Sedang Membaca
Bagaimana Saya yang Katolik Memandang Terorisme?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Bagaimana Saya yang Katolik Memandang Terorisme?

Avatar

Teman saya, seorang NU tulen bertanya kepadaku sesaat setelah ada ledakan bom di Surabaya kemarin (tadi malam dan pagi tadi bom meledak lagi di Surabaya), “Pri, itu kalau ada bom di gereja gini sikap kalian sebagai sasaran dan korban langsung gimana sih?”

Agak kaget juga saya, sebagai umat Katolik, mendapat pertanyaan seperti itu. Pertanyaan sederhana tapi tatap mata teman saya itu mengharapkan jawaban yang serius.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Sejauh yang saya tahu, setiap ada peristiwa teror di gereja, lantas para pastor mengimbau untuk tidak takut, tidak menyebarkan Foto foto hasil teror, mengimbau tidak menyebarkan berita simpang siur setelah teror dan kemudian meminta kami untuk mengampuni dengan mendoakan para korban dan pelaku teror. Lantas menyerahkan penanganannya kepada pihak berwajib. Tanpa ada informasi lanjutan apakah teror itu diselesaikan atau tidak,” saya menjawab seperti itu.

Lantas saya bercerita tentang pesan-pesan “kecil” di grup-grup WA: ketika ada yang share berita tentang teror di group-group teman-teman yang seiman selalu ada yang mencela, eh berita seperti ini, Foto-foto seperti ini jangan di-share dong. Kalau di-share berarti teroris menang dan berhasil.

Pertanyaan lanjutan dari teman saya yang lebih tampak sebagai pernyataan:

“Ada tidak teman-teman Katolik yang punya inisiatif membuat maping tentang teror-teror selama ini dan bagaimana akhir cerita dari setiap peristiwa? Ada tidak teman Katolik yang mencatat dan memeriksa komentar dukungan kepada para teroris setelah mereka melakukan aksi di media sosial, Twitter, Facebook, WA, IG, dll, kemudian mengumpulkan bukti-bukti dukungan itu dan membuat tracking setiap orang yang mendukung itu sampai tahu aktivitasnya?”

Baca juga:  Menyelami "Diamnya" Kiai Sahal

Saya terdiam karena saya tidak tahu apakah sudah ada di pihak keuskupan yang dapat menjawab pertanyaan teman saya yang NU itu, atau setidaknya ada orang lain yang pernah melakukannya.  Tapi dari pernyataan itu saya paham, bahwa teman saya mengajak kami, teman-teman Katolik lebih aktif melawan Teror.

Belakangan ini saya merasakan bahwa ada perubahan perilaku politik yang berpengaruh terhadap sendi-sendi sosial di masyarakat. Banyak di antara kami sebenarnya takut. Ya takut, sekaligus curiga dengan lingkungan di sekitar kami sendiri. Takut dengan semakin banyaknya sikap intoleran yang berkembang baik sosial media hingga berdampak langsung dalam kehidupan sehari hari. Akibat kepentingan politik yang dibungkus rapi dengan sampul agama. Ini membuat anak-anak kami tidak leluasa bergaul di tengah masyarakat.

“Kamu anak Kristen jangan bermain dengan kami,” kalimat yang dulu mustahil kami dengar kini diceritakan anak-anak kami. Rasa takut itulah yang mendorong kami selalu mengalah dan mencari posisi aman ketika diminta lebih aktif merespon teror. Sikap ini memuculkan kesan bahwa kami justru sedang berlindung di kawan-kawan muslim yang sedang berjihad melawan teroris seperti NU.

Melawan teroris tidak cukup hanya dengan doa. Melawan teroris bukan berarti bertentangan dengan dengan teman-teman kita yang muslim. Teroris bukan Islam.

Para pembunuh yang keji itu menggunakan agama, menghina agama untuk merusak karya Tuhan yang paling mulia, yaitu manusia, saatnya kita bergandengan tangan yang Islam, yang Katolik, yang Kristen, yang Buddha yang Konghucu yang Hindu dan yang memiliki aliran kepercayaan lainnya untuk aktif melawan teroris yang menggunakan dalil agama apa saja, jika kita tidak melawan dan takut suatu saat kita sendirilah yang jadi korban.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Cara Gus Dur Memilih Media untuk Tulisannya

Di bawah ini adalah lagu yang setiap hari Minggu kami nyanyian di gereja untuk menjaga semangat Bineka Tunggal Ika:

Kita bhinneka, kita Indonesia…bersatu membangun bersama, kita bhinneka, kita Indonesia, mari amalkan Pancasila…
Tuhan Menciptakan kita, unik, dan berbeda-beda
beragam suku, ras, agama, dan budaya untuk bersatu menghargai sesama.
Perbedaan bukan persoalan, tapi rahmat untuk persatuan
di bawah Pancasila kita berada, Bhinneka Tunggal Ika…

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top