Sedang Membaca
Persekutuan al-Idrisi dan Raja Kafir
Penulis Kolom

Muhammad Iqbal. Sejarawan. Dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam IAIN Palangka Raya. Editor Penerbit Marjin Kiri. Menulis dua buku: Tahun-tahun yang Menentukan Wajah Timur (Yogyakarta: EA Books, 2019), dan Menyulut Api di Padang Ilalang: Pidato Politik Sukarno di Amuntai, 27 Januari 1953 (Yogyakarta: Tanda Baca, 2021).

Persekutuan al-Idrisi dan Raja Kafir

Persekutuan al-Idrisi dan Raja Kafir

Sekitar 1138 M, seorang cendekiawan dan bekas arsitokrat Arab, Muhammad al-Idrisi (1100-1165), menerima sebuah undangan paling luar biasa dalam sejarah sains. Al-Idrisi ditawari tugas besar untuk mengawasi pembuatan peta dunia baru yang akan diukur di atas piringan perak seberat tiga ratus pon oleh para ahli ukir kerajaan, dan membuat sebuah tulisan pelengkap ihwal deskripsi geografis.

Al-Idrisi, pada abad-abad itu, kesohor sebagai seorang penyair yang suka mengembara, ahli ilmu farmasi, dan ahli botani. Terkait di bidang botani ini, ia dengan gemilang memberi nama-nama tanaman dalam bahasa Arab, Persia, Latin, Yunani, Berber, dan Sanskerta.

Nanum, undangan kali ini bukanlah datang seorang khalifah atau sultan, melainkan seorang penguasa Kristen moderat di Sisilia, Sultan Rujari alias Raja Roger II (1101-1154).

Leluhur Roger yang berkebangsaan Norman datang ke Sisilia (Siqilliya)–pulau yang kini kita kenal sebagai tempat kelahiran mafia itu–kebanyakan sebagai prajurit upahan bagi panglima Kristen dan Muslim setempat pada awal abad ke-11, dan memutuskan untuk menetap di sana.

Pelan tetapi pasti, mereka berhasil menguasai banyak tanah di sana dan melakukan serangan besar-besaran ke wilayah selatan Italia, yang saat itu kebanyakan dihuni oleh orang Yunani di bawah kekuasaan Bizantium. Pada saat Roger II dewasa (1112), dia memutuskan untuk menjadikan Kota Palermo–bekas pusat administrasi Arab–sebagai ibu kota permanen.

Dalam sebuah deskripsi yang kaya tentang kota itu, tiga dekade pasca kematian Roger II, seorang penulis dan pelancong (ziarawan) bernama Ibnu Zubair, mengesampingkan sakit hatinya atas penaklukan Kristen beberapa saat, untuk memuji keindahan Kota Palermo:

“Sebuah kota kuno yang angguh, indah, ramah, dan menarik untuk dilihat. Terletak di antara lahan-lahan dan dataran terbuka penuh taman, jalan luas, dibangun bergaya Cordoba, dan semuanya berbahan batu potong … Si raja penguasa telah merias kota ini dengan sempurna dan menjadikannya sebagai ibu kota kerajaan Frank-nya–semoga Tuhan menghancurkan kota ini!”

Ibnu Jubair, yang tak sengaja berkunjung gara-gara kapal yang ditumpanginya karam dalam sebuah perjalanan pulang ke Spanyol setelah berhaji, menemukan sebuah kota dan kerajaan di titik pertemuan antara Timur dan Barat. Pada waktu ketika banyak orang sezamannya, termasuk sejumlah kerabat dekatnya, merasakan kobaran ideologi perang suci, Roger II memilih tinggal di kota yang kebanyakan penduduknya memeluk Islam dan menjadi tempat bagi lebih dari tiga ratus masjid.

Roger II banyak mengadopsi pendekatan Islam terhadap kelompok minoritas, menarik pajak kepala khusus dari penduduk beragama Islam dan Yahudi, tetapi secara umum memberi mereka kebebasan untuk menjalankan urusan mereka sendiri.

Sang sultan

Roger II mengesahkan undang-undang baru yang secara tegas menghormati adat dan kebiasaan agama yang sudah ada sebelumnya, menyelenggarakan birokrasi pemerintahan dalam gaya Arab, dan memberikan posisi-posisi penting pemerintahan kepada sejumlah muslim. Roger II bahkan memercayakan unit militer penting kepada warga Arabnya.

