Sedang Membaca
Syekh Ramadan, Mencari Ilmu dengan Jalan Spiritual
Penulis Kolom

Penulis kelahiran Banyuwangi. Alumni Blokagung yang kini domisili di Old Cairo, Mesir.

Syekh Ramadan, Mencari Ilmu dengan Jalan Spiritual

Semua bercita menjadi orang pandai dalam hal yang ditempuh. Tidak sedikit yang kandas di cita tanpa ada wujud gerakan yang baik. Semua orang tahu bahwa untuk menjadi orang yang pintar ya dengan tekun belajar sebagaimana lazimnya para tokoh yang telah sukses. Dan sebagai seorang muslim yang iman pada Alquran pasti mengatakan, “Bertakwalah kepada Allah, niscaya Dia akan mengajarimu”, tentu kita juga percaya dengan pintar via jalur spiritual. Terlebih seorang santri yang menempatkan kata berkah di antara dua matanya.

Cerita tutur juga telah sangat lazim mampir ke telinga kita bahwa si fulan dulu saat di pondok sangat saleh dan tekun beribadah, tapi kalau belajar tidak serius, ia hanya khidmah kiai dan angon hewan kiai, dan cerita serupa, dan ia ketika pulang dari pondok menjadi orang yang pandai. Atau dengan ukuran pandai biasanya, pulang bisa baca kitab kuning.

Di Turki. Tepatnya kampung Jalika, Buton. Ada seorang pemuda Kurdi yang saleh. Ramadan namanya. Ia bercita mengahafalkan Alquran dengan makna sebenar, oleh karenanya kemana ia pergi ia membaca mushaf atau mendaras hafalan. Kalau membaca juga dengan penuh tartil.

Selain itu, rutinannya adalah menghafalkan zikir dan wirid lalu mendawamkannya. Istikamah dalam shalat sunah dan rutinitas spiritual yang lain. Sedang teman-temannya yang lain sibuk sebagaimana lazimnya pelajar. Belajar, menghafal dan mengulang. Begitu terus mereka setiap hari tidak heran jika mereka mampu mengulas permasalahan dengan sangat baik dan mengurai keruwetan yang sulit dengan baik pula.

Baca juga:  Ngaji Hikam: Don’t Jugde a Book By its Cover

Ramadan muda rutinitasnya tidak lain hanya itu. Tentu ia juga menghafal beberapa kitab yang menjadi pegangan sekolah. Apa yang ia pelajari dari fikih yang ia butuhkan dalam beribadah. Selain itu ia juga tekun membaca dunia tasawuf, salah satunya Ihya Ulumiddin Imam al-Ghazali, juga wirid dan membaca dalailul khairat.

Hari berlalu. Ia kalah dengan teman-temannya dalam penguasaan permasalahan dan hukum. Terlebih penguasaan ilmiah, jauh sekali dengan teman-temannya. Hingga tiba suatu hari satu persatu murid diuji oleh guru dengan pertanyaan yang begitu dalam dan rumit.

Tiba giliran Ramadan muda, untuk diuji. Setiap soal yang lewat ia jawab dengan baik, kendatipun ia belum pernah menguasainya dengan baik sebelumnya. Sang guru pun takjub dengan murid yang ia tahu betul bahwa sebenarnya ia biasa saja di kelas itu.

Ia sekarang begitu pandai dalam menjawab dan mengurai jawaban. Sang guru berkata, “Sebenarnya kamu bukan orang alim, tapi Allah berkata kepadamu ‘jadilah alim’ maka kamu sekarang jadi orang alim”.

Siapakah beliau? Beliau adalah ayah dari Maulana syahidul mihrah Syekh Prof. Dr. Muhammad Saed Ramadan al-Buthi rahimahumallah. Yang di mana kisah itu direkam oleh Syekh al-Buthi dalam salah satu buku yang didedikasikan untuk mengenang ayahanda. Hadza waalidi.

Baca juga:  Ngaji Rumi: Fenomena Black Swan dan Seni Bertawakal
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top