Memaafkan Abu Bakar Ba’asyir

Andi Setiono Mangoenprasodjo

Rekonsiliasi itu mahal, sangat mahal. Memaafkan sedikit lebih murah, tapi juga sulit! Saat Ba’asyir baru akan dibebaskan, muncul banyak sekali reaksi sangat keras. Saya sangat memahami kekecewaan itu, terutama teman-teman saya di Bali.

Mereka, teman-teman di Bali, pasti sangat sulit memahami. Bagaimana mungkin inspirator pengemboman yang menewaskan lebih 200 orang lebih dibebaskan oleh alasan-alasan yang sebetapa pun dibalut oleh alasan kemanusiaan.

Tetap saja terasa janggal, di mata para korbannya. Bagaimana Bali untuk sekian lama, harus terpuruk ditinggalkan para wisatawan. Ekonomi yang semula bergairah, menjadi lesu dan kuyu. Bahwa Bali kemudian bangkit lagi, orang dengan mudah berbicara ya karena Bali memang tak tergantikan dan tak ada duanya! Tak ada destinasi wisata sedahsyat, seindah dan sekultural Bali.

Tapi bukan (hanya) dari sisi itu istimewanya. Akibat peristiwa tesebut: orang Bali justru berkesempatan menata dirinya, menguatkan lagi keimanannya, berpikir ulang tentang budayanya yang sempat terbawa arus komersialisasi tanpa kendali. Apakah mereka mendendam pada orang Islam?

Mereka justru contoh yang baik yang bisa dengan mudah membedakan mana Islam yang baik, mana yang bukan. Mana Islam asli dengan yang palsu. Mana Islam teroris, dengan yang rahmatan lil alamin. Orang Bali dengan cepat belajar dari banyak hal, tetap ramah dan terbuka tapi makin waspada.

Baca juga:  Perempuan-Perempuan Bercadar itu (3)

Saya pikir, Bali adalah satu-satunya wilayah paling siap merdeka dari Indonesia, setiap saat mereka mau. Mereka mandiri secara ekonomi, memiliki kulitas SDM yang merata, tak ringkas tak terlalu besar, dan tentu saja memiliki suporter global yang tak alang banyaknya.

Nyatanya toh hingga hari ini masih bagian dari NKRI. Bali tidak butuh Indonesia, Indonesia-lah yang sangat butuh Bali! “I lop you pul, Bali…”

Apa hubungannya dengan Ba’asyir? Jokowi dengan mudah dan pasti dianggap tidak mempertimbangkan perasaan saudara-saudara kita dari Bali….Tapi benarkah demikian?

Di mata sebagian orang, Ba’asyir itu tahanan politik. Ia tidak pernah secara langsung dianggap sebagai pelaku terorisme. Kesalahan terbesarnya, ia dianggap anti-Pancasila, hal yang makin ia kuatkan ketika akan dibebaskan tetap tidak mau mengakui Pancasila dan bersedia setia dan hormat pada NKRI.

Hal yang di hari-hal ini menjadi sangat biasa, yang saya pikir bukan hal yang sangat mewah dan istimewa lagi. Bagian paling berat dari Ba’asyir adalah ia dianggap sebagai “titipan” Amerika, orang yang lebih dianggap sebagai pesanan oleh mereka.

Ia menjadi sangat berbahaya, karena intelejen Amerika selalu menjustifikasinya demikian. Dan kita tahu, kenapa baru di era SBY-lah ia ditahan dan dipenjara. Itu ironi masa SBY, ia akan menangkap siapa saja asal AS yang memesan dan menyuruhnya.

Baca juga:  Empat Tingkatan Puasa: dari Fikih ke Tasawuf

Tapi ia memelihara dan membiarkan terus gerombolan seperti FPI, HTI, bahkan memberi tempat-tempat basah dan strategis di kabinet kepada partai seperti PKS. Hal yang sangat dikoreksi dan tampak sangat steril di masa Jokowi, hingga ia sangat mudah difitnah sebagai anti Islam, tukang mengkriminalisasi ulama, antek aseng dan dan seabrek cemooh lainnya..

Persoalan Ba’asyir itu lebih kepada hal-hal yang bersifat ideologis, yang itu lintas negara. Bukan melulu Indonesia, tapi telah menjadi hal yang sangat global. Sesuatu yang sangat global itu hari ini harus dipahami sebagai hal yang common sense, common concern.

Baca Juga

Lihat saja, perilaku AS hari ini. Ketika ia tidak resek ngurusi negara orang, aksi terorisme justru susut secara drastis. Mereka lagi sibuk menghadapi orang miskin dari luar tembok wilayahnya, dan membela warganya yang makin lemah tapi masih bergaya serakah dan ingin selalu tampak wah. Bagi saya asyik sekali melihat orang hibuk bangun tembok, sejenak lupa pada ke-super power-annya.

Ba’asyir itu lebih pada beban negara, slilit dalam pemerintahan. Ia besar dalam kekerdilannya. Ia tersohor dalam kesepiannya. Dan yang jelas ia sakit-sakitan dalam masa tuanya. Memahami Jokowi itu juga tidak semudah menikmati Markobar produksi anaknya.

Baca juga:  Syair Using Mengenang Letusan Gunung Agung

Saya hanya memahami: sebagai orang Sala ia membebaskan orang Sala yang lainnya. Saya melihat Jokowi melakukannya tidak dengan mudah, ia kehilangan kata-kata.

Lebih dari siapa pun, tentu ia paling mengenal siapa itu Ba’asyir, ia adalah warganya sendiri. Ia paling tahu, orang inilah yang merubah wajah ramah kota kelahirannya. Ia sebagaimana dulu Habibie melepaskan Timor Timur. Sakit tapi selesai!

Bagi saya memahaminya mudah saja: orang tua (apalagi sudah buyuten) memang seharusnya ada di rumah, dekat anak istrinya. Bayangkan,bila ia harus dijemput ajal di dalam penjara. Sesuatu yang akan abadi dipolitisir untuk kepentingan yang justru akan terus menerus merongrong siapa pun yang akan memerintah negeri ini.

Berbesar hatilah. Memafkankan itu sekali lagi memang mahal harganya. Tapi pahamilah, waktu untuknya memang tak lama lagi….

Lihat Komentar (0)

Komentari