Sedang Membaca
Toa dan Ketakutan terhadap Anjing Gila
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Toa dan Ketakutan terhadap Anjing Gila

Avatar

Saya berasal dari kaki gunung Marapi, Tanah Datar, Sumatra Barat. Saya tak bisa membayangkan bila tak ada toa di kampung saya. Memori masa kanak-kanak saya masih menyimpannya. Sebagai pemukiman terjauh di kaki gunung, tersuruk di sebuah lembah tempat angin dingin mengendap, di antara berbagai jenis pepohonon, rumah-rumah dibangun dengan tidak teratur dan bertebaran di mana-mana, serta hanya dihubungkan oleh jalan setapak yang mendaki dan menurun, toa menjadi penghubung antara satu orang dengan orang lainnya, satu rumah dengan rumah lainnya, satu informasi dengan informasi lainnya.

Toa itu terpasang di ujung atap lancip sebuah surau tua yang terletak di pinggir sawah. Toa itu tidak hanya berguna untuk memperpanjang suara adzan salat lima waktu ke segala penjuru kampung, tetapi juga sebagai pusat segala macam informasi. Kenapa?

Karena kampung saya itu berada di luar wilayah yang tercatat oleh jasa pengiriman barang, maka setiap surat, paket, atau apa saja yang dikirim ke kampung saya, hanya sampai di kantor Wali Nagari.

Tak mungkin petugas kantor itu mengantarkan ke rumah yang punya barang kiriman. Biasanya, lewat sehelai kertas atau kadang lewat pesan lisan saja, informasi itu dititipkan kepada seseorang untuk diantarkan atau disampaikan ke surau. Setiba di surau, Garin surau itu akan mengumumkannya.

“Pengumuman untuk warga kita semuanya. Sebuah paket untuk Etek Ripah di Ujuang Tanjuang. Dikirim oleh Syafrizal dari Jakarta. Silakan dijemput ke kantor Wali Nagari. Terimakasih,” begitulah kira-kira pengumumannya dan tak hanya akan terdengar oleh orang yang dituju, tetapi juga oleh semua orang di kampung, baik di rumah, di lepau kopi, ataupun di sawah dan di ladang. Sesekali, kalau tak terdengar oleh orang yang dituju, pasti orang yang sempat mendengar akan meneruskannya ke pemilik kiriman itu.

Toa itu juga menyampaikan mulai dari kabar kematian, imbauan yang dibuat oleh pemuka masyarakat, ceramah dari ulama—baik dalam bentuk rekaman atau siaran langsung, sampai serba-serbi suatu acara yang dibuat di surau tersebut.

Suatu hal yang tak bisa saya lupakan adalah ketika selepas salat Isya. Bagi anak laki-laki Minangkabau, ketika mulai remaja, maka sudah waktunya tidur di surau. Tak ada lagi waktu untuk tidur di rumah. Di surau, selepas Isya, salah satunya digunakan untuk menguji kemampuan mengaji, kemampuan hafalan bacaan salat dan ayat Alquran, kemampuan berceramah, kemampuan mengumandangkan adzan, dan seterusnya.

Baca juga:  Budaya Sedekah Laut dalam Tinjauan Hadis

Ibu saya—dan juga ibu teman saya lainnya—akan mendengarkan suara anaknya di surau melalui toa surau. Suatu ketika saya mendapat giliran adzan untuk pertamakalinya. Saya gugup dan suara saya tersendat. Kesalahan tentu hal biasa ketika masa belajar.

Tapi, masalahnya, saya merasa malu ketika saya membayangkan bahwa suara saya yang gugup itu terdengar ke pelosok kampung, meski ada yang mengenal suara saya dan ada yang tidak. “Tidak apa-apa. Biasa saja itu,” kata Ibu saya langsung saja keesokan harinya ketika saya pulang ke rumah sehabis subuh.

Pernah suatu kali saya mendapat giliran belajar ceramah. Saya berdiri di sebuah mimbar kecil khusus untuk belajar. Karena saya takut bicara tidak teratur, maka saya bacakan saya acuan tulisan yang saya buat sebelumnya.

Ternyata, karena membaca terlalu terburu-buru, ada kutipan ayat yang tidak tepat saya lafalkan. Kesalahan itu tak hanya diperbaiki di surau seketika itu juga. Besoknya, di sebuah jalan menuju ke sawah, saya bertemu dengan seorang lelaki yang masih bersepupu dengan ayah saya. Ia mengenal suara saya ternyata.

“Kamu yang semalam belajar tampil?” katanya dan saya jawab iya. Ia langsung mengajari cara pelafalan ayat yang saya bacakan semalam itu. “Terimakasih Pak,” kata saya kepadanya sambil menyalaminya sekali lagi.

Baca juga:  Pengalaman Menghadapi Penipu Digital Minta Pulsa

Begitulah toa juga turut-serta menyampaikan kabar ke penjuru kampung tentang kemampuan anak-anak belajar agama. Dari suara toa itu para orangtua membayangkan sudah seberapa peningkatan kemampuan anak-anak di kampung tersebut. Dari toa itu ibu saya bisa membayangkan kegugupan saya tampil untuk pertamakalinya. Dari toa itu saya bisa mengetahui keseruan acara perayaan Maulid Nabi di surau ketika saya hanya terbaring sakit di rumah.

Dari toa itu semua orang kampung bisa mengetahui siapa yang sangat berbakat dalam berceramah, mengaji, adzan, dan seterusnya. Dari toa itu, anak-anak yang kecil membiasakan telinganya dengan suara berbahasa Arab. Dari suara toa itu akan ketahuan siapa yang izin mau ke surau tapi tak pernah terdengar suaranya.

Baca Juga
Ketika Siti Nurbaya Memprotes Laki-Laki 1

Saya tak pernah mengira bahwa suara toa bisa jadi masalah sampai kemudian saya merantau ke Jakarta. Saya tinggal di deretan rumah yang berdesakan, gang-gang sempit, suara kendaraan yang hiruk-pikuk, udara yang selalu bikin gerah, belum lagi sumpah-serapah, serta orang-orang yang tidak hidup dengan langgam yang sama. Kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan kampung saya.

Tak sampai 100 meter dari tempat saya tinggal, ada sebuah masjid besar dengan empat buah toa bervolume maksimal mengarah ke empat penjuru mata angin. Meski hanya satu toa yang mengarah ke tempat saya dan tiga lagi ke arah berbeda, tapi bagi orang-orang yang tinggal di sekitar masjid itu, yang terdengar oleh kedua telinga tetap saja paduan suara empat toa.

Baca juga:  Membela dengan Sastra

Di Jakartalah saya baru merasakan bagaimana toa dihidupkan dengan begitu keras di dalam masyarakat yang tidak memaknai toa dengan cara yang sama. Selama itu Jakarta mengubah toa dalam memori saya, dari “teman akrab” menjadi “makhluk menakutkan”.

Suara toa yang begitu keras tidak terasa sebagai ajakan yang menyenangkan, melainkan sebuah kemarahan yang sedang dilampiaskan secara membabi-buta. Setiap toa itu mengeraskan suara orang mengaji, hati saya berusaha menerima ayat-ayatnya, tetapi telinga saya terus saja menolak kadar volumenya.

Kepada orang yang memasang toa terlalu rendah dan kemudian menghidupkan volumenya begitu keras, saya ingin benar berkata, “Cobalah keluar sebentar. Kalau telingamu mendengar dari dalam ruangan itu saja, di dekat sumber suara, tentu tak terasa bagaimana sampainya di telinga orang lain,” Tapi, niat itu segera saya urungkan.

Untung kalau orang yang saya ajak bicara lebih bisa menerima pendapat orang lain, bagaimana kalau ternyata saya justru berhadapan dengan seekor anjing gila?

Lihat Komentar (0)

Komentari