Mayoritas pengawal kerajaan dan banyak anggota pasukan pemanah berkudanya adalah orang Islam. Orang Arab juga banyak mengisi korps-korps insinyur kerajaan, yang bertanggung jawab membangun benteng pertahanan, salah satu minat terbesar Roger II, serta membuat dan menggunakan peralatan-peralatan perangnya yang menggentarkan. Kebijakan Roger II dan fakta berperannya orang-orang Islam di Palermo ini, oleh seorang uskup dari Canterbury, Inggris, dianggap memalukan. Sang uskup menilai itu saat berkunjung ke Palermo.

Roger II juga memanfaatkan jasa seniman, tukang bangunan dan pengrajin Arab di pulau itu. Buktinya adalah sebuah jubah raja pada 1133 yang dibuat dari sutra terbaik dan sekarang ada di sebuah museum di Wina, Austria. Jubah tersebut bermotif khas Islam dan bertuliskan kalimat persembahan berbahasa arab:

“(Jubah ini) termasuk benda-benda yang dikerjakan di khazanah kerajaan, tempat bernaungnya kekayaan dan kehormatan, kemakmuran dan kesempurnaan, keunggulan dan kehebatan.”

Arsitektur Sisilia di bawah kekuasaan kaum Norman, termasuk gereja dan kapel, menampilkan perpaduan menarik antara desain Arab dan Kristen Timur. Penyair muslim juga aktif di istana, dan enam karya terselamatkan dalam sebuah kompendium Arab abad ke-12 yang dipersingkat oleh editornya, demi menghindari ketersinggungan keagamaan karena memuji ‘Orang Norman Kafir’.

Satu-satunya gambaran yang masih ada perihal Roger II, sebuah mosaik di Gereja La Martorana di Palermo, Italia, menampilkan raja itu berjanggut dan berkumis serta mengenakan jubah kebesaran Bizantium, dengan tulisan khas Kufi Arab di latar belakangnya. Tidak heran bila seorang sejarawan Arab ternama menuturkan adanya desas-desus di kalangan warga bahwa raja mereka itu diam-diam memeluk Islam, sebuah reputasi yang tentu saja diperkuat oleh seringnya Roger II cekcok dengan para paus dan penolakannya atas Perang Salib.

Kembali ke al-Idrisi, seorang ilmuan istimewa dengan nama lengkap Abu Abdullah Muhammad al-Idrisi al-Qurtubi al-Hasani al-Sabti. Meski bahagia atas undangan sang raja, tapi belum jelas sebesar apa hasrat al-Idrisi untuk tinggal di sebuah kerajaan Kristen. Ia tidak ragu pada komitmen sang raja, bahkan ia sebagai ilmuwan melihat semacam “keberpihkan” pada Arab-Islam. Yang musykil, bagi al-Idrisi adalah seputar penugasannya yang masih belum jelas. Sebetulnya, sikap al-Idrisi pada sang raja cukup obyektif, namun para sejarawan Arab umumnya tidak banyak memberi perhatian pada kehidupan al-Idrisi selanjutnya. Diduga keras, para sejarawan Arab tidak tidak suka al-Idrisi menjalin hubungan dekat dengan raja kafir itu.

Pada suatu saat, Roger II menggunakan siasat menakut-nakuti dan mengingatkan al-Idrisi. Sang raja mengatakan bahwa al-Idrisi berisiko menjadi sasaran musuh politik dinasti itu di Spanyol dan Afrika Utara.

Baca juga:  Asal-usul Salib

“Anda adalah anggota keluarga para khalifah,” tulis Roger II. “Bila Anda tinggal di tengah-tengah muslim, penguasa mereka akan berusaha membunuh Anda, tetapi bila Anda tinggal bersamaku, Anda akan aman.” Kemungkinan lain, Roger II barangkali hanya ingin memamerkan pengetahuan luasnya tentang sejarah Islam dan politik internal demi meyakinkan al-Idrisi.

