Sedang Membaca
Merayakan Nadran Pesisiran dalam Kebersamaan
Arul Rachman
Penulis Kolom

Mahasiswa. Instagram @arulrf_ Facebook Arul Rachman Faruqhy

Merayakan Nadran Pesisiran dalam Kebersamaan

Nadran Cirebon

Pengantar: Komunitas Generasi Literat yang didirikan oleh aktivis perempuan Milastri Muzakkar menginisiasi kegiatan #MerayakanMerdekaDariRumah. Proyek ini mengajak anak muda dari berbagai daerah untuk menggali kembali dan menuliskan nilai-nilai persatuan dalam kearifan lokal di berbagai daerah di Indonesia, yang sangat penting untuk dipraktekkan di masa pandemi.  Karena itu,  mereka disebut “Guide (virtual) Indonesia”, yang mengajak para pembaca untuk berwisata ke berbagai daerah. Generasi Literat memilih cara ini untuk merayakan merdeka dari rumah sebab kegiatan ini memiliki dua kekuatan: anak muda dan kearifan lokal. Keduanya adalah modal besar yang dimiliki Indonesia sebagai bangsa yang beradab dan maju. Untuk itu, mulai Minggu, 16 Agustus 2020 hingga sepuluh hari ke depan, alif.id akan memuat karya para Guide (virtual) Indonesia Generasi Literat. Dirgahayu Republik Indonesia. Salam literasi.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman dan kearifan lokal yang hadir dalam beragram tradisinya. Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa dan kehidupan masyarakat pendukungnya,  yang diwariskan secara turun temurun melalui cerita dari satu orang ke orang lainnya.

Di pesisir utara pantai Pulau Jawa, seperti Cirebon, Indramayu, dan Subang, terdapat sebuah tradisi  yang biasa disebut “nadran”.  Nadran juga dikenal dengan sebutan pesta laut, sedekah laut, sedekah bumi, upacara buang saji, dan labuh saji.

Baca juga:  Ilmuwan Besar dalam Dunia Islam (9): Ilmu-ilmu Keislaman yang Menggunakan Sains

Sebenarnya, upacara ini merupakan tradisi hasil akulturasi kebudayaan Islam dan Hindu yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Persebarannya meluas hingga masyarakat pesisir laut utara Kabupaten Cirebon, yang dilaksanakan satu kali dalam setahun, dan berlangsung selama satu minggu penuh.

Menurut sejarah masyarakat Cirebon, upacara tradisi nadran dibagi dalam dua periode, yaitu periode pra Islam dan periode saat Islam datang.

Pada periode pra Islam, upacara tradisi nadran disebut  sesebaan, yaitu segala sesuatu yang diperuntukkan pada kekuatan spiritual, yang ditujukan kepada alam. Ketika agama Hindu dan Budha masuk ke Pulau Jawa, masyarakat mulai meyakini bahwa Sanghyang Jagat Batara dan Dewa Baruna adalah pemilik kekuatan di lautan, maka mereka melakukan persembahan sebagai ungkapan syukur kepada pemilik kekuatan tersebut.

Memasuki periode Islam yang dipelopori oleh Wali Songo, nama yang sebelumnya sesebaan diubah menjadi nadran (nadranan) oleh Sunan Gunung Jati. Kata nadran berasal dari bahasa Arab, yaitu nazar yang berarti janji (penepatan janji), atau rasa syukur. Janji atau rasa syukur masyarakat pesisir Cirebon atas rezeki yang telah dilimpahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada mereka melalui perantara lautan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Seiring berjalannya waktu, penyebaran Islam di Pulau Jawa oleh Wali Songo membuat perubahan terhadap pelaksanaan upacara tradisi nadran, yang dilakukan sesuai syariat Islam. Tujuannya untuk memperkenalkan agama Islam dan mengajak masyarakat Indonesia menganut ajarannya secara perlahan.

Baca juga:  Sabilul Muhtaj: Syarah Berbahasa Jawa al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah Karangan Kiai Anwar Mertapada Cirebon (1860)

Adapun inti dari upacara nadran adalah mempersembahkan sesaji (yang merupakan ritual dalam agama Hindu untuk menghormati roh leluhurnya) kepada penguasa laut, agar diberi hasil laut yang berlimpah, sekaligus sebagai ritual tolak bala (keselamatan).

Sesajen yang diberikan disebut ancak, yang merupakan anjungan berbentuk replika perahu berisi kepala kerbau berbalut kain putih, kembang tujuh rupa, buah-buahan, dan lain sebagainya. Selain itu, dalam upacara ini juga disediakan nasi tumpeng dan lauk pauk yang melimpah.

Sebelum ancak dilepaskan ke laut, terlebih dahulu diarak mengelilingi tempat-tempat yang telah ditentukan sambil diiringi berbagai suguhan seni tradisional, seperti tarling, genjring, barongsai, telik sandi, jangkungan, atau seni kontemporer (drumband). Sedangkan nasi tumpeng dan lauk pauk lainnya dibagikan kepada masyarakat sekitar, yang biasa disebut dengan bancakan atau berkat. Setiap perayaan upacara nadran, selalu digelar wayang kulit selama 1 minggu.

Tradisi ini memiliki landasan filosofis yang berakar dari keyakinan beragama, dan nilai-nilai budaya lokal yang dianut oleh masyarakat setempat, yaitu sebagai salah satu cara bagi para nelayan untuk mengungkapkan rasa syukur pada Tuhan pencipta alam.

Kebudayaan nadran atau pesta laut ini bukan hanya dilakukan masyarakat pesisir kota Indramayu, tetapi juga dilaksanakan oleh masyarakat pesisir yang ada di daerah Cilincing (Jakarta Utara), Tangerang Banten, Pameungpeuk (Garut). Memang umumnya, ritual ini adalah tradisi masyarakat pesisir pantai, sebagai proses mewujudkan takwa sesuai tuntunan agama. Akan tetapi, masyarakat pedalaman pun melakukannya, dengan sebutan nyadran, merti bumi, sedekah bumi. Intinya, sama.

Baca juga:  Baukup dan Air Daun Sirih, Obat Kampung dari Maluku

Siapapun boleh ikut memeriahkan perayaan tersebut tanpa melihat latar belakang (usia, agama, suku, jenis kelamin, dan lainnya). Oleh karena itu, pesta laut ini sangat penting untuk dilestarikan, karena memiliki keunikan dan tujuan yang baik.

Dari penjabaran di atas, ternyata upacara tradisi nadran memiliki nilai-nilai filosofis yang luar biasa, yang sejalan dengan  ideologi Pancasila. Nilai-nilai yang dapat kita ambil adalah solidaritas, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri,  semangat kebangsaan, cinta tanah air, cinta damai, peduli lingkungan, tanggung jawab sosial dan aspek religius, yang tertuang dalam bentuk tari-tarian, nyanyian, dan doa-doa yang merupakan bagian dari tradisi.

Nah, karakter dan watak warga desa pesisir yang dikenal keras, ternyata dapat dilunakkan melalui upacara ini. Terbukti pelaksanaannya mampu meningkatkan persaudaraan antar warga desa.

Kita juga dapat menerapkan nilai-nilai tradisi di atas dalam menghadapi situasi pandemi saat ini. Dengan senantiasa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbagi dan saling tolong menolong antar sesama, kita akan  lebih kuat melewati pandemi  ini. Semoga.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top