Sedang Membaca
Iklan Majalah Adzan: Bukan Berkumandang, Tapi Berhadiah
Bandung Mawardi
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Iklan Majalah Adzan: Bukan Berkumandang, Tapi Berhadiah

Adzan, Tempo, 14 Maret 1992

Pada suatu masa, ia rajin ke masjid. Ia bersaing dengan teman-teman untuk bisa datang ke awal: mengumandangkan adzan subuh. Di permulaan hari, ia merasa bahagia menetapi perintah-perintah Tuhan. Menit demi menit berlalu, ia mulai murung berpikiran sekolah. Peristiwa rutin itu menjengkelkan: berseragam dan belajar. Ia mendingan ingat lagi subuh, tak ingin menderita seharian setelah mau mengumandangkan adzan dan berjemaaah di masjid. Masa remaja itu berlalu, belum mendapat sambungan. Ia tak lagi menjadi muadzin. Pendengar saja meski kadang merasa ada ganjalan.

Remaja di masa lalu ingin meningkatkan iman dan takwa dengan mendengar lagu-lagu Raihan. Ia masih ingat dan bisa bersenandung “Peristiwa Subuh” tapi tak semerdu Raihan. Lirik lembut: “Tabuh berbunyi, gemparkan alam sunyi, berkumandang suara adzan…. “ Dulu, ia melantunkan sekian lagu di album Raihan. Episode itu berlalu. Lupa berlangsung lama. Pada suatu hari, ia mendengar di radio: suara Fadly bersenandung dan mengumandangkan adzan. Ia memastikan itu bukan lagu Padi. Ada terdengar suara perempuan. Telinga terbuka: “Ayo bangunlah, tunaikanlah perintah Allah, bersujud mengharap keampunan-Nya…” Ia mendengar dan menunduk: mbrebes mili. Tangisan merindukan keremajaan dan kemauan menjadi muadzin saat hari masih gelap-hening.

Buku Kiai Said

Kini, ia menua, memilih mendengar suara Fadly dan Natasha untuk “Peristiwa Subuh”. Ramadan, ia mendengar lagi lagu-lagu membawa pesan keagamaan. Di telinga, terdengar lagu “Doaku” dua selera: Fadly-Haddad Alwi dan Sulis. Ah, suara Sulis itu mengharukan.

Baca juga:  Ihya Berjalan, Berjalan dengan Ihya

Kini, kita mau mengingat dan mengalami Ramadan bersama Adzan. Ingat, Adzan itu bacaan, tak selalu terdengar dari masjid. Nama itu memastikan majalah berhaluan Islam, bacaan bagi keluarga-keluarga Islam di Indonesia.

Di Tempo, 14 Maret 1992, Adzan diiklankan dengan gembira. Sampul majalah Adzan: “Lelaki sedang berdoa”. Edisi itu terbit saat Ramadan. Bujukan: “Malam Qadr nilainya lebih dari seribu bulan, itu pasti. Namun, kapan datang, dan bagaimana mendapatkannya, itu masih misteri. Yang jelas, pada setiap Ramadan orang memburunya dengan banyak beribadah atau i’tikaf di masjid.”

Pada masa lalu, edisi Adzan itu mungkin laris. Orang-orang berpuasa tak lupa membaca majalah. Keseharian membaca kitab suci itu pasti. Di sela-sela melakukan sekian peristiwa, orang membaca majalah ketimbang tidur cap ngorokngiler. Kita tak perlu membandingkan pahala orang membaca Adzan dan tidur.

Adzan, bacaan keluarga. Iklan menghadirkan kegirangan bocah: “Mama, langganin Adzan dong biar adik bisa maen kuartet Al Quran.” Penerbit Adzan sedang berpromosi, 100 pelanggan pertama di Ramadan ini mendapat hadiah Al Quran dan Terjemah edisi lux.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kita nggumun dengan kenikmatan orang membaca majalah. Ia diminta rajin pula mengaji kitab suci. Orang dijamin tak merugi berlangganan dan membaca Adzan: “Dengan Ramadan, yang kita lalui sekarang ini pula bagi Anda, yang memulai dan meneruskan berlangganan majalah saku bulanan Adzan, kami memberikan hadiah istimewa, untuk putra-putri Anda. Kuartet (kartu bermain) untuk belajar huruf Al Quran, juga ada kesempatan untuk memenangkan hadiah-hadiah, dengan hadiah pertama Kiswah, kelambu rumah suci Ka’bah, nan begitu indah!” Hadiah lain berupa sepeda motor, televisi, jam, dan tabungan.

Baca juga:  Toa dan Ketakutan terhadap Anjing Gila

Iklan itu aneh. Perkara majalah dan kemauan orang membaca selama Ramadan terlalu disodori hadiah. Iklan menjadi berlebihan. Orang mulai berpikiran bahwa Adzan bergelimang hadiah. Pada saat orang-orang merindukan adzan magrib untuk berbuka puasa, penerbit Adzan menggoda dengan hadiah-hadiah. Ramadan, orang mengartikan adzan itu panggilan untuk beribadah dan Adzan itu majalah menawarkan hadiah-hadiah. Begitu.

Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top