Apa pun itu, al-Idrisi memenuhi ajakan sang raja dan tinggal di Palermo. Di sanalah kedua orang tersebut memulai lima belas tahun kerjasama yang nantinya melahirkan salah satu karya agung, yakni geografi abad pertengahan. Planisfer berbahan perak yang indah itu dicuri dan dilebur tidak lama setelah selesai dibuat, tetapi edisi-edisi Peta al-Idrisi yang ditulis tangan dan berbahan lapis lazuli masih terselamatkan, berikut beberapa bagian peta regional terkait, sepuluh peta untuk masing-masing dari tujuh iklim dunia zaman dahulu.

“Jadi, jumlah keseluruhan peta regional ini adalah tujuh puluh,” ujar al-Idrisi, “belum termasuk dua batas ekstrem di dua arah, satu di Selatan, yaitu batas pemukiman manusia akibat iklim yang terlalu panas dan kurangnya air, dan satu lagi di Utara, yaitu batas pemukiman manusia akibat iklim yang terlalu dingin.”

Sang geografer

Al-Idrisi beserta tim peneliti dan cendekiawannya, menggambarkan bagian bumi yang berpenghuni mencakup satu hemisfer penuh, atau 180 derajat, membentang dari Korea di Timur dan Kepulauan Canaria di Barat–kepulauan terakhir sebelum perairan hitam pekat si Samudra Atlantik, yang ditakuti oleh orang Arab karena dianggap sebagai Laut Kegelapan.

Sepuluh derajat pada tiap sisi digambarkan sebagai Lautan Melingkar yang mengelilingi daratan bumi. Al-Idrisi menggunakan banyak sumber, termasuk karya-karya klasik geografi dan kartografi muslim, untuk mengetahui tentang Afrika dan Asia.

Untuk informasi mengenai daerah-daerah yang dekat dengan tempat tinggalnya, ia lebih banyak mengandalkan pengalaman pribadinya sebagai seorang cendekiawan penjelajah setelah menempuh pendidikan klasik di Kordoba dulu, plus tulisan-tulisan para penjelajah Eropa, pedagang, diplomat, dan anggota armada angkatan laut Roger II.

Ikhtisar geografi karya al-idrisi yang dahsyat itu, yang tertanggal Januari 1154, juga masih bisa dijumpai. Atas perintah raja, karya besar ini diberi judul Amusement of Those Who Long to Traverse the Horison; bisa dipahami bila kemudian orang Arab biasa menyebutnya Kitab Rujar atau Book of Roger.

Kitab Rujar al-Idrisi menawarkan pada Barat abad pertengahan sebuah deskripsi paling lengkap sampai saat ini ihwal penduduk, daratan dan budaya ketujuh iklim, terutama Afrika–sebuah daerah yang begitu akrab bagi para pelaut, pedagang dan petualang Arab. Al-Idrisi memberikan lukisan terperinci dan umumnya akurat tentang perdagangan emas di Ghana, Afrika, dan industri garam di barat jauh benua itu. Dia juga menggambarkan kondisi geografis Nil Hulu yang begitu kompleks.

Untuk daerah timur, Kitab Rujar mengabarkan kepada pembacanya, tentang praktik kanibalisme yang terjadi di Kalimantan, kecerdasan gajah, sistem kasta di India, dan Buddhisme yang dianut oleh para raja di China yang jauh.

Berakhir sudah kecenderungan lama untuk mengetahui hal-ihwal yang berguna bagi efisiensi pajak, administrasi, niaga, atau penaklukan yang mewarnai banyak karya Arab terdahulu tentang deskripsi geografis. Sebagai gantinya, berkembanglah kini usaha penuh untuk mengumpulkan pengetahuan terbaru demi memperoleh gambaran keseluruhan yang utuh dan padu.

Peta Dunia al-Idrisi juga penting bagi masa depan kartografi dan navigasi Barat, karena dia menggunakan tradisi ilmiah Khalifah al-Ma’mun serta para penelitinya di Baitul Hikmah (Rumah Filsafat) dan membantu memperkenalkannya kepada khalayak yang sepenuhnya baru.

