Sedang Membaca
Munas NU dan Negeri Indonesia yang Bahagia

Munas NU dan Negeri Indonesia yang Bahagia

Amrullah Hakim

Munas NU kemarin tidak hanya tentang terminologi kafir, non muslim, warga negara (muathinun), namun juga, di halaqah Lakpesdam NU, membahas bagaimana mengkonsep negeri kepulauan ini menjadi bangsa dan negara yang bahagia.

Forumnya bernama “Merumuskan Fiqh Kebahagiaan Menuju Indonesia Inklusif”. Pada forum ini, Gus Ulil menceritakan bagaimana evolusi pemikiran untuk mengukur kebahagiaan manusia. Dia bercerita bagaimana Kiai Sahal Mahfudz mengemukakan teori tentang “index kebahagiaan” yang didekati dengan ilmu fikih melalui Kitabul Nafakoh, tentang kewajiban suami terhadap istri sesuai dengan tingkat kekayaannya, misalnya dalam memberi makan, membelikan baju dan menyediakan kebutuhan lain.

Dia juga bercerita tentang Amartya Kumar Sen, seorang ekonom India yang menjadi terkenal karena karyanya tentang kelaparan, teori perkembangan manusia, ekonomi kesejahteraan, mekanisme dasar dari kemiskinan, dan liberalisme politik.

Amartya Sen –kadernya pujangga Tagore– ini mengembangkan teori tentang kemampuan. Menurut teorinya, orang itu akan menjadi layak atau pantas kalau di dalam dirinya ada kemampuan: kemampuan untuk berpikir dan kemampuan untuk bertindak. Hal ini sejalan dengan teori dari Ibnu Al Farabi, bahwa kebahagiaan seseorang itu berasal dari pikiran. Orang bahagia jika memiliki kemampuan yang normal yang bisa digunakan untuk menalar.

Hasil penalaran adalah hadirnya sesuatu yang dipikirkan oleh akal. Semakin banyak pikiran dan ide maka orang akan semakin kreatif dan inovatif sehingga akan makin bahagia. Syarat utama semua ini adalah sehat dan punya pendidikan dasar. Inilah hak asasi manusia modern.

Baca juga:  Tahfidzul Quran Sebagai Tradisi Menjaga Keontetikan Alquran

Menurut PBB, negara paling bahagia di tahun 2018 adalah Finlandia. Dari majalah The Economist yang saya baca pada edisi Maret 2018, laporan tingkat kebahagiaan negara tahun 2018 termasuk mengukur kebahagiaan imigran. Ini hal yang pertama kali dilakukan, dan Finlandia berada di ranking teratas untuk kategori ini. Bisa jadi ini karena kenyataan bahwa imigran di Finlandia cenderung berasal dari tempat yang secara budaya tidak jauh berbeda. Inti dari sini adalah tolak ukur masyarakat yang bahagia adalah dukungan sistem dan institusi sosial yang baik.

Di Finlandia, pendidikan gratis, cuti untuk orang tua banyak dan mereka memiliki keseimbangan kehidupan kerja yang sehat sehingga orang memiliki waktu dan sarana untuk mengejar kesenangan mereka, sesederhana apapun bentuk kesenangan itu. Lebih dari 80% orang Finlandia mempercayai sistem kepolisian, pendidikan, dan perawatan kesehatan negara.

Dengan sistem perpajakan progresif dan redistribusi kekayaan, gaya hidup orang kaya dan miskin tidak berbeda jauh. Baik pria dan wanita. Finlandia secara luas dianggap sebagai salah satu tempat terbaik di dunia untuk menjadi seorang ibu, dan menjadi wanita yang bekerja.

Sebaliknya di China, negara tersukses secara ekonomi, menduduki peringkat ke 86. Di edisi 16 Februari 2019, The Economist menceritakan bahwa konsumsi batubara yang mengakibatkan polusi udara, harga rumah, GDP per orang, harapan hidup sehat, kebebasan berpikir, korupsi di China menunjukkan bahwa orang China tidak makin bahagia walaupun secara ekonomi negara lebih baik.

Baca juga:  Tafsir Kerinduan (Bagian 2)

Hal yang lebih menunjukkan ketidakbahagiaan orang China adalah dukungan sosial yang sangat rendah, terutama untuk orang yang berurbanisasi ke kota untuk bekerja, akses pendidikan dasar yang tidak setara, juga akses pelayanan umum yang tidak memadai.

Baca juga:

Indonesia sendiri berada di peringkat 96, lebih rendah 10 dibandingkan China. Bangsa Indonesia perlu terus menciptakan kebahagiaannya sendiri. Inilah mungkin yang menjadi dasar NU untuk memasukkan isu kebahagiaan di dalam Munas kali ini. NU berkepentingan untuk menaikkan peringkat kebahagiaan Indonesia ke taraf yang lebih tinggi.

Baca Juga

Menurut Gus Ulil, dimulai dari identitas muslim di NU, muslim di Indonesia, harus mulai bertransformasi menjadi muslim yang baik, yang jika diperbanyak jumlahnya maka masyarakat akan bahagia. Bangsa Indonesia akan lebih bahagia. Ada 3 hal yang harus diperhatikan untuk memulai hal ini, yakni:

  1. Muslim Indonesia harus memiliki komitmen yang tinggi terhadap iman dan ajaran agama.
  2. Muslim Indonesia harus bisa menerima keberadaan orang lain, apapun identitasnya. Ditegaskan oleh Gus Ulil, rahmat Allah Swt itu inklusif, semua manusia, tanpa terkecuali oleh Allah SWT dikasih makan, nafas dan segala macam.
  3. Muslim Indonesia harus mengikuti aturan/adat istiadat di masyarakat/negara/perusahaannya asal tidak melanggar ajaran agamanya.
Baca juga:  Menyingkap Jadzab

Manusia bahagia menurut Ibnu Arabi yang dipaparkan oleh Gus Ulil adalah manusia yang mengerti kapan dia hidup, di zaman apa dia hidup. Dia mengerti tentang jaman, hukum yang berlaku, adat istiadat, kebudayaan, sistem politik dan sosial yang ada saat ini.

Saya kira kita memiliki dasar yang sangat kuat untuk menjadi bangsa yang bahagia asal kita mengikuti tiga poin di atas, karena bahagia itu “sederhana”.

Orang Finlandia mendefinisikan bahagia adalah tinggal di gubuk dan punya ladang kentang untuk makan sehari-hari, saja. Itu Finlandia yang kebanyakan penduduknya non-muslim. Di Indonesia, yang mayoritas muslim yang penuh dengan ajaran kebahagiaan, apapun yang kita tanam bisa kita makan. Dan kita punya budaya silaturahim sambil ngopi bareng. Dan itu bisa bergantian. Ini sudah masuk ke tingkat bahagia yang tertinggi sebenarnya. Jangan lupakan itu, mari kita sering-sering mengunjungi saudara,teman kita dan kita ajak ngopi bareng.

Lebih dari itu, di Jakarta misalnya, yang katanya berat ini, orang punya uang 50 ribu, bisa mentraktir seorang temannya makan pecel lele, mie ayam, bahkan sate ayam. Jika makannya di Warteg atau angkringan ala Jogja, uang 50 ribu bisa buat bertiga dengan mengambil makanan lebih leluasa. Sistem warung makan kita, adalah sistem solidaritas sosial yang tak ternilai harganya.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top