Salat, Solat, Shalat, dan Sembahyang

Hamzah Sahal

Saya selalu menghindar kata salat, ejaan baku bahasa Indonesia untuk menunjuk rukun Islam yang kedua. Kenapa? karena lidah saya tidak pernah mengucapkan ‘salat’. Saya terbiasa bilang ‘solat’.

Saya mengganti kata ‘salat’ dengan kata ‘sembahyang’, dengan pengucapan lebih ringan, tanpa ‘h’, ‘sembayang’. Sebab, kata itu lebih akrab dalam kehidupan keseharianku, juga dibenarkan dalam bahasa Indonesia. Sementara ejaan ‘shalat’, yang masih sangat lumrah dipakai, tidak ada dalam perbendaharaan bahasa kita.

Ketika saya dan teman-teman menulis buku 25 masjid legendaris empat bulanan yang lalu, tidak ada kata salat, adanya sembahyang. Secara makna tidak ada masalah, iman kita tidak akan turun karena memakai kata sembahyang. Bahkan, kata itu adalah terjemahan yang pas buat alam pikir kita.

Tapi dua minggu ini, ketika saya punya pekerjaan baru yang terkait bahasa, saya berubah betul. Diksi ‘salat’ menjadi pilihan terbaik, selain sembahyang. Kenapa?

Praktis saja asalasanku. Kata salat sudah sedemikian lumrah dipakai oleh para penulis. Capek juga mengubah.

Baca Juga
Tradisi "Pamali" Banjar dan Denyutnya yang Melemah

Tapi terus terang saja, hati ini rasanya tidak nyaman. Lidahku terlalu akrab dengan pelafalan asal. Ini juga pengaruh Mas Abdul Munim DZ di NU Online dulu.

Dia begitu kuat memegangi prinsip bahwa penulisan di dalam bahasa kita, bersandar pada pengucapan atau pelafalan. Almarhum Kiai Sahal Mahfudh juga mendukung prinsif itu. Prinsipf itu kemudian menjadi selingkung di NU Online, situs resmi Nahdlatul Ulama.

Ketidaknyaman mengikuti KBBI juga terasa pada penggunaan banyak kata Arab yang telah diserap dalam bahasa Indonesia. Misalnya ‘i’tikaf’, yang tertulis di KBBI ‘iktikaf’. Misalnya lagi, ‘silaturahmi’ baku. Sementara ‘silaturahim’ tidak baku. Adakah kita masih bisa memilih dalam berbahasa?

Lihat Komentar (0)

Komentari