Tiruan-tiruan terhadap peta Arab mulai muncul di Barat pada akhir abad ke-13, termasuk karya kosmologi seorang Filsuf Skolastik Jerman terkemuka, Albertus Magmus, yang juga membuat sebuah peta dunia sederhana di sekitar masa ini; peta itu melukiskan Bagdad dan Basrah di bagian Selatan Irak, tetapi tidak memuat Paris, sehingga pasti didasarkan pada sumber-sumber muslim.

Alamiah apabila peta rapuh dan tidak kuat jika digunakan dalam waktu lama. Masalah yang sama lebih-lebih berlaku bagi buku pedoman navigator dan grafik pantai. Sebelum era percetakan, pembuatan benda-benda itu sangat sulit dan mahal. Maka, tak heran bila sedikit sekali yang tersisa dalam bentuk ‘jejak kertas’, yang mengaitkan secara langsung kemajuan-kemajuan spesifik dalam peta dan panduan navigasi di Eropa dengan prestasi ahli ahli geografi dan kelautan Arab.

Namun, tetap saja pengaruh Islam tak bisa dipungkiri. Ini terbukti dari komentar-komentar yang berserakan dalam sumber-sumber Barat dan dari pengamatan atas alur evolusi kartografi awal di Eropa, khususnya di tengah ketiadaan kontak Eropa kontemporer dengan Dunia Islam yang jauh.

Bukti itu terlihat dari perbaikan nyata dalam gambaran Eropa sepanjang abad ke-14 tentang anak benua India, Laut Merah, Teluk Persia, dan Siberia, yang di kalangan pedagang Arab sudah lama dikenal dengan sebutan balad al-Sibir.

Semua gambaran itu mencapai tingkat ketepatan yang tak mungkin tercapai tanpa menyalin dari model-model tepercaya. Karya-karya Eropa juga menampilkan gambaran akurat perihal Asia Selatan dan pantai timur Afrika, jauh sebelum petualang Barat menginjakkan kaki di daerah-daerah terpencil itu. Pemahaman muslim tentang Afrika dan Samudera Hindia sangat penting bagi masa depan penjelajahan bangsa Eropa, karena ia telah menjungkir-balikkan pendapat klasik, bahwa kawasan terakhir ini terkurung oleh daratan. Ia menunjukkan bahwa pelayaran ke bagian Selatan Afrika mungkin saja dilakukan.

Petunjuk lain tentang ketergantungan para ahli pembuat peta Kristen terhadap sumber-sumber asing dapat dilihat dari sejarah pembuatan peta Laut Kaspia, yang sebenarnya merupakan danau terbesar di dunia.

Baca juga:  Kalah Perang, Jepang Menyebarkan Delusi Kemenangan

Peta-peta buatan Eropa abad ke-14, yang mengikuti tradisi Muslim, dapat memberikan arah Utara-Selatan Laut Kaspia dengan tepat. Namun pada awal abad ke-16, para pembuat peta Barat yang banyak terpengaruh oleh terjemahan-terjemahan Latin terkini dari karya-karya Ptolemeaus yang jauh lebih tua, seketika mengabaikan penelitian bertahun-tahun ilmuan Arab  dan beralih pada gambaran klasik terhadap Kaspia sebagai laut berbentuk bujur telur yang membentang dari Timur ke Barat. Butuh waktu dua abad lagi untuk memperbaiki kesalahan ini, delapan ratus tahun sesudah bangsa Arab berhasil memetakan Kaspia.

Namun demikian, yang lebih penting ketimbang sekian banyak peminjaman Barat dari ahli geografi Muslim ialah warisan intelektual Arab secara umum, yang diuraikan secara lengkap dalam Kitab Rujar, dan pemahamannya terhadap dunia sebagai tempat yang bisa dipetakan, digrafikkan dan dijelajahi melalui cara yang sistematis dan ilmiah. Peta-peta dunia yang dibuat pada masa Al-Ma’mun dan Al-Idrisi, telah menggugurkan gambaran geografi suci Kristen, yakni peta-peta T-O bumi-datar dengan tiga benua konvensionalnya (Eropa, Asia dan Afrika). Dan pada saat yang sama, karya-karya Arab tentang geografi manusia menyajikan dunia sebagai tempat yang penuh keajaiban, ragam budaya dan masyarakat yang seharusnya dicatat, dikatalogkan, dan dipelajari. Bukan malah dijauhi, dengan alasan lebih mengutamakan perenungan pribadi akan kehidupan abadi di surga.

Konsepsi intelektual Arab perihal dunia ini juga kadang disertai sejumlah bantuan praktis yang sangat berarti. Seorang penjelajah ternama berkebangsaan Portugis, Vasco da Gama, yang telah merampungkan perjalanan masyhurnya mengelilingi bagian Selatan Afrika, Tanjung Harapan, pada 1497, pergi ke India dengan panduan sebuah peta Muslim, dan bisa jadi nahkodanya juga seorang Muslim. Menurut catatan seorang rekan Portugis sezamannya, da Gama dan awak kapalnya melihat sekilas sebuah peta yang menggambarkan secara rinci keseluruhan garis pantai India, lengkap dengan banyak garis bujur dan garis lintang yang ditulis dalam gaya bangsa Moor.

Sumber-sumber Arab, yang menyadari besarnya bahaya, apabila kekuatan Eropa dibiarkan berlayar hingga Samudera Hindia dan jalur-jalur niaga pentingnya, sepakat bahwa nahkoda Muslim itu pasti sedang mabuk, hingga tega mengkhianati rekan seimannya. Angkatan Laut Portugis nantinya berhasil merebut peta-peta berharga bagian timur Kepulauan Rempah-Rempah. Peta-peta ini selanjutnya buru-buru dibawa pulang ke Lisbon untuk diterjemahkan dan dimasukkan ke peta dan atlas orang Eropa yang semakin akurat.

Christopher Colombus juga diuntungkan oleh karya bangsa Arab, khususnya sebuah terjemahan Latin pertengahan abad ke-12 terhadap the Sabean Tables, sebuah ikhtisar ihwal teknik-teknik terbaru dalam geografi matematis Arab. Selain itu, Columbus dan para penjelajah lainnya di masa itu terpengaruh oleh penafsiran terkini Kristen terhadap gagasan Arab dan Hindu kuna tentang bumi yang simetris, sebuah pandangan yang menguatkan strategi Columbus untuk menjelajahi Timur dengan berlayar ke Barat. Mereka juga mungkin terpengaruh oleh kesalahan mereka membaca sumber-sumber Arab, terutama catatan-catatan penting penentuan panjang satu derajat di zaman Abbasiyah, sehingga mereka percaya bahwa bumi itu 20 persen lebih kecil daripada sebenarnya. Terakhir, ada sejumlah indikasi bahwa para pelaut Muslim–dari Arab, Mali dan Cina–semuanya telah melakukan penjelajahan awal ke bagian jauh Laut Kegelapan, mungkin hingga ke Dunia Baru.

Raja Roger II termasuk orang pertama dari generasi baru Eropa yang bersentuhan langsung dengan orang Arab, bukan sebagai musuh dalam perang suci, melainkan sebagai pakar sains, filsafat dan budaya tinggi. Dia bisa membaca tulisan Arab dan sangat akrab dengan karya-karya cendekiawan Muslim terkemuka. Koin cetakan Roger pada 1138 M, merupakan koin pertama di Eropa yang diketahui menggunakan sistem angka Arab yang dipopulerkan oleh Al-Khawarizmi. Para tabib di kerajaannya orang Arab semua, dan menurut sejarawan abad ke-12, Ibnu Al-Atsir, Roger II lebih percaya mereka tinimbang biarawan ataupun pendeta Kristen di istananya. Raja itu, kata seorang sejarawan Kristen, begitu menaruh hormat kepada orang jujur dan bijak, entah sebangsa atau bukan, orang awam maupun agamawan. Dengan begitu, wajar saja apabila Roger II memercayakan proyek ilmiah besarnya kepada seorang cendekiawan Muslim.

Al-Idrisi sendiri mengatakan bahwa proyek pembuatan Peta Dunia Roger diluncurkan bukan karena si raja tidak tahu apa-apa, tetapi karena dia sangat tidak puas dengan karya-karya ahli geografi Arab terdahulu, tanpa terkecuali the Book of Roads and Kingdoms dan catatan-catatan dari Al-Masudi. Roger telah membaca semua karya ini dan karya-karya lain untuk mencari pemafhuman mengenai negeri-negeri lain, dan penggolongannya ke dalam tujuh iklim dunia yang telah disepakati oleh semua cendekiawan. Namun, menurut Al-Idrisi, sang raja tidak menemukan informasi itu dalam karya ilmiah mana pun. Malahan, dia merasa semua karya itu terlalu dangkal.

Respons Roger II sama dengan apa yang dilakukan oleh Al-Muqaddasi dan cendekiawan Arab abad pertengahan lainnya. Dia mengumpulkan lebih banyak data, lalu mempelajari semua data itu guna mencari pelbagai kecenderungan umum  dan fakta-fakta terang. Al-Idrisi mengisahkan upaya sang raja beserta para penelitinya itu: “Mereka mengkaji bersama, tetapi tidak banyak menemukan pengetahuan baru dari (cendekiawan lain) melebihi dari apa yang ia temukan dalam karya (para ahli geografi Muslim) itu, dan bila sudah selesai berdiskusi dengan mereka ihwal topik ini, dia segera mengirim utusan ke segala penjuru kerajaannya untuk memanggil para cendekiawan lain yang mungkin sedang berkelana dan menanyakan pendapat mereka, baik sendiri-sendiri maupun berkelompok. Akan tetapi, tidak ada kesepakatan di antara mereka. Meskipun demikian, apabila mereka bersepakat, dia akan menerima informasi itu, namun bila mereka berbeda pendapat, sang raja akan menolaknya.”

Baca juga:  5 Buku Induk Ihwal Sejarah Islam

Menurut Al-Idrisi, upaya seperti itu berlangsung selama lima belas tahun, hingga akhirnya Roger II benar-benar puas. Dia memerintahkan agar rancangan awal Peta Dunia miliknya dibuat di sebuah papan khusus sesuai dengan pendapat dan konsensus cendekiawan. Bila penjelasan benar dan bentuk bagus rancangan peta itu sudah disetujui, para pengrajin segera memulai proses berat percetakan prototipe itu ke sebuah piringan perak besar, yang akan menjadi hasil akhirnya. Al-Idrisi mengatakan setelah itu tinggal mempersiapkan peta-peta yang berisi “deskripsi ihwal provinsi-provinsi dan data tentang penduduknya, pakaiannya, kekayaannya, jalan-jalannya, jarak tempuh, dan farsangs-nya (satuan ukur tradisional), serta semua keanehan di sana yang pernah disaksikan langsung oleh para penjelajah dan disebutkan oleh para penulis pengembara, dan dibenarkan oleh para pembawa berita. Maka kami sudah masukkan berdasar setiap peta segala hal ihwal yang kami anggap penting dan sesuai dalam tempatnya di buku, sejauh pengetahuan dan kemampuan kami.”

Diukur dari standar manapun, Kitab Rujar merupakan sebuah capaian monumental, terlebih dari segi cakupan proyek ini dan keberhasilannya menggabungkan pandangan dari betapa banyaknya kaum cerdik-pandai di begitu banyak bidang pengetahuan. Buku ini juga berperan mengabadikan metode ilmiah Arab yang bermula dari karya para ahli fiqih dan ilmu kalam.

Terlebih lagi, buku tersebut menampilkan kejayaan geografi Arab, sebuah bidang yang memperlihatkan betapa cendekiawan muslim telah jauh melampaui para pendahulu Yunani, Persia dan Hindu mereka. Kerjasama antara cendekiawan Muslim dan patron Kristen kharismatik itu telah  membawa tradisi Arab ke pusat dunia saat itu.

Sebagai sebuah kekuatan di Mediterania, kerajaan Roger II di Sisilia dan bagian Selatan Italia memelihara hubungan perdagangan, diplomatik dan militer dengan semua negara penting di Timur dan Barat. Dari sanalah, Kitab Rujar, yang jelas-jelas memadukan tradisi kuna dan modern, siap mengubah konsepsi Kristen perihal dunia luar.

Kitab Rujar bertahan  sangat lama. Karya al-Idrisi terutama mengakar kuat di Afrika Utara; tempat sebuah keluarga pembuat peta asal Tunisia mengkhususkan diri dalam pembuatan bagan-bagan navigasi canggih yang menggabungkan banyak temuan al-Idrisi. Jejak-jejak petanya dapat ditemukan juga dalam tradisi baru Eropa dalam pembuatan peta pelayaran, alat-alat bantu navigasi dan peta-peta pantai yang begitu terperinci dan akurat.

Sebuah ikhtisar berbahasa Arab dari mahakarya al-Idrisi dicetak di Barat pada 1592 M, menjadi salah satu karya paling awal seorang muslim sekular yang diterbitkan oleh Medici Press Roma dan petanda ajegnya pengaruhnya buku ini. Sebuah buku terjemahan Latin muncul di Paris sekitar duapuluh tujuh tahun kemudian, tetapi naskah aslinya hanya ditulis sebagai karangan ‘ahli geografi Nubia’ anonim.

Dalam salah satu catatan kaki yang tidak biasa, Edgar Allan Poe juga menyebut ahli geografi Nubia ini dan Laut Kegelapan dalam cerita pendeknya perihal kekuatan dan kemarahan luar biasa alam, ‘A Descent into the Maelstrom’ bertarikh 1841 M. Pada bagian pembukaannya, si narator mengisahkan saat dirinya memandang dengan was-was ke bawah dari sebuah tebing Norwegia nan terjal:

“Kepalaku pening saat melihat hamparan samudra luas, yang airnya begitu hitam bak tinta hingga mengingatkanku pada catatan seorang ahli geografi Nubia tentang Mare of Tenebrarum (Laut Kegelapan).” Sebuah terjemahan Prancis dari The Book of Roger diterbitkan pada 1840 M untuk tujuan memperluas pengetahuan Barat kontemporer ihwal dunia, terutama Afrika yang baru saja menjadi permata berharga dalam ekspansi besar-besaran penjajahan Eropa.

Roger II meninggal pada awal 1154 M di usia 58 tahun. Tidak lama setelah karya al-Idrisi selesai dikerjakan. Seorang pendeta yang iri hati, yang jelas merefleksikan desas-desus bahwa raja kearaban ini punya sebuah harem, berkata: “Dia sendiri telah menyerah pada nasib, dimakan usia tua yang datang terlalu dini, ambruk oleh kerja keras dan kegemarannya pada seks yang di luar batas kemampuan tubuh.”

Di sisi lain, Romuald, seorang uskup agung yang simpatik di Salerno, menyebut pria itu sebagai sosok ‘berbadan besar, berwajah singa, bersuara agak serak; bijak, berpandangan jauh ke depan, tidak sembrono, pintar, pandai menasihati, dan mengedepankan akal daripada otot.

Tariq Ali, dalam novelnya A Sultan in Palermo, menuliskan renungan sang narator, al-Idrisi, atas figur Roger II pasca kematiannya sebagai berikut:

“Menurutku Sultan Rujari dari Siqilliya pada masa pemerintahannya adalah penguasa yang bijaksana dan penuh perhatian, yang melindungi semua rakyatnya tanpa memandang agama mereka. Ia memerintah rakyatnya dengan menjunjung asas kesetaraan dan tidak membeda-bedakan. Dia menekankan semua itu melalui keindahan tindakan-tindakannya, kedalaman pemikirannya, dan pribadinya nan menawan. Aku menulis sebagian tentang ini dalam lembar persembahan bukuku. Bisa ditambahkan bahwa ia membunuh orang lebih sedikit manusia, daripada ayahnya dan pamannya. … Ia administrator ulung dan negarawan yang mampu mengungguli Paus dan Kaisar. … Tetapi, dalam bulan-bulan terakhirnya, ia melakukan kejahatan dengan membakar hidup-hidup salah satu pemimpin paling unggul di kerajaan ini, Philip al-Mahdia. Dari situlah kemundurannya bermula.”

Arkian, terlepas apa pun watak sang raja, jelas bahwa komitmennya pada pencarian ilmu pengetahuan, belum lagi perlindungannya kepada al-Idrisi dan peran besarnya dalam penulisan Kitab Rujar dan Peta Dunia yang luar biasa, merupakan sebuah warisan yang sebanding dengan tradisi para khalifah Abbasiyah awal, seperti Al-Mansur dan Al-Ma’mun. Dahaga Roger II akan sains Arab begitu membuncah, saat di mana peradaban itu, dipandang sebelah mata oleh dunia intelegensia Eropa.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top