetahui dan belajar peradaban Yunani melalui tulisan penulis muslim. Peradaban sains dan teknologi modern Barat sebenarnya berutang kepada literatur muslim.

Ironisnya, khazanah keilmuan dan pemikiran filsafat dan sains dari karya-karya penulis muslim klasik bukan merupakan standar rujukan dalam pendidikan di pesantren. Pesantren lebih merujuk khazanah “Ilmu Agama” — akidah, fikih, tasawuf. (Baca: Persekutuan Raja Kafir dan al-Idrisi)

Karya-karya tulis di bidang filsafat, kedokteran, psikologi, matematika maupun sosiologi dari al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, Khawarizmi, Ibnu Rusyd maupun Ibnu Khaldun nyaris tak tersentuh oleh tradisi keilmuan di pesantren.

Barangkali persentuhan komunitas pesantren dengan semua kitab-kitab non Ilmu Agama dari penulis muslim bisa memunculkan kitab-kitab keilmuan sains dan teknologi dari kalangan pesantren sebagaimana dahulu masyarakat Barat belajar kepada literatur pemikiran filsafat dan sains muslim sebelum peradaban modern Barat bertumbuh dan menjulang sejak era Renaisans hingga sekarang.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top