Sedang Membaca
Qiraah Sab’ah 6: Mengupas Kitab Taysir Fii Qira’at as-Sab’ah
Stick Banner Nucare
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Penulis adalah aktivis di Jaringan GUSDURian Indonesia. Bisa disapa melalui akun twitter @autad.

Qiraah Sab’ah 6: Mengupas Kitab Taysir Fii Qira’at as-Sab’ah

Img 20200219 Wa0044

Bagi yang memperlajari ilmu qira’at, siapa yang tidak mengenal Abu Amr Ad-Dani? Beliau ini adalah penulis dari kitab Taysir Fii Qira’at as-Sab’a. Karya ini menjadi kitab otoritatif, yang menjadi sandaran para ahli qurra’, sekaligus menjadi referensi umum ketika kita belajar ilmu qira’at.

Tentang sosoknya, Ad-Dani mempunyai nama lengkap Utsman Ibnu Sa’id Ibni Utsman Ibni Sa’id Ibni ‘Umar. Ad-Dani, lahir di di kota Andalusia, Cordova, Spanyol, pada tahun 371 H dan wafat pada hari Senin 15 Syawal tahun 444 H di kota Denia atau Daniyah, dalam usia 72 tahun.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sejak kecil Ad-Dani dikenal sebagai sosok yang kuat hafalannya dan sangat produktif. Ad-Dani diketahui telah menulis 120 buku dengan beragam variasi. Jejak intelektualnya dimulai dari Andalusia, lalu ia melanjutkan studi ke Mesir, belajar bacaan seni al-Qur’an (qira’at) kepada para cendikiawan. Dari Mesir, Ad-Dani melakukan ziarah ke Mekah, setelah itu kembali ke Cordova.

Sebelum menulis kitab at-Taysir, ad-Dani lebih dahulu menulis “Jami’ul Bayan Fil Qira’at as-Sab’a”. Ihwal itu karena ambisinya yang sangat tinggi untuk menghimpun riwayat yang bermuara pada Imam Tujuh. Kitab Jami’ul Bayan karya ad-Dani tersebut merupakan kitab tentang qira’ah sab’ah yang paling luas cakupannya dalam periwayatan. Ada lebih dari 500 riwayat dan thariq (jalan periwayatan) yang bermuara pada Imam Tujuh. Melihat cakupannya yang demikian banyak, ad-Dani kemudian meringkas periwayatan dari Imam Tujuh menjadi dua perawi saja dari setiap Imam. Sehingga terbitlah kitabnya; “at-Taysir”.

Dalam kitab at-Taysir, Imam Nafi’ mempunyai dua perawi, yaitu: Qalun dan Warsy. Imam Ibn Katsir dengan perawinya: al-Bazzi dan Qunbul. Imam Abu ‘Amr al-Bashri dengan perawinya: ad-Duri dan as-Susi. Imam Ibn ‘Amir dengan perawinya: Hisyam dan Ibn Dzakwan. Imam ‘Ashim dengan perawinya : Syu’bah dan Hafsh. Imam Hamzah dengan perawinya: Khalaf dan Khallad. Imam Kisa’i dengan perawinya: Abu al-harits dan ad-Duri al-Kisa’i. Boleh dikata bahwa abad ke lima hijriyah adalah masa penyederhanaan rawi-rawi qira’at.

Baca juga:  Sabilus Salikin (23): "Wira'i"

Perlu diketahui, riwayat adalah bacaan yang disandarkan kepada salah seorang perawi dari para qurra’ yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Nafi’ mempunyai dua orang perawi, yaitu Qalun dan Warsy, maka disebut dengan riwayat Qalun ‘an Nafi’ atau riwayat Warsy ‘an Nafi’.

Adapun yang dimaksud dengan thariqah adalah bacaan yang disandarkan kepada orang yang mengambil qira’at dari periwayat qurra’ yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Warsy mempunyai dua murid yaitu al-Azraq dan al-Asbahani, maka disebut Tariq al-Azraq ‘an Warsy, atau riwayat Warsy min thariq al-Azraq. Bisa juga disebut dengan qira’at Nafi’ min riwayati Warsy min tariq al-Azraq.

Secara singkatnya, di dalam kitab at-Taysir ini, Ad-Dani bukan mengkritik dari tujuh Imam Qira’at, namun difokuskan pada dua isu utama, yaitu: 1.) membatasi pembahasan jumlah qira’at kepada tujuh imam qira’at. Karena selama ini di kalangan para qurra’ atau seorang yang tengah belajar ilmu qira’at sab’ah, jumlah imam qurra’ ada yang mengatakan lebih dari tujuh. 2.) perbincangan lokasi atau tempat tinggal para qurra’ sehingga bisa mempengaruhi bacaan mereka. Dan alasan Ad-Dani melakukan kritik karena beberapa alasan, termasuk: 1.) untuk meyakinkan masyarakat agar terbiasa dengan bacaan tujuh karakter qira’at yang sudah masyhur itu, 2.) Di dalam kitab ini setidaknya menjelaskan mengapa Ad-Dani setuju terhadap tujuh imam qira’at—untuk membatasi perawi dari tujuh pembaca—yang tak lain karena hal itu didasarkan pada bukti-bukti arkeologis dan sejarah. 3.) Di dalam kitab ini dijelaskan kajian utama yang tengah dingkat Ad-Dani adalah bahwa Ad-Dani mengesampingkan semua bacaan yang bertentangan dengan Mushaf Utsmani.

Baca juga:  Syekh Yasin al-Fadani dan Nasionalisme Indonesia

Dengan skema yang seperti itu itu, kitab ini setidaknya mampu menjawab kegelisahan para pengkaji qira’at ketika sedang mengalami perbedaan bacaan. Sehingga karya al-Taysir fi al-qira’ati as-Sab’a mampu menjawab beberapa kegelishaan itu. Wajar jika banyak kalangan yang memuji Imam al-Dani dan menjadikan rujukan atas teks otoritatif (matn) dalam Ilmu Qira’at, karena ia merupakan pakar di dalam bidang qira’at selama bertahun-tahun.

Kelebihan dan Kekurangan Karya Ad-Dani

Sebagaimana kitab-kitab qira’at yang lain, kitab ini sudah cukup detail mengupas perbedaan atau varian bacaan yang sangat baik. Yang mana pembaca akan digiring kepada suatu kesimpulan bahwa perbedaan qira’at bukanlah merupakan hasil rekaan (ijtihad) atau ciptaan para ulama’ ahli qira’at. Akan tetapi berbagai qira’at tersebut semata-mata disampaikan berdasarkan riwayat dengan sanad yang shahih dari Nabi saw.

Selanjutnya, dalam melakukan penjelasan, Ad-Dani juga detail ketika menjelaskan kaifiyat dari perbedaan bacaan itu bisa terjadi. Hal ini karena ada keterpengaruhan dari seorang guru dalam menyampaikan/membacakan qira’at tersebut kepada murid-muridnya. Apalagi ketika konteks (tempat tinggal) itu berbeda. Hal itu sangat memungkinkan sebagaimana yang terjadi oleh para imam qurra’.

Walaupun ilmu qira’at telah banyak dipelajari dimana-mana, setidaknya buku ini mampu menjadi pegangan para pengajar qira’at. Ad-Dani pun didalam pengantarnya secara implisit mengatakan seperti itu. Karena kitab ini sangat ringkas dan ringan dipelajari oleh siapapun. Tidak begitu tebal dan menggunakan bahasa yang bertele-tele. Hal ini bisa dilihat dari daftar isi. Yang pembaca akan diarahkan kepada pokok-pokok penting apa saja yang terjadi perbedaan di dalam al-Qur’an.

Baca juga:  Menyembah Allah dalam Diam

Kitab ini pada hemat saya, cenderung memudahkan terhadap pembelajaran materi qira’at. Sehingga dapat memberangus anggapan bahwa belajar ilmu qira’at itu rumit dan njelimet. Menjadi wajar jika saya menganggap ini bagaian dari masterpicenya Ad-Dani setelah “Al-Muqni’ fi Rasm al-Mashahif”. Kitab yang membicarakan ilmu Rasm Usmani.

Adapun kritik kepada kitab Ad-Dani ini, menurut hemat penulis, pertama, kurang luas dalam menjelaskan perbedaan antara qira’at dengan tajwid. Karena selama ini, terutama pemahaman mainstream, kurang bisa atau boleh dikatakan terjadi salah paham terhadap definisi/pengertian terhadap keduanya. Walaupun kitab at-Taysir sudah menyebutkan bermacam varian bacaan, tetapi tidak dijelaskan cara baca mengenai kesalahan bacaan yang seringkali terjadi. Seperti idzghom, lahn, tarqish, tahzin, dan lain-lain.

Kedua, Ad-Dani juga tidak memberikan pemahaman apa dan bagaimana implikasi yang terjadi jika bacaan itu berbeda. Karena efek dari hal ini yang seringkali berselisih di masyarakat. Saya rasa, hal ini perlu diuraikan. Apalagi karya ini merupakan ringkasan dari karya Ad-Dani sebelumnya.

Ketiga, Kitab ini juga tidak disertakan metode-metode khsusus ataupun umum di dalam mempelajari ilmu qira’at. Pada hemat saya, hal ini sangat perlu disinggung oleh ad-Dani. Dengan adanya kaidah atau metode, maka kajian qira’at semakin kaya. Di samping itu juga, dengan mengetahui kaidah atau metode, setidaknya pembaca akan dikenalkan pengaruh dari fatalnya suatu bacaan jika salah. Mengingat, ihwal inilah yang seringkali terjadi di masyarakat, khususnya di Indonesia yang beragam ini. Seperti contoh, bagaimana pengaruh mad dan qashar terhadap makna ayat al-Qur’an, dengan begitu maka akan diperoleh poin-poin penting sebagai suatu kesimpulan apa manfaat dari mempelajari ilmu qira’at. Wallahhu a’lam